(Jakarta, 20/09/2018) Teknologi nuklir kini tidak hanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang membahayakan seperti senjata pemusnah masal atau sebagai sumber energi listrik saja, tetapi lebih dari itu, teknologi nuklir telah merambah berbagai aspek kehidupan masyarakat, salah satunya adalah untuk peningkatan produktivitas ternak. Melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), inovasi pemanfaatan teknologi nuklir mampu menghasilkan teknologi yang menunjang program peternakan nasional berupa pakan, tata laksana reproduksi, dan program kesehatan ternak.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Austria, Darmansjah Djumala menyampaikan komitmennya untuk terus mempromosikan teknologi nuklir untuk tujuan damai dan berdampak kepada sosial-ekonomi masyarakat. ” Inilah yang selalu kami katakan diplomasi membumi,” kata Darmansjah.

Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi BATAN, Totti Tjiptosumirat pada acara side event yang merupakan rangkaian kegiatan sidang umum International Atomic Energy Agency (IAEA) ke-62 di Vienna, Austria (20/09) mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi nuklir untuk peternakan telah diaplikasikan di Indonesia cukup lama. “Tanpa disadari, teknologi nuklir yang menunjang peternakan telah cukup lama dilakukan dan diimplementasikan kepada peternak Indonesia terutama dalam hal pembuatan pakan, reproduksi, dan kesehatan ternak,” kata Totti.

Pemanfaatan teknologi nuklir semacam ini menurut Totti, juga telah diaplikasikan cukup lama di Kawasan Asia Pasifik, Amerika Latin, dan Afrika. Bagi Indonesia yang menjadi negara anggota IAEA, upaya ini merupakan bentuk komitmen dalam mendukung pelaksanaan program kerja sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation).

Ia menambahkan, dalam hal ini, IAEA sangat memberikan perhatian yang besar pada dunia peternakan.”Bentuk perhatian IAEA dapat dilihat dengan adanya Divisi khusus yang menangani pemanfaatan teknologi nuklir untuk peternakan yakni Animal Production and Health Section. Divisi ini bertugas melakukan koordinasi penyaluran dukungan IAEA dalam bentuk program nasional, regional, dan penelitian di bidang peternakan,” tambahnya.

Di Indonesia, tata kelola peternakan menunjukkan perkembangan yang membaik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Sekolah Peternak Rakyat (SPR) yang diprakarsai oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Awal pembentukan SPR didasari beberapa faktor yakni rata-rata kepemilikan ternak masyarakat yang masih rendah, ternak digunakan sebagai tabungan hidup, ternak dipelihara dalam pemukiman padat penduduk, keterbatasan lahan, usaha peternakan karena turun temurun, dan kurangnya modal peternak untuk membeli ternak.

Pembentukan SPR ini bertujuan memberi ilmu pengetahuan kepada peternak berskala kecil tentang berbagai aspek teknis peternakan dan nonteknis yang melandasi terwujudnya perusahaan kolektif dalam satu manajemen yang dikelola oleh satu manajer dalam rangka meningkatkan daya saing usahanya untuk meningkatkan pendapatannya serta kesejahteraannya.

Pemrakarsa SPR, Muladno menceritakan perjalanan SPR hingga sekarang. “Dua tahun pertama, para peternak masih tidak mengerti apa itu SPR. Kemudian tahun ke-3 mereka mulai mengerti, dan di tahun ke-4 mereka sendiri yang berfikir bagaimana membuat komunitas,” ujar Muladno.

Saat ini para peternak sudah mulai merasakan manfaat keberadaan SPR di tengah-tengah mereka. Di SPR, peternak tidak hanya diajarkan bagaimana memelihara ternak, namun juga diajarkan tata cara berdagang ternak yang mampu memberi keuntungan lebih besar kepada para peternak.

“Setelah kami ada pembuktian bahwa penjualan sapi di SPR dengan sistem satu pintu, sehingga harganya jauh lebih murah ketimbang melalui tengkulak. Ini dikarenakan kalau di SPR, sapi ditimbang terlebih dahulu sehingga didapatkan harga yang bagus,” kata Wagiman, peternak asal Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan yang turut hadir pada acara side event IAEA. (Pur/Tnt)