Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Seafast Center  Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) dan Wisconsin Alumni Association bekerja sama mengadakan Studium Generale  bertajuk ‘Nanoteknologi dan Biosensor untuk Kualitas dan Keamanan Pangan’ bertempat di Auditorium Abdul Muis Nasution, Kampus IPB Dramaga, Jum’at (6/4). Kuliah umum ini dihadiri sekiranya 90 orang dari berbagai institusi  antara lain mahasiswa sarjana Ilmu dan Teknologi Pangan, mahasiswa Pascasarjana Magister Profesi Teknologi Pangan International University Liaison Indonesia, mahasiswa Exchange Warsawa Polandia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta hadir pula beberapa mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan Program Studi Ilmu Gizi IPB.

Professor dalam bidang biological system engineering, Universitas Wisconsin- Madison, Prof Sundaram Gunasekaran hadir sebagai keynote speaker dalam kegiatan ini. Studium Generale ini dimoderatori  Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi (Vice Chair Codex Allimentarius, Senior Scientist Seafast Center IPB) yang juga merupakan alumni dari Wisconsin University. Selain memberikan gambaran bagaimana Universitas Wisconsin dan kiprahnya dalam dunia penelitian, Professor asal India ini memaparkan banyak fakta dan penelitian menarik terkait kemanan pangan.

“Berdasarkan data di tahun 2014-2015, beberapa alasan penyebab penolakan ikan tuna impor dari Indonesia ialah karena sekitar 36 persen mengandung bakteri Salmonella. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bukti ketidakamanan pangan terjadi sekitar 21 persen karena berada di jalanan, 39 persen karena faktor rumah tangga dan 20 persen karena penyajian makanan tersebut,” ujar Prof.Guna.

Ia menambahkan, untuk memudahkan konsumen dalam membedakan apakah suatu makanan layak dikonsumsi atau tidak ialah dengan adanya indikator warna. Hal inilah yang ditawarkan oleh metode biosensor dan nanoteknologi, yang mana dengan adanya rekayasa tertentu pada skala nano dapat mendeteksi adanya mikroba atau mikroorganisme pada makanan dengan memberikan warna tertentu pada tes sederhana.

“Sistem pengujian layak tidaknya  makanan harus SimpleRapid and Sensitive. Mikroorganisme senang hidup dalam kondisi manusia hidup. Ini yang menjadikan kita perlu lebih waspada. Oleh karena itu, gelatin sebagai salah satu bahan makanan yang sering digunakan dan aman untuk dikonsumsi dijadikan salah satu media dalam mendeteksi warna. Kondisi suhu juga menjadi salah satu pertimbangan dalam uji karena kondisi yang dingin membuat mikroba cenderung lambat untuk berkembang,” ujarnya.

Prof. Guna berharap konsumen harus lebih cerdas dalam memilih makanan, kebersihan dan keamanan menjadi penting. Setiap negara juga perlu memperhatikan keamanan pangannya, karena di Amerika Serikat sendiri jumlah korban meninggal akibat ketidakamanan pangan melebihi angka 10 ribu jiwa per tahun.

Tampak hadir di ruangan, Kepala Seafast Center LPPM IPB, Prof. Nuri. Andarwulan, Sekretaris Seafast Center, Dr. Puspo Edi Giriwono, Kasubdit Kerjasama dan Hubungan International IPB, Dr. Ing Dase Hunaefi, Koordinator bidang Mutu dan Keamanan Pangan Seafast Center IPB, Dr.-Ing Azis B Sitanggang, Peneliti Departemen Ilmu Teknologi dan Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Prof Dr. Hanny Wijaya, dan Presiden Asosiasi  Alumni Wisconsin Indonesia, Jemmy Chayadi (FI/ris)