Kabinet Kerja kini genap telah berlangsung selama 4 tahun. Memperingati capaian 4 tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir melaporkan kinerja capaian Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi selama 4 tahun pada Konferensi Pers Capaian 4 Tahun Kerja Kemenristekdikti, dengan tema “Peningkatan Kesejahteraan, Kebijakan Afirmatif, Kebudayaan, serta Prestasi Bangsa”, di Auditorium Gedung D Kemenristekdikti, Senayan (26/10).

Jumpa Pers dimoderatori oleh Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im dan dihadiri juga oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Pembelajaran dan Kemahasiswaan intan Ahmad, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo, Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati, Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe, dan Inspektur Jenderal Jamal Wiwoho.

Menristekdikti pada kesempatan ini mengatakan telah berhasil merealisasikan berbagai target Kemenristekdikti dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi, kemampuan iptek dan inovasi di Indonesia untuk mendukung daya saing bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa Kemenristekdikti memiliki berbagai program kerja yang mendukung nawacita tersebut dari berbagai aspek yang menjadi fokus perhatian Kemenristekdikti.

Salah satu catatan penting capaian Kemenristekdikti dalam jumpa pers ini adalah mengenai prestasi mahasiswa Indonesia dalam ajang Asian Games 2018. Menristekdikti menyampaikan bahwa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menyumbangkan 15 Medali Emas pada ajang Asian Games 2018.

“Kita sangat bangga dengan kontribusi mahasiswa Indonesia bagi prestasi bangsa di ajang Asian Games 2018. Atlet Indonesia yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, menyumbangkan 15 Medali Emas. Artinya 50% dari total 31 Medali Emas yang diraih Indonesia disumbangkan dari Atlet yang juga merupakan mahasiswa perguruan tinggi,” ungkap Menristekdikti dengan bangga.

Prodi visioner (prodi kekinian) juga mendapatkan perhatian khusus dalam paparan Menristekdikti dalam jumpa pers ini. Menteri Nasir mengatakan bahwa Kemenristekdikti telah merespon arahan Presiden Joko Widodo untuk mendirikan program studi kekinian yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pasar.

“Salah satu program studi yang visioner yang menjawab perkembangan zaman adalah Prodi Animasi. Prodi ini sangat dibutuhkan oleh industry perfilman Indonesia. Program studi ini telah didirikan di beberapa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, seperti di ITB, ISI Yogyakarta, Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta, Universitas Dian Nuswantoro dan politeknik Batam,” tutur Menristekdikti.

Menristekdikti menyatakan bahwa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta antusias untuk mendirikan prodi baru kekinian. Salah satu prodi baru yang diusulkan perguruan tinggi dan telah disetujui Menristekdikti adalah Prodi Pengelolaan Perkebunan Kopi. Prodi ini diusulkan oleh Universitas Gajah Putih di Aceh. Prodi ini sangat tepat di kembangkan di Aceh karena provinsi ini terkenal akan produk kopinya.

“Program Studi Pengelolaan Perkebunan Kopi, Prodi Film, Prodi Teknologi Pulp dan Kertas, Prodi Informatika Medis, Prodi Teknik Mekatronika dan Prodi Sains Data merupakan beberapa contoh Prodi Visioner yang diusulkan perguruan tinggi dan telah disetujui. Kemenristekdikti juga memberikan rekomendasi kepada perguruan tinggi untuk membuka prodi visioner Sains Perkopian, Prodi Ekonomi Perkopian, Pendidikan Barista, Prodi Meme dan Prodi Visioner lainnya yang sangat dibutuhkan dunia industry ataupun pasar,” jelas Menristekdikti.

 

Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Kebijakan Afirmatif

Menristekdikti menyampaikan bahwa Kemenristekdikti memiliki program bantuan biaya pendidikan Bidikmisi, sebuah program afirmasi pendidikan tinggi yang bertujuan untuk memutus rantai kemiskinan masyarakat di Indonesia. Melalui program afirmasi ini, putra-putri bangsa yang memiliki potensi akademik dan berasal dari kalangan tidak mampu akan mendapatkan pembiayaan penuh untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Selain biaya pendidikan, penerima Bidikmisi juga akan menerima uang saku bulanan untuk kebutuhan sehari-sehari. Hal ini bertujuan untuk meringankan beban orang tua penerima bidikmisi yang berasal dari kalangan tidak mampu.

Menristekdikti memaparkan bahwa kuota penerima Bidikmisi meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia dan menunjukkan keberpihakan Pemerintah bagi kalangan tidak mampu untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

“Jumlah penerima Bidikmisi selalu meningkat setiap tahunnya. Mulai dari 199.408 mahasiswa pada tahun 2014, menjadi 339.348 mahasiswa pada tahun 2017. Target kami pada tahun 2018, penerima Bidikmisi sebanyak 368.961 mahasiswa,” ungkap Menteri Nasir.

