Pesisir barat Pulau Selayar mendapat dampak sampah laut padat setiap musim barat (Desember-Maret). Sampah laut tersebut berasal dari sampah yang mengapung dan terbawa arus air laut. Tanpa adanya pengelolaan, sebagian dari sampah laut tersebut terbawa kembali ke laut pada saat musim timur dan mengakibatkan dampak pada pulau-pulau lain. Sampah laut yang terdeposit di pesisir barat menimbulkan dampak secara sosial, ekonomi dan ekologi.

Untuk itu, sejumlah pakar dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian tentang analisis jenis dan bobot sampah laut pesisir barat Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Mereka adalah Roni Hermawan, Ario Damar dan Sigid Hariyadi.

Penelitian tersebut meliputi jenis, bobot, kepadatan dan sebaran sampah laut; dampak dalam ekonomi, sosial dan ekosistem lingkungan; serta menyusun strategi pengelolaan sampah laut yang tepat.

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata kepadatan sampah organik menurut berat adalah 4.978,3 g/m2 dan menurut jumlah potongan adalah 7,7 item/m2. Sedangkan sampah anorganik kepadatannya adalah 14,3 item/m2 untuk jumlah potongan dan 564,8 g/m2 untuk berat sampah. Pertambahan sampah sebesar 354,6 g/m/hari dan jumlah potongan 2,8 item/m/hari.

Dampak sampah laut terhadap lamun dan biota yang dapat mengubah dan menyebabkan kerusakan habitat secara fisik. Beberapa sampah laut yang terdeposit di pantai ditempeli oleh beberapa jenis coral yang dapat mempengaruhi keanekaragaman biota. Dampak ekosistem mangrove adalah tertindihnya bibit mangrove dengan material sampah, biji mangrove terhalangi sampah dan gagal berkecambah. Sedangkan dampak sosial seperti estetika dan berkurangnya wisatawan.

Pengelolaan sampah oleh masyarakat yang paling tinggi adalah penggunaan sampah sebagai bahan bakar sehari-hari, hanya sebagian kecil 8-28 persen yang melakukan pemanfaatan sampah lebih lanjut agar nilai ekonomis dan fungsi sampah lebih tinggi.

Strategi pengelolaan sampah laut dapat dilaksanakan dengan pendekatan 3R+P (recycle, reuse, recovery energy dan participant). Potensi sampah laut jika diolah dengan baik dapat menguntungkan secara ekonomi, melalui model usaha daur ulang diketahui sampah plastik dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 16.379.472 per bulan dari produksi 48 ton sampah plastik. Daur ulang kayu menjadi briket arang Rp 10.904.472 per 30 ton. Pengelolaan sampah laut dapat dilakukan dengan peningkatan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah.(AT/NM)

CP : Ario Damar, HP 0813-1065-6861