Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor : 253/SP/HM/BKKP/XI/2019

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengungkapkan Indonesia cepat atau lambat pasti akan membangun tenaga nuklir karena saat ini Indonesia sedang mengembangkan banyak industri yang memerlukan konsumsi listrik dalam daya tinggi, termasuk smelter yang digunakan industri untuk memurnikan logam.

“Smelter itu pada intinya butuh listrik skala besar dan kalau dalam skala besar, harganya tidak mungkin mahal, karena nanti industri smelter menjadi tidak berjalan. Listrik itu harganya harus relatif terjangkau oleh masyarakat. Di sinilah energi nuklir bisa masuk, menjawab kebutuhan listriknya dan biaya ekonomisnya,” ungkap Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro saat menjadi pembicara pada “Seminar Sehari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, Sebuah Keniscayaan” di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Depok pada Rabu (13/11)

Menteri Bambang Brodjonegoro mengungkapkan masih ada beberapa kalangan yang belum percaya Indonesia sudah menguasai teknologi nuklir untuk maksud damai, menjalankan operasional teknologi nuklir, dan menjaga reaktor nuklir untuk penelitian dan pengembangan tersebut, sehingga dapat dikatakan Indonesia sudah sangat siap mempunyai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

“Bagaimanapun masyarakat awam itu pada umumnya bertindak atau bereaksi karena persepsi, belum tentu mereka memahami kondisi yang real. Mungkin mereka belum pernah lihat kondisi di reaktor nuklir untuk litbang yang dipunyai oleh BATAN sebenarnya seperti apa,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Bambang Brodjonegoro mengungkapkan Indonesia selama ini sudah memiliki tiga reaktor nuklir untuk penelitian dan pengembangan, yang masih aktif dan tidak pernah terjadi kecelakaan karena prosedur keamanannya sangat ketat, tidak hanya dikontrol oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), namun juga diawasi langsung oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan Badan Internasional Energi Atom (the International Atomic Energy Agency – IAEA). Ketiga reaktor tersebut terletak di Serpong (Tangerang Selatan), Bandung, dan Yogyakarta.

“Untuk masuk ke reaktor penelitian dan pengembangan teknologi nuklir untuk maksud damai itu, memang keamanannya sangat ketat, karena memang mengikuti prosedur yang berlaku di seluruh dunia. Hal ini justru membuktikan bahwa Indonesia sangat siap untuk membangun PLTN di masa yang akan datang, untuk menjawab kebutuhan energi di Indonesia”, ungkap Menteri Bambang.

Kemenristek/BRIN mengamanahkan kepada BATAN dan BAPETEN untuk lebih gencar mensosialisasikan dan membuat masyarakat mengerti tentang manfaat nuklir serta keamannanya, sehingga mereka tidak terpengaruh oleh persepsi maupun “hoax” tentang isu negatif dari PLTN. Meskipun berdasarkan survey yang telah dilakukan tingkat keberterimaan masyarakat atas nuklir semakin membaik dari tahun ke tahun, namun tetap masih perlu ditingkatkan sehingga yang kontra di bawah sepuluh persen.

“Yang lebih penting adalah BATAN dan BAPETEN perlu mensosialisasikan terus menerus kepada (i) masyarakat awam dan (ii) masyarakat yang kontra atau yang anti tenaga nuklir. Kadang-kadang kontra atau anti terhadap sesuatu itu terjadi karena disinformasi, karena informasi yang kurang lengkap atau informasi yang diterima salah (hoax). Sehingga informasi salah yang di terima masyarakat dapat menjadi ” misleading ” dan membentuk opini masyarakat yang keliru”, ungkap Bambang Brodjonegoro.

Menristek/Kepala BRIN mengungkapkan bahwa di negara-negara industri sudah lama mempercayakan tenaga nuklir sebagai salah satu alternatif sumber listriknya. Indonesia dapat bertukar standar keamanan, kompetensi, dan teknologi dengan negara-negara tersebut, selain juga melalui Badan Internasional Energi Atom (the International Atomic Energy Agency – IAEA), dimana Indonesia menjadi anggotanya.

“China pun sudah mulai mengarah ke nuklir. Perancis pun sudah seperti itu di Eropa. Jepang juga meskipun Fukushima sempat ada gonjang-ganjing, tapi mereka tetap lanjut dengan teknologi nuklir. Di Korea Selatan ada sekitar dua puluh tiga PLTN yang mereka sudah punya,” ungkap Menristek/Kepala BRIN. Indonesia sangat mengharapkan bahwa PLTN akan digunakan sebagai salah satu alternatif untuk memproduksi sumber daya energi di masa depan.

Turut hadir dalam kesempatan ini Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Abdul Haris, Ketua Ikatan Alumni (ILUNI) FMIPA UI Pamela Cardinale, serta para guru besar, dosen, mahasiswa, dan mahasiswi Universitas Indonesia.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN