JAKARTA- Keluarga besar Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menggelar buka puasa bersama di Auditorium Gedung D Kemenristekdikti, Selasa (21/5). Acara buka puasa bersama itu diisi dengan tausiyah dari KH Said Aqil Siradj dan KH Abdul Manan Gani. Kegiatan ini dihadiri oleh para pejabat dan pegawai di lingkungan Kemenristekdikti dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) di bawah naungan Kemenristekdikti.

Menristekdikti Mohamad Nasir menyampaikan rasa syukur dengan terselenggaranya acara buka puasa bersama itu.

“Kita sudah memasuki hari ke-16 di bulan ramadan ini. Mudah-mudahan menjelang buka puasa ini ibadah puasa diterima Allah SWT,” ucapnya.

Menurut Menteri Nasir, dalam melakukan ibadah puasa terpenting adalah dapat menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Hal itu dapat dilakukan dengan mengerjakan urusan dunia bekerja keras, seolah-olah tidak akan pernah mati. Tapi harus ingat kita juga perlu beribadah supaya tetap ingat besok kita akan menjemput kematian.

Maka dari itu, Menteri Nasir mengingatkan agar di bulan ramadan ini bisa diisi dengan amalan ibadah dengan tetap bekerja sebaik-baiknya. Sehingga dengan demikian tujuan berpuasa di bulan ramadhan menjadi orang bertaqwa bisa tercapai.

“Dalam bulan Ramadan ini, pada surat Al-Baqarah diperintahkan berpuasa diperuntukkan hanya orang beriman. Kalau orang tidak beriman tidak diperintahkan. Dengan tujuan agar orang bertaqwa. Ayat ini mengingatkan kita bagaimana mengisi bulan Ramadan dengan amalan ibadah. Tapi tetap kita bekerja,” ujarnya.

Sementara itu, KH Said Aqil Siradj menekankan pentingnya umat untuk menggali kembali Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan. Tidak cukup hanya memiliki ilmu saja, akan tetapi juga dari ilmu tersebut dapat menjadikan umat bisa mencapai hikmah dan bersikap bijaksana.

“Orang yang punya hikmah dari ucapan berbuah hikmah, tindakan selalu tepat, arahan mantap, dan bimbingan tepat. Saat ini orang pintar banyak, tapi yang bijak dan arif yang mendapatkan cahaya Allah pada hatinya, sangat jarang,” ungkapnya.

Lebih jauh, menurut pria asal Cirebon itu, dalam ayat Al-Qur’an sudah ada peringatan agar umat jangan mudah terpengaruh dari berita bohong, ujaran kebencian dan fitnah yang saat ini tengah menjadi perbincangan. Padahal Al-Qur’an diturunkan sejak lima belas abad yang lalu. “Tidak ada kitab suci yang seperti ini,” ujarnya.

Di lain sisi, KH Abdul Manan Gani juga menyampaikan tausiyah sampai waktu berbuka puasa tiba. Dia menerangkan arti dari kata Ramadan yang diambil dari kata romdhu artinya panas. Hal ini sesuai dengan kondisi suhu di negara Arab yang memang mengalami puncak panas pada bulan ke sembilan pada penanggalan kalender Hijriyah.

Dikatakannya, para fuqoha menafsirkan makna panas tersebut berarti membakar dosa dengan melakukan amal soleh. Allah berfirman dalam Qur’an bahwa seluruh amal kebaikan berfungsi untuk menghapus dosa-dosa. Dimana pada 10 hari pertama di bulan ramadhan Allah menurunkan rahmat, dan 10 hari kedua ampunan. Hal ini menjadi bekal untuk memasuki surga. Sehingga pada 10 hari terakhir Allah memberikan jaminan orang yang berpuasa terhindar dari api neraka. “itqun minanar (terjaga dari api neraka:red) ini apabila kita mendapat rahmat dan ampunan tersebut,” ucapnya.

Dijelaskannya, orang yang puasa pada bulan Ramadan merupakan orang yang sabar menerima pedihnya lapar dan haus. Sehingga pantas kalau Allah menghargai orang berpuasa menjadi orang bertaqwa.

“Taqwa ini adalah orang yang derajatnya paling tinggi dan paling mulia di mata Allah,” tutupnya.

Acara buka puasa bersama pegawai Kemenristekdikti merupakan acara yang pasti digelar tiap tahun saat bulan Ramadan berjalan yang dimaksudkan untuk mempererat silaturahim seluruh pegawai.

Please follow and like us:
0