Siaran Pers Kemenristek/BRIN
Nomor: 236/SP/HM/BKKP/X/2019

Makassar – Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai berlari dalam membangun ekosistem riset dan inovasi di Indonesia, dalam mewujudkan SDM Unggul menuju Indonesia Maju.

Hal ini dilakukan dengan menggelar The Second (2nd) High Level Meeting on STHE Cooperation & The 11th Joint Working Group on HERIE di Auditorium Prof DR H Baharuddin Lopa SH Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar, Kamis (31/10).

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro mengapresiasi pertemuan ini, untuk membangun kerja sama pendidikan tinggi, riset, inovasi dan entrepreneurship yang selama ini sudah terjalin.

“Sangat penting menjaga kolaborasi antara dua negara, Indonesia-Perancis. Indonesia sangat berkomitmen dalam kolaborasi ini. Saya yakin bisa lebih baik dan lebih kuat ke depan,” harapnya.

Dikatakan Menteri Bambang, dalam upaya meningkatkan kualitas riset di Indonesia, mau tidak mau Indonesia harus belajar sekaligus bekerja sama dengan peneliti terutama dengan negara yang sudah relatif maju penelitiannya. Demikian juga dengan universitas-universitas maupun pusat riset teknologi inovasi di Perancis, yang sudah punya tradisi riset untuk menghasilkan berbagai produk inovasi, yang kuat. Karena itu JWG tentang Pendidikan Tinggi, Riset, Inovasi dan Kewirausahaan antara Indonesia dan Perancis ini, diadakan untuk yang ke-11 kalinya.

“Ini sudah yang kesebelas kalinya pertemuan diadakan, harapannya ilmuwan Indonesia atau akademisi Indonesia bisa bekerja sama dengan ilmuwan dan akademisi Perancis, sehingga bisa meningkatkan kualitas penelitiannya.
Demikian juga dengan para pelaku Iptek dan Inovator Perancis, agar bisa banyak berkolaborasi dengan pelaku iptek dan inovator di Indonesia. Pada akhirnya kita harapkan kualitas riset di Indonesia menjadi ‘world class research, membantu universitas dan atau institusi nya. Selain itu kita harapkan agar para periset di Indonesia tidak hanya berhenti pada tataran riset dasar dan riset aplikasi, tapi mencoba menjadi pencipta (inovator) dalam bentuk invensi maupun inovasi,” paparnya.

Menteri Bambang menyampaikan kerja sama riset antara Indonesia dan Perancis ini dalam bidang global, terutama yang difokuskan tentang beberapa tema iptek seperti maritime, pertanian dan pangan, energi, transportasi, kesehatan, ICT, teknologi pertahanan, serts sosial humaniora, dan lainnya.

“Intinya kita lebih menekankan pada iklim penelitian yang harus lebih kuat di antae litbang instiusi dan lembaga pendidikan tinggi di Indonesia,” tutur Menteri Bambang.

Lebih jauh, Menteri Bambang mendorong kerja sama dalam bidang entrepreneurship. Menurutnya, kualitas riset yang tinggi akan menjadikan produk-produk inovasi yang kompetitif, agar bisa bersaing di pasar global. “Kenapa produk kita tidak kompetitif dalam pasar global, karena tidak adanya inovasi. Tidak cukup inovasi, karena inovasi ini lahir dari hasil riset yang berkualitas. Saya harap pertemuan ini mendapatkan nilai dan diaplikasikan dalam produk kita agar bisa kompetitif,” ujarnya.

Menteri Bambang menjelaskan saat ini Kemenristek/BRIN berupaya keras untuk membangun ekosistem riset dan inovasi di Indonesia. Salah satunya dengan sistem riset yang baru untuk membentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penekanannya harus ada integrasi riset dari hulu ke hilir, dari riset dasar sampai pada inovasi dan komersialisasi produk.

“Jadi BRIN nantinya yang mengupayakan agar integrasi riset dari hulu sampai hilir itu berjalan,” ungkap Menteri Bambang.

Selama ini, pelaksanaan riset cenderung dikatakan belum optimal dan ataupun berjalan sendiri-sendiri. Ristek dan inovasi tidak hanya dilakukan di perguruan tinggi, ada juga di Lembaga Penelitian Non Kementerian (LPNK) dan ada lembaga litbang lainnya yang berada di bawah Kementerian teknis lainnya. Hal ini memungkinkan terjadinya duplikasi riset jika tidak segera dibenahi.

“Dengan hadirnya BRIN, nantinya diharapkan tidak ada lagi duplikasi riset. Karena sebelumnya pelaku riset itu banyak, para peneliti dpt berasal dari LPNK, perguruan tinggi maupun litbang Kementerian lainnya. Itu yang akan kita perbaiki dengan adanya pembentukan BRIN. Tujuannya menciptakan integrasi riset dari hulu ke hilir,” terang Menteri Bambang.

Duta Besar Perancis Olivier Chambard mengungkapkan pihaknya terbuka untuk berkolaborasi dengan Indonesia, khususnya dalam bidang riset, inovasi, pendidikan tinggi dan entrepreneurship. Terlebih secara khusus, Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo pada periode kedua berfokus membangun Sumber Daya Manusia dan Global Talent.

“Sebuah kehormatan ada di Makassar untuk melakukan pertemuan ini. Kita terbuka untuk berkolaborasi dalam riset dan inovasi. Termasuk mahasiswa. Kita siap menerima peneliti dari Indonesia,” terangnya.

Duta Besar Perancis mencontohkan beberapa kerja sama yang sudah berjalan, di antara program Nusantara yang merupakan kolaborasi riset Indonesia – Perancis serta beberapa kolaborasi lainnya.

Sementara itu Rektor Universitas Hasanuddin Dwia Aries Tina Pulubuhu mengungkapkan terimakasih atas dukungan dan kepercayaan atas dipilihnya Unhas sebagai tuan rumah dalam pertemuan ini.

“Saya percaya pertemuan ini akan memunculkan ide dan gagasan. Kita ingin riset, penelitian dan entrepreneur dikuatkan. Bagaimana berkolaborasi ke depan dan berjejaring. Terutama dalam era baru industri 4.0,” katanya.

Dalam acara tersebut turut hadir Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Muhamad Dimyati, Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Nada DS Marsudi, Ka Puspiptek Sri Setiawati, Direktur Bunyamin Maftuh, Direktur Pengabdian Masyarakat Ocky Karna Rajasa, Colonel Arwin Datumaya AI Expert TNI AU, Ophir Sumule UNHAS sejumlah delegasi, akademisi dan peneliti dari kedua negara.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Kemenristek/BRIN