Siaran Pers KemenristekBRIN
Nomor : 233/SP/HM/BKKP/X/2019

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) / Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro mengundang pimpinan eksekutif atau chief executive officer (CEO) dari lima perusahaan berbasis teknologi dan tujuh perusahaan investasi atau venture capital (VC) dalam negeri. Mereka diundang Menristek/Kepala BRIN untuk memberikan saran terkait program percepatan (quick win) yang diperlukan Kemenristek/BRIN untuk meningkatkan kompetisi Indonesia dalam bidang teknologi dalam rangka meningkatkan pertumbuhan  ekonomi.

“Pada kesempatan siang ini kami lebih pada posisi mendengarkan bagaimana kira-kira kami dari pihak pemerintah dapat bersinergi dengan pelaku bisnis, termasuk  memfasilitasi inovasi yang lebih besar untuk memajukan  Indonesia, berupa program-program percepatan  (quick win),” ungkap Menteri Riset dan Teknologi / Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro di hadapan pimpinan enam perusahaan teknologi dan sembilan venture capital asal Indonesia di Gedung BPPT II, Jakarta pada Selasa (29/10).

Turut hadir dalam kesempatan ini CEO BUKALAPAK Achmad Zaky, Co-CEO Gojek Andre Sulistyo, CEO Bubu Shinta Danuwardoyo, Co Founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison, dan Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata. Sedangkan dari perusahaan venture capital turut hadir Martin Hartono dari Djarum, Patrick Walujo dari Northstar, Abraham Hidayat dari Skystar Ventures, Sebastian Togelang dari Kejora Ventures, Melisa Irene dari East Venture, Jefrey Joe dari Alpha JWC Venture, dan Anthony LimGDP Venture.

Menristek/Kepala BRIN mengungkapkan program ‘quick win’ diperlukan untuk mendorong inovasi yang mungkin masih menjadi kelemahan Indonesia dalam pengembangan ekonomi nasional.

“Mengapa program _quick win_  harus dilaksanakan, karena kita lihat ranking _Global Competitiveness Index_ Indonesia, yang menurun dari yang pernah paling tinggi 36, belakangan ini  terakhir 50. Salah satu faktor yang dianggap tertinggal di Indonesia itu adalah di parameter inovasi. Rankingnya relatif rendah, berarti kita perlu mengidentifikasi program-program _quick win_ untuk memacu ranking  inovasi agar lebih besar,  sehingga nantinya bisa membantu ranking dari daya saing Indonesia sendiri,” harap Menristek  Bambang Brodjonegoro.

Menristek/Kepala BRIN juga mengungkapkan program _quick win_ ini juga diharapkan dapat menciptakan lebih banyak perusahaan pemula (startup) berbasis teknologi menjadi unicorn yang bervaluasi lebih dari satu miliar Dollar Amerika Serikat.

“Kami juga berkepentingan untuk melahirkan lebih banyak startup yang berbasis teknologi atau ‘technopreneurs’,” ungkap Bambang Brodjonegoro.

Beberapa masukan dari para CEO antara lain adalah:

– Match making (matching) program antara kebutuhan industri dan produk-produk inovasi yang dihasilkan peneliti dan perekayasa dari kalangan akademisi. Institusi litbangrep harus saling mengisi. Jangan sampai di masa yang akan datang Indonesia hanya menjadi market dunia, tetapi harus mampu menjadi produsen produk-produk inovasi untuk memenuhi kebutuhan lokal dan dunia.

– Penciptaan program kolaborasi antara institusi litbang pemerintah dan/atau  pendidikan tinggi dengan pihak swasta. Beberapa CEO dari perusahaan teknologi, seperti Tokopedia telah mempunyai kolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI) antara lain dalam Research on Big Data.

– Penerapan dan pemantapan konsep Triple Helix yang sekarang telah berkembang menjadi Penta Helix (Academicians – Business – Government – Community – Media), harus terus menerus dipelihara untuk menjaga ekosistem pengembangan ristek dan inovasi di Indonesia.

– Perubahan mind set kurikulum program pendidikan yang mengarah pada ‘problem solving (pemecahan masalah)’, ketimbang hanya pasif dan menerima masukan searah, juga perlu di evaluasi, karena pemikiran kritis ke arah inovasi harus dibiasakan sejak usia dini.

– Evaluasi terhadap metode reverse engineering (bermula dari akhir) dalam berinovasi. Dalam proses produksi, inovasi harus mulai digalakkan kembali. Jadi penciptaan inovasi tidak harus dimulai dari ‘scratch’ atau nol, tetapi harus dimulai dari akhir maupun dari tengah proses produksi dengan intervensi baru sehingga.menghasilkan produk-produk inovasi.

– Sharing pengalaman dari CEO perusahaan besar dunia, seperti Google maupun Amazone perlu juga dilakukan agar dapat menginspirasi millenials muda Indonesia untuk berkarir dalam pengembangan ‘Innovative Business’.

– Evaluasi dan optimalisasi pogram-program diaspora juga harus dilakukan secara maksimal, sehingga Indonesia dapat memaksimalkan kan para diaspora karena brain circulation tetap akan bermanfaat bagi pengembangan inovasi di Indonesia. Istilah ‘brain drain’ mungkin sudah mulai ditinggalkan, karena beberapa negara seperti India dan Tiongkok bahkan memanfaatkan jaringan diasporanya di luar negeri untuk kontribusi program pembangunan ekonomi negaranya.

– Identifikasi regulasi dan deregulasi peraturan yang menghambat perkembangan bisnis yang terkait dengan proses produksi dan inovasi juga perlu dilakukan.

– Pemutakhiran database pelaku startup di Indonesia perlu terus menerus dilakukan karena kemudahan akses untuk mendapatkan data tersebut menjadi perhatian dari kalangan pelaku bisnis di Indonesia.

Menristek/Kepala BRIN Bambang sangat mengapresiasi semua masukan positif dari para venture capitals dan CEO perusahaan teknologi atau technoentrepreneurs, dan menjanjikan pertemuan berkala harus sering dilakukan untuk menjawab tantangan global yang bergerak dinamis dan cepat.

Dalam pertemuan turut hadir Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe, Direktur Sistem Inovasi Industri Santoso, Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Retno Sumekar, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Nada Marsudi, Staf Khusus Menristek Bidang Media Danang Rizki Ginanjar, serta CEO dan perwakilan dari lima perusahaan teknologi dan tujuh perusahaan venture capital.

Allen Relyan Wijaya dan Tri Sundari
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN