Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor : 269/SP/HM/BKKP/XI/2019

Jakarta – Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan dalam persaingan kendaraan listrik global, Indonesia akan memulai usaha pengembangan kendaraan listrik dari sepeda motor listrik (GESITS) dan baterai listrik. Menteri Bambang memiliki target Indonesia mampu memproduksi dua juta motor listrik pada tahun 2025. Prioritas ini sesuai dengan kebutuhan kendaraan di tengah masyarakat. Berdasarkan data BPS, perkembangan jumlah sepeda motor di Indonesia tahun 2017 mencapai 113 juta kendaraan, jauh diatas mobil di angka 15 juta kendaraan.

“Sebagaimana yang kita tahu, Indonesia mengkonsumsi sepeda motor lebih banyak daripada mobil. Ini berarti kita perlu fokuskan kendaraan listrik pada motor listrik. Target pada 2025 lebih dari dua juta dan pada 2050 tiga belas juta (motor listrik), jadi semuanya harus disiapkan,” ungkap Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat menjadi pembicara utama pada ‘Electric Vehicles Indonesia Forum and Exhibition yang diadakan’ oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) di The Tribrata di Kebayoran Baru, Jakarta pada Rabu (27/11).

Menristek/Kepala BRIN mengungkapkan Indonesia saat ini sudah memiliki motor listrik GESITS yang dikembangkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). GESITS saat ini sudah dapat dipesan masyarakat dan menjadi bukti pengembangan kendaraan listrik dalam negeri.

“ Dalam bersaing dengan negara lain di sektor kendaraan listrik, Indonesia tidak harus memulai dari kendaraan listrik berbentuk mobil pribadi, walaupun Indonesia akan tetap menuju ke sana. Target kami untuk kendaraan mobil listrik pada 2025 hanya 2.200 kendaraan, tapi pada 2050 diharapkan bisa lebih dari empat juta kendaraan. Tentu saja ini ambisius, tapi ada kompetisi saat ini pada revolusi industri keempat, kita perlu ada ‘lompatan katak’, “ jelas Bambang.

Menteri Bambang menjelaskan agar Indonesia dapat bersaing di persaingan industri kendaraan listrik global, salah satu kuncinya adalah dengan menciptakan ekosistem yang baik bagi pengembangan kendaraan listrik, mulai dari regulasi yang mendukung bagi iklim kendaraan listrik, riset dan inovasi kendaraan listrik, ‘grand design’ pengembangan kendaraan listrik hingga hilirisasi di dunia industri (Triple Helix). Pengembangan industry kendaraan listrik harus bersifat menyeluruh, tidak hanya produk akhir berupa motor atau mobil listrik, namun juga komponen-komponen penting bagi kendaraan listrik. Lompatan yang diambil Pemerintah dimulai dari suku cadang dan baterai karena semua kendaraan listrik di Indonesia dan luar negeri pasti membutuhkan suku cadang dan baterai.

“Tidak ada mobil tanpa mesin. Tidak ada mobil listrik tanpa baterai dan tidak ada mobil tanpa ‘spare parts’ yang banyak, jadi kita juga perlu kembangkan ekosistem dari kendaraan listrik, termasuk industri suku cadang dan baterai,” ungkap Bambang Brodjonegoro.

Pemerintah saat ini mendorong banyak lembaga penelitian untuk mengembangkan baterai kendaraan listrik, terutama pengembangan baterai lithium dengan bahan mineral nikel yang banyak ditemukan di Indonesia.

“Ini dikembangkan oleh ITS dan UNS. Para peneliti di perguruan tinggi sudah mulai mengembangkan produk baterai lithium. Kita juga punya beberapa pelaku. Pertamina juga mengembangkan versi mereka sendiri. LIPI dan juga anak perusahaan dari PLN, PT Indonesia Power (juga mengembangkan baterai kendaraan listrik),” ungkap Menteri Bambang.

Selain motor listrik dan baterai saat ini lima perguruan tinggi sedang mengembangkan bus listrik, yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Sebelas Maret (UNS).

“Inovasinya adalah Molina atau Mobil Listrik Nasional, bis elektrik dan Universitas Indonesia sudah menggunakan bis ini untuk mengantar mahasiswa dari satu fakultas ke fakultas lain atau dari stasiun kereta ke fakultas,” tutup Menristek/Kepala BRIN.

Turut hadir dalam agenda ini Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian Johny Darmawan serta para investor dan pengusaha otomotif dalam dan luar negeri.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristek/BRIN