UNAIR NEWS Sembilan medali berhasil dibawa pulang oleh atlet unit kegiatan mahasiswa Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Universitas Airlangga yang terdiri atas gabungan beberapa UKM Pencak Silat. Mereka baru saja mengikuti kejuaraan 3rd Singapore Open Pencak Silat Championship 2017 pada 16 19 November di Bedok Sport Hall Complex, Singapore.
Kejuaraan bergengsi di Singapura itu diikuti 400 peserta dari berbagai negara. Mulai Singapura, India, serta beberapa club pencak silat asal Indonesia seperti IPSI UNAIR, Tapak Suci Bekasi, Club Pencak Silat di Bandung, Palembang, dan Keluarga Besar Pencak Silat Nusantara (KPSN).
Kali ini, UNAIR mengirim 16 atlet di antaranya berasal dari 10 atlet dari UKM SH Teratai, 4 atlet dari UKM Tapak Suci dan 2 atlet dari UKM Perisai Diri. Sebanyak 14 atlet yang masuk ke dalam 9 kategori perlombaan  berhasil menyabet 3 medali emas, 3 perak, dan 3 perunggu. Masing-masing medali berasal dari kategori ganda putri dewasa (juara I) oleh Muafiah (FKM 2015) dan Uswatun Khasanah (FIB 2015) serta kelas C putri dewasa (juara I) oleh Eny Mayangsari (FISIP 2014).
Selanjutnya, kelas F putri dewasa (juara I) diraih Devy Nadya Ramadhani (FIB 2016) dan tunggal putri dewasa (juara II) oleh Indra Purwanti (FPK 2014). Beregu putra dewasa (juara II) oleh Nanda Saiful Anam (FISIP 2013), Andaru Rizki (FKH 2014), dan M. Baharuddin Fatih (FKP 2013). Kelas F putra dewasa (juara II) oleh Tirta Agung (FPK 2015); beregu putri dewasa (Juara 3) oleh Nur Choiriyah (FST 2014), Siti Aisyah (FISIP 2016), dan Della Pramarsya (FEB 2016); kelas A putra dewasa (Juara 3) oleh Abdul Aziz (FPK 2014); kelas I putra dewasa (Juara 3) oleh Alfiansya Noval S. (FKH 2014).
Sempat tidak puas dengan hasil dari Kejuaraan Dunia Perisai Diri International Championship 2017, Eny Mayang yang mendapat juara II pada kategori The 2nd Place C Class of Female in Senior Match Category saat itu akhirnya pada Singapura Open kali ini ia berkesempatan menempati podium teratas setelah melawan atlet timnas Singapura lapis tiga, lapis dua, dan lapis satu atau dikenal sebagai atlet SEA Games.
Juara ini saya raih karena saya pengen mendapat juara I karena sebelumnya mendapat juara II. Saya terus intensif latihan. Selain dengan teman-teman UKM, saya juga terus latihan dengan pelatih saya di luar UKM, jelas atlet fighter Putri Perisai Diri dari Ptogram Studi  Administrasi Negara angkatan 2014 tersebut.
Meski lawan mainnya lebih unggul satu tingkat dan notabene dipersiapkan untuk kejuaraan pencak silat, atlet IPSI UNAIR tak mau kalah.
Lingkup kami masih universitas dan tidak ada jurusan olahraganya. Apalagi, UKM hanya sekedar penyaluran hobi, berbeda dengan atlet luar negeri yang notabene benar-benar difokuskan untuk pencak silat. Misalnya, timnas India yang difokuskan untuk ASIAN Games, juga Singapura. Kami sangat bangga dengan prestasi UKM UNAIR, jelas Teguh Satrio selaku manajer tim.
Perjuangan di negeri tetangga menjadi tantangan baru bagi para atlet, apalagi dibumbui dengan hampir tertinggal pesawat karena lamanya kepengurusan benda tajam untuk kelengkapan silat. Selain itu, berbekal riwayat cidera pun semangat para kontingen UNAIR tak kunjung surut untuk berprestasi.
Turnamen ini merupakan pengalaman yang kali keenam bagi kami menjadi pasangan ganda putri. Waktu berangkat, kami sempat tertinggal pesawat karena harus mengurus properti untuk penampilan seni kami, seperti golok dan toyak. Sebelum berangkat, saya juga sempat patah tulang di kaki. Kami hampir ragu untuk menang, tapi tetap optimistis. Kalah menang harus tetap kami coba, jelas Uswatun Khasanah dan Muafiah pasangan Ganda Putri dari UKM SH Teratai. (PIH UNAIR)