UNAIR NEWS – Kapal Rumah Sakit Ksatria Airlangga (RSTKA) memutuskan untuk mengalihkan bakti sosial di kawasan Maluku Barat Daya menuju Donggala, Sulawesi Tengah, untuk membantu para korban tsunami dan gempa. RSTKA berangkat dari Alor menuju Makassar, Sabtu (29/9).

“Kami anggap Palu dan Donggala lebih membutuhkan bantuan sehingga kami putuskan untuk putar haluan menuju Donggala,” kata dr. Agus Harianto, SpB, direktur RSTKA yang dari pelabuhan Alor sebelum bertolak menuju Donggala.

Agus menjelaskan, sesuai dengan renacana, RSTKA akan mengadakan misi kemanusiaan dengan memberikan pelayanan dokter spesialis pada masyarakat yang tinggal di kawasan pulau-pulau perbatasan di kawasan Indonesia Indonesia Timur. Kegiatan tersebut sudah dimulai sejak tanggal 19 September lalu dan rencanannya akan berakhir 3 November 2018.

Pulau yang akan dijadikan lokasi kegiatan sosial meliputi Pulau Nusa Penida, Alor, Lirang, Wetar, Kisar, Leti, Moa, Lakor, Luang Barat, Luang Timur, Sermata, Babar, Banda, dan terakhir Wakatobi. Yang sudah dilakukan bakti sosial dengan lancar dan sukses yaitu Nusa Penida dan Alor.

Namun, rencana itu berubah seketika mengingat adanya bencana yang terjadi di Palu dan Donggala. Pihak RSTKA memutuskan untuk putar haluan menuju Donggala mengingat di sana ada bencana yang lebih membutuhkan penanganan cepat.

Dari Alor menuju Donggala berjarak 730 mil yang diperkirakan memakan waktu antara 3 sampai 4 hari.

Berdasarkan keterangan dari dr. Christrijogo Sumartono, dr.,SpAn.,KAR Ketua Yayasan Ksatria Medika Airlangga, sepuluh relawan RSTKA semalam sudah tiba di Makassar. Kemudian dengan pesawat Hercules akan menuju Palu.

Kesepuluh relawan SDM RSTKA tersebut adalah Djoko Winarno, Ns., Yoppie Prim Avidar, dr., SpAn., M. Hardian Basuki, dr., SpOT., Shohibul Hilmi, dr., SpOT., Gozali Asparin, Ns., Wayan Dhea Agastya, dr., Randy Yusuf Pratama Putra, Ns., Yos Kowara, dr., Lejar Gumawang, Ns., dan Anang Wijaya, Amd.Kep.

Christrijogo mengatakan, kapal akan singgah di pelabuhan Makassar untuk mencari bahan bakar kapal, barang bantuan medis dan non medis, seperti tenda, obat-obatan, kateter, kain pembalut (perban), dan keperluan lain terkait penanganan korban.

Sekretaris Yayasan KMA dr. Suwaspodo Henri Wibowo, dr., Ap.An., MARS., juga menginformasikan, dimana pun kapal RST mau berlabuh sudah memperoleh bantuan kemudahan dari Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub. Hal itu sesuai dengan Surat telegram Dirjen Hubla Nomor TX-21/IX/DN-18 tanggal 24 September 2018.

Dalam surat telegram tersebut dinyatakan dan diinstruksikan kepada para syahbandar UPT Ditjen Perhubungan Laut yang disinggahi kapal RSTA sebagai pemberian pertolongan, agar diberikan kemudahan dan kelancaran terhadap penerbitan SPB dan pengangkutan barang yang diangkut.