JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir menghadiri rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Ruang Rapat Gedung Nusantara I, Selasa (21/5). Rapat itu dipimpin oleh Wakil Ketua  Komisi VII DPR RI, Syaikhul Islam dan  dihadiri beberapa anggota Komisi VII. Dengan membahas tiga agenda yakni peranan Kemenristekdikti dalam meningkatkan paten, sinergi antara LPNK di bawah naungan Kemenristekdikti dan juga status kelembagaan.

Menristekdikti, Mohamad Nasir mengatakan dalam lima tahun ini, pihaknya berupaya mendorong peningkatan jumlah paten yang ada di Indonesia. Dimana paten yang dihasilkan, merupakan kebijakan yang telah dilakukan berdasarkan UU No 13/2016 tentang Paten. Dari UU tersebut melahirkan PP 45/2016 tentang jenis dan tarif PNBP bagi Paten, dan juga Permenristekdikti No 20/2017 tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan profesor.

“Dalam meningkatkan jumlah paten di Indonesia. Kita melakukan program insentif sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI), pelatihan penulisan draft paten, insentif pendaftaran paten dan sosialisasi paten. Ini yang sudah kita lakukan,” jelas Menteri Nasir.

Menurut Menteri Nasir, sejauh ini pencapaian paten di Indonesia sudah mengalami peningkatan yang luar biasa. Karena telah mencapai melebihi target yang ditetapkan. Dimana pada tahun 2015, kita menargetkan jumlah paten sebanyak 1580, namun berhasil mencapai 1877 paten. “Begitupun tahun 2016 peningkatan dari rencana target 2200. Peningkatan cukup tinggi. 2017 peningkatan 2555. Ini jumlah yang signifikan. Apabila dibandingkan di Asia Tenggara cukup baik,” ulasnya.

Dikatakannya, pada tahun 2014 Indonesia selalu urutan no 4 di Asia Tenggara, di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Indonesia. Namun kemudian bisa terus meningkat. Adanya pergerakan peningkatan ini dengan adanya berbagai regulasi yang terus diperbaiki. “Tahun 2018 peningkatan luar biasa besar ada 2842 paten, dari tahun 2017 sebanyak 2271 paten. Dengan melihat statistik  ini, berarti kita leading di Asia Tenggara yang selama ini, kita selalu di bawah Thailand,” ucapnya.

Selain mendorong dari sisi kuantitas, kualitas paten juga turut menjadi perhatian. Dengan harapan paten ini nantinya akan menciptakan suatu produk atau inovasi pengembangan produk. Dia mencontohkan untuk paten yang berhasil dilakukan oleh LPNK di bawah Kemenristekdikti dengan sinergi dengan industri.

Seperti dalam bidang penerbangan, produk N219, dimana yang terlibat disana ada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasinonal (LAPAN), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT),  dengan PT Dirgantara Indonesia dan Kementerian Perhubungan, telah menghasilkan satu paten desain industri, satu paten prototype N-219, dua paten laboratorium dan tes artikel. Begitu juga dengan inovasi di bidang teknologi pangan berbasis pada sumber daya lokal, yang melibatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Kelautan dan Perikanan, perguruan tinggi yang menghasilkan contoh mie jagung atau mie kering, asam folat alam, probas, dan smart food menghasilkan 44 paten dan 179 publikasi.

“Bicara masalah paten ini memang perlu didahului riset yang dilakukan kalau dilihat 2015 dan sebelumnya. Indonesia 20 tahun lalu selalu dibawah Thailand, Singapura dan Malaysia. 2015 pergerakan membaik, 2018 sudah nomor dua dengan 32.950 publikasi. Kita sudah meloncat,” jelasnya.

Di lain sisi, Menteri Nasir juga menyebut capaian dalam menghasilkan start-up di Indonesia. Saat ini Indonesia dalam lima tahun terakhir sudah menciptakan 1.300 start-up. Padahal Iran perlu 10 tahun untuk mencapainya. Begitu pula masalah energi, dari palm oil diubah menjadi bahan bakar minyak. Dikembangkan dari chemical katalis yang disebut katalis merah putih. “Ini harga jauh lebih murah, hasilnya jauh lebih baik. Kalau itu dari fosil, oktan 98 maksimum. Ini oktan-nya sampai 110 hasil inovasi dari Kemenristekdikti. Ini sudah diterapkan di Industri. Di pertamina di Dumai,” ulasnya.

Pihaknya juga mendorong inovasi yang muncul dari masyarakat, agar bisa menjadi paten. Ini program Kemenristekdikti, dengan melakukan intervensi dan pendampingan. Harapannya, selain banyak melahirkan paten tapi berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

Please follow and like us:
0