Siaran Pers KemenristekBRIN
Nomor : 232/SP/HM/BKKP/X/2019

Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mendorong mahasiswa untuk mencapai mimpi Indonesia maju pada 2045 (Kemerdekaan Indonesia ke Seratus Tahun) dengan toleransi aktif, kohesivitas (kebersamaan), dan usaha kreatif inovatif. Paling tidak ketiga hal tersebut dibutuhkan agar Indonesia maju dalam penguasaan teknologi.

“Pesan saya sebagai generasi tua kepada Anda para mahasiswa, pentingnya toleransi aktif,” ungkap Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro saat Pembekalan Pancasila dan Wawasan Keindonesiaan dari Tokoh dan Pemimpin Nasional Indonesia dalam rangka merayakan Hari Sumpah Pemuda 2019 pada Selasa (29/10) di Auditorium BPPT II, Jakarta.

Menristek mengungkapkan kepada ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Jabodetabek bahwa toleransi aktif berbeda dengan toleransi pada umumnya yang bersifat pasif.

“Kita merasa kalau tidak diganggu, saya juga tidak akan mengganggu. Atau saya tidak akan bereaksi kalau saya tidak diganggu. Itu toleransi yang sifatnya pasif. Toleransi aktif adalah Anda selalu berusaha di komunitas Anda, di kelas Anda, di kuliah, sampai di angkatan Anda, sampai di komunitas tempat tinggal, tempat kos, selalu berupaya menumbuhkan sikap toleransi. Kalau melihat ada teman yang barangkali kurang toleran, tolong diingatkan, tolong diajak supaya mereka lebih toleran,” ungkap Menteri Bambang Brodjonegoro.

Menristek menjelaskan toleransi aktif ini penting sebagai landasan Indonesia menjadi negara maju karena toleransi aktif akan membuat semua orang punya kesempatan yang setara untuk mencapai mimpinya.

“Kalau Anda mengedepankan toleransi berdasarkan kesetaraan, maka kita semua sebenarnya akan meletakkan negara ini menjadi negara maju,” ungkap Bambang Brodjonegoro.

Jika semua mahasiswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk bermimpi, setiap mahasiswa akan lebih mudah untuk diajak dalam kohesitivas atau kebersamaan menuju mimpi Indonesia maju, demikian ungkap Bambang Brodjonegoro.

“Generasi Anda sudah harus berpikir apa mimpi Indonesia. Kalau saya ingin memberikan masukan, mimpi Indonesia paling tidak (menjadi) negara maju ketika kita merayakan seratus tahun kemerdekaan. Dan tentunya mimpi tadi atau upaya kita untuk membuat Indonesia menjadi negara maju harus diperkuat dengan kohesivitas sosial,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Selain mengajak mahasiswa untuk bekerja sama mencapai kemajuan Indonesia, Menristek juga mengajak mahasiswa mengubah paradigma dari mahasiswa yang hanya rajin dan tekun menjadi mahasiswa yang kreatif dan inovatif.

“Anda harus ikut terlibat dalam industry 4.0 sebagai sumber daya kreatif inovatif. Ini yang saya harapkan mulai berubah. Terus terang selama masa kami kuliah (dulu), kata kreatif inovatif itu belum menjadi jargon, belum menjadi key words, tapi untuk generasi Anda kreatif inovatif itu harus menjadi kata kunci, maksudnya hanya mahasiswa yang kreatif inovatif lah yang nantinya akan sukses,” ungkap Bambang Brodjonegoro.

Menristek juga juga mengajak para orang tua untuk membuka diri dan mendorong anak mereka mencari peluang kesuksesan melalui ide-ide baru.

“Kalau di zaman saya dulu, mungkin kata yang penting adalah rajin belajar kemudian tekun. Itu kata sifat yang selalu ditanamkan orang tua kepada mahasiswa, tapi sekarang orang tua pun juga harus cerita ke anaknya kamu harus jadi kreatif inovatif kalau mau sukses,” harap Menristek/Kepala BRIN.

Dalam kesempatan ini turut hadir Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Basarah, Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Hariyono, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ismunandar, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Nada Darmiyanti Sriwijaningrum, serta ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Jabodetabek.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN