Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT turut berupaya mencegah dan mengurangi kebakaran hutan dan lahan di wilayah nasional. Upaya paling jitu yakni dengan optimalisasi pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca, atau biasa dikenal hujan buatan.

Kegiatan penyemaian awan atau hujan buatan ini, dimotori oleh Balai Besar – Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT. Diungkap oleh Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza,  dalam melaksanakan operasi nya, BBTMC BPPT hanya memiliki dua (2) armada pesawat terbang. Kedua pesawat ini katanya, dalam kondisi unserviceable. 

“Satu pesawat jenis casa 212-200 ini digunakan untuk melakukan penyemaian awan dengan bahan semai powder(NaCl). Sedangkan 1 pesawat jenis piper cheyenne digunakan untuk melakukan penyemaian awan dengan bahan semai flare. Dikarenakan kondisi pesawat yang unserviceable, saat ini BPPT dalam melakukan pelayanan TMC menyewa pesawat dengan pihak swasta,” paparnya saat meninjau pelaksanaan Operasi TMC di Palembang, Sabtu (26/10/2018).

Pihak swasta, yakni PT. Pelita Air Service dikatakan Deputi TPSA, terbatas hanya 1 buah pesawat.  Hal ini dikarenakan pesawat yang digunakan untuk operasi TMC, haruslah pesawat khusus yang sudah dimodifikasi sesuai peruntukan. Jadi hingga kini, padatnya Operasi TMC, untuk kegiatan tertentu atau kebencanaan, lebih banyak didukung armada pesawat dari TNI Angkatan Udara.

“Kedepannya kami harapkan adanya tambahan armada pesawat untuk menunjang kegiatan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca,” ujarnya.

Selain untuk kebencanaan, Operasi TMC diutarakan Deputi TPSA,  dapat digunakan untuk mendukung program nasional pemerintah dalam program kedaulatan pangan. Khususnya dalam menjamin