UNAIR NEWS – Universitas Airlangga menjadi perguruan tinggi pertama yang memperoleh sertifikasi ISO 210001 : 2018. Sertifikasi ini diperoleh setelah dilakukan audit oleh DeCRA selama satu minggu lamanya. Sertifikat ISO 210001 : 2018 diberikan secara simbolis saat perayaan Dies Natalis UNAIR ke-64 di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR, pada Sabtu (10/11).

Sertifikasi ISO 210001 : 2018 menjadi standar sistem manajemen internasional pertama di dunia untuk organisasi pendidikan. Mengenai pemberian sertifikasi itu, Presiden Direktur PT. Decra Group Indonesia Ir. Sholichin Agung Darmawan mengatakan bahwa sertifikat ISO 210001 : 2018 baru diterbitkan pada Mei 2018. Untuk itu, UNAIR menjadi perguruan tinggi pertama yang memperoleh sertifikat ini.

Ada 11 elemen penilaian, di antaranya kepemimpinan, aksesbility, ethical conduct, pengelolaan manajemen, capaian kinerja, manajemen resiko, dan tindak lanjutnya.

“Setelah kita audit selama satu minggu, setelah kita cek, secara requirement hasilnya terpenuhi,” papar Sgolichin.

Sebelumnya UNAIR telah memperoleh ISO 9001:2015, MBNQA 2015-2016, dan IWA 2:2007. Sertifikat ISO 9001:2015 habis masanya pada 17 Desember 2018 mendatang. Untuk itu, sebelum sertifikat habis, diharapkan sudah ada perbaikan terkait temuan dari dilaksanakannya audit eksternal.

Sholichin menambahkan, sertifikat ini berlaku tiga tahun hingga Desember 2021. Setiap tahunnya akan diaudit ulang atau survailen. Melalui sertifikasi ini, lanjutnya, dapat membantu UNAIR di dalam prosesnya dan outputnya. Outputnya adalah peringkat UNAIR bisa naik secara signifikan.

Sementara itu, tekait pemberian sertifiksi itu, Ketua Badan Penjaminan Mutu (BPM) UNAIR Prof. Dr. Sukardiman MS., Apt., mengatakan bahwa UNAIR menjadi perguruan tinggi pertama yang mendapatkan sertifikasi ISO 210001 : 2018 dalam bidang pendidikan. Pemberian sertifikasi ini berdasarkan audit eksternal yang telah dilakukan pada 5-9 November 2018, dimana audit lebih banyak me-review output atau luaran dari proses pendidikan.

“Sertifikasi ini menjadi konsekuensi logic kami untuk lebih semangat lagi lebih meningkatkan kinerja untuk meraih sasaran mutu/target kinerja yang kita buat,” papar Prof Sukardiman. “Tentu, kami juga harus bersama-sama komponen yang ada di UNAIR untuk bisa secara serius menjawab dan menyelesaikan temuan dengan waktu yang tidak terlalu lama. Sehingga, tidak terulang kembali saat diaudit tahun berikutnya,” tambahnya. (PIH UNAIR)