Menteri Nasir menambahkan bahwa penerima Bidikmisi menunjukkan prestasi akademik yang menggembirakan di perguruan tinggi.

“82,83% penerima Bidikmisi memperoleh IPK diatas 3. Alumni Bidikmisi juga menunjukkan prestasi menggembirakan, baik bekerja di perusahaan swasta, BUMN, Guru maupun yang berwirausaha,” jelas Menteri Nasir.

Selain Program Bidikmisi, Kemenristekdikti juga memiliki Kebijakan Afirmatif lainnya yaitu Program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Papua dan Daerah 3T. Program ini bertujuan untuk meningkatkan putra putri Papua dan Daerah 3T untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Pada tahun 2014 penerima manfaat program ini sebanyak 1.673 mahasiswa, sedangkan pada tahun 2018 ditargetkan 5.743 mahasiswa mendapatkan manfaat dari program ini.

“Setiap tahunnya, Kemenristekdikti memberikan perhatian khusus kepada putra putri dari daerah Papua dan Daerah 3T untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Disamping mendapatkan beasiswa, mereka mendapatkan kuota khusus di perguruan tinggi negeri dengan seleksi tersendiri. Hasilnya juga menggembirakan, 31% peserta program ini meraih IPK diatas 3,”ujar Menristekdikti.

Kemenristekdikti juga turut aktif membantu korban bencana alam di Lombok dan Palu. Berbagai bantuan pendidikan bagi korban bencana baik bersifat materil maupun bersifat kebijakan diberikan Kemenristekdikti kepada para korban. Kepada mahasiswa korban bencana di Lombok, Kemenristekdikti menyalurkan 4000 beasiswa PPA dan 2000 Bidikmisi. Sedangkan untuk korban bencana alam di Palu, Kemenristekdikti menyalurkan 2000 beasiswa PPA dan 3000 Bidikmisi.

Kemenristekdikti didukung 38 Perguruan Tinggi Negeri juga mengeluarkan kebijakan sit in dan transfer kredit bagi korban bencana gempa dan Tsunami di Palu. Dengan kebijakan ini mahasiswa korban bencana Palu dapat melanjutkan kuliah dengan skema sit-in di 38 PTN.
Berbagai program dan kebijakan juga telah dilahirkan oleh Kemenristekdikti selama empat tahun ini sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Teknologi dan inovasi tepat guna yang dirasakan langsung manfaatnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi prioritas program kerja Kemenristekdikti. Sebagai Negara Agraris, Kemenristekdikti mendorong dan mengawal perguruan tinggi untuk melahirkan inovasi di bidang pertanian dan perkebunan. Salah satu hasil yang menonjol adalah produk inovasi Padi IPB 3 S dari Institut Pertanian Bogor.

“Benih unggulan dari IPB ini dapat meningkatkan produksi padi petani hingga rata-rata 7 ton. Benih unggulan ini telah di tanam di 65 ribu Ha lahan pertanian di 16 provinsi. Tahun 2018 produksi benih komersial seluas 44 Ha di Jawa, Sumatera, Kalimantan, NTB, dan Maluku Utara,” jelas Menteri Nasir.

Sebagai Negara Kepulauan, Kemenristekdikti juga menaruh perhatian bagi kesejahteraan nelayan di tanah air. Berbagai produk inovasi telah dilahirkan untuk meningkatkan perekonomian para nelayan. Salah satunya adalah Konverter Kit Motor Perahu Nelayan yang dapat menghemat bahan bakar nelayan ketika pergi melaut. Selain itu di bidang maritim juga ada inovasi Garam Pro Analisa dari BPPT. Garam Pro Analisa adalah jenis garam yang mempunyai tingkat kemurnian 99,0% -100,5% yang biasa digunakan untuk keperluan laboratorium dan industri

“Dari hasil uji terap diketahui bahwa terjadi penghematan yang signifikan. Dari biasanya nelayan melaut per hari membutuhkan Rp.30.000,- untuk kapal bermesin 2 tak, dengan menggunakan konverter kit yang dikembangkan ini menjadi hanya Rp. 3.000, per hari melaut. Sedangkan Garam Pro Analisa ini lebih murah 20 – 30 % dari produk impor dan dapat menjadi salah satu produk substitusi impor garam, “ jelas Menteri Nasir.

Menristekdikti dalam kesempatan ini juga menyampaikan bahwa Kemenristekdikti juga telah melahirkan inovasi untuk mendukung perajin batik di tanah air. Produk Inovasi karya Institut Teknologi Bandung OTOMATISASI MESIN BATIK FOTONIK. Mesin Batik Fotonik digunakan sebagai substitusi sinar matahari pada proses penjemuran batik untuk aktivasi warna batik, sehingga produktivitas pengrajin batik Indonesia tidak lagi terpengaruh dengan cuaca.

Kebudayaan dan Prestasi Bangsa

Menristekdikti Mohamad Nasir dalam acara Jumpa Pers ini, mengatakan dalam rentang waktu empat tahun, riset dan inovasi indonesia meningkat secara pesat. Hal ini ditunjukkan dari meningkatnya jumlah perusahaan startup di Indonesia yang dikelola oleh Kemenristekdikti dan melesatnya kinerja publikasi ilmiah internasional Indonesia.

Menteri Nasir menjelaskan Kemenristekdikti memiliki berbagai program untuk pembudayaan kewirausahaan dan peningkatan inovasi, baik di perguruan tinggi maupun di masyarakat yaitu melalui program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) dan Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT). PPBT adalah program seed funding yang diberikan kepada tenant PPBT melalui lembaga inkubator bisnis untuk menjalankan proses inkubasi terhadap perusahaan pemula/tenant sehingga siap untuk menjadi PPBT yang profitable dan sustainable. Sedangkan CPPBT adalah program pendanaan yang diberikan melalui skema insentif yang ditujukan kepada dosen, mahasiswa, atau dosen dan mahasiswa melalui lembaga pengelola hasil riset dan pengembangan yang produknya sudah siap dikomersialisasikan.

“Melalui skema PPBT dan CPPBT, jumlah startup dan calon startup di Indonesia selalu meningkat setiap tahunnya. Dari awalnya berjumlah 52 startup dan calon startup di tahun 2015 menjadi 956 di tahun 2018. Kita targetkan lebih dari 1000 di tahun 2019,” tutur Menristekdikti.

Untuk mendukung perkembangan startup di Indonesia, setiap tahunnya Kemenristekdikti menyelenggarakan program Inovator Inovasi Indonesia Expo (I3E). Kegiatan bertujuan untuk mempromosikan produk-produk inovasi teknologi hasil karya anak bangsa kepada masyarakat luas. I3E tahun ini diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal pada tanggal 25-28 Oktober 2018 dan akan diikuti 261 startup inovasi teknologi.

Menteri Nasir memaparkan bahwa inovasi sangat penting untuk meningkatkan added value sebuah produk sehingga dapat memiliki nilai jauh lebih tinggi. Kehadiran perusahaan startup terutama di bidang teknologi sangat penting untuk menggerakkan perekonomian Indonesia dan meningkatkan daya saing bangsa.

“Produk startup binaan Kemenristekdikti sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar. Contohnya produk Magic Ring, cincin penghemat BBM dan Penambah Performa Mesin Kendaraan Bermotor. Ada juga Kapal Pelat Datar, Kapal Baja dengan lambung pelat datar yang memiliki keunggulan di waktu produksi lebih cepat 30% dan biaya produksi lebih murah 25% dibandingkan kapal berbahan fiber ataupun kayu,” ungkap Menteri Nasir.

Menteri Nasir menambahkan bahwa inovasi tidak akan lahir tanpa adanya riset dan pengembangan. Berkat berbagai kebijakan yang dikeluarkan Kemenristekdikti, selama empat tahun ini terjadi lompatan luar biasa dalam jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia.

“Publikasi ilmiah internasional meningkat pesat, jika pada awalnya hanya ada 5.299 publikasi dan Indonesia pada peringkat 4 di bawah Thailand di ASEAN. Per tanggal 10 Oktober Tahun 2018, publikasi ilmiah internasional Indonesia telah berhasil menghasilkan 20.610 publikasi sedangkan per tanggal 26 Oktober 2018 sudah mencapai 22.222 publikasi dan berada di peringkat 2 ASEAN. Peningkatannya dalam 16 hari sekitar 2000 publikasi. Sedangkan Malaysia masih diperingkat 1 ASEAN dengan 24.000 publikasi di tanggal 26 Oktober 2018.,” ujar Menristekdikti.

Menteri Nasir memberikan catatan khusus capaian di bidang penguatan inovasi, yaitu pengembangan sepeda motor Gesit. Menteri Nasir menjelaskan bahwa sepeda motor listrik ini sudah siap diproduksi dan dikomersialisasikan.

“Sepeda motor listrik Gesit sudah siap diproduksi massal dan dipasarkan. Rencananya akan kami luncurkan pada bulan Desember 2018. Ini merupakan pioneer merek motor listrik Nasional pertama di Indonesia. Komponen lokal dari sepeda motor listrik Gesit sudah mencapai 88%,” pungkas Menteri Nasir.

 

Firman Hidayat
Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti