Direktur : “Identitas kota perlu mendapat perhatian khusus, terutama kota berbasis air”.

 

Kota berbasis air menjadi salah satu hal utama dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan perkembangan kota. Pembangunan berkelanjutan tidak terlepas dari dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan. Oleh sebab itu, ke tiga dimensi tersebut dapat mengisi pembangunan dan perkembangan kota air dengan tetap mempertahankan identitas kota air dan wujud arsitektur lokal, ujar H. Muh. Toasin Asha Direktur Politeknik Negeri Pontianak mengawali sambutannya pada acara seminar nasional Teknik Arsitektur, Urban dan Permukiman 2018 di hotel Ibis, Sabtu, 10 November 2018.

Dia mengungkapkan bahwa Kota Pontianak memiliki ciri khas dan keunikan local yang membedakan satu kota dengan kota lainnya. Sehingga identitas kota perlu mendapaat perhatian khusus, terutama bagi kota-kota yang berkembang dari embrio kota berbasis air baik di  pesisir pantai, tepian sungai, danau dan perairan lainnya. Dijelaskannya, suatu kota khususnya kota berbasis air pasti memiliki perancangan dan perencanaan kota yang mengedepankan unsur air, pertimbangan sumber daya air menjadi suatu hal yang mendasar dalam perancangan dan perencanaan kota, tanpa mengabaikan keunikan dan kearifan loka yang menjadi ciri khas kota tersebut.

Dirktur Politeknik Negeri Pontianak H. Muh. Toasin Asha mengingatkan, bahwa menghadapi tantangan arus globalisasi dan revolusi industri 4.0, serta potensi-potensi bencana alam khususnya kota berbasis air, maka dalam perspektif arsitektur dapat diupayakan pendekatan ekologis, humanis dan transcendental dalam wujud arsitekturnya. Sedangkan dalam perspektif uban dapat diupayakan perencanaan penanggulangan bencana berupa adaptasi dan mitigasi khusus di wilayah rawan bencana.

Direktur berharap, melalui penciptaan interkonektivitas antar inftrastruktur menggunakan rekayasa teknologi, cyber dan physical system terhadap lingkungan alam dan buatan. Kita dapat terus berinovasi tanpa harus menghilangkan identitas atau jati diri suatu kota. Hal-hal tersebut menjadi isu yang menarik dalam pembangunan kota berkelanjutan pada umumnya dan perkembangan kota berbasis air pada khususnya.

Diakhir sambutannya, Direktur menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi sehingga acara seminar terlaksana dan semoga memberikan manfaat bagi kita semua terutama para peserta. Sementara itu, Ketua Jurusan Teknik Arsitektur Politekni Negeri Pontianak Indrayadi berharap kegiatan ini dapat menjadi pijakan awal berkelanjutan seminar dan penelitian di Jurusan Teknik Arsitektur. Sehingga dapat meningkatkan produktivitas dosen dalam penelitian. Seminar nasional Teknik Arsitektur Urban dan Pemukiman 2018 ini dihadiri 150 peserta dan sebagai Keynote Speech antara lain : Prof Dr.Ing. Ir. Gagoek Hardiman dari Universitas Diponegoro; Prof. Ir. Respati Wikantyoso, MSA, Ph.D  Universitas Merdeka Malang dan H. Sutarmidji, SH, M.Hum Gubernur kKalimantan Barat serta Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia Kalimantan Barat.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat meminta  para arsitektur memahami kondisi alam, budaya dan perilaku masyarakat di kawasan yang akan dibangun. Pemahaman tentang kondisi alam, budaya dan prilaku masyarakat di suatu kawasan penting bagi arsitektur, jika tidak dikuasai, mereka tidak bisa menghasilkan karya arsitektur yang dapat mengubah kawasan itu, ujarnya.

Lebih lanjut Gubernur Kalimantan Bara mengatakan apabila para arsitektur memahami aspek-aspek tersebut karyanya dapat mengubah citra kawasan yang dibangun sekaligus meningkatkan sektor perekonomian. Dengan memahami apek budaya,  prilaku masyarakat dan kondisi alam akan berdampai membuat masyarakat menjadi nyaman dan mencitrakan nilai tambah untuk kawasan itu, ungkapnya.

(Erwandi – Pranata Humas Muda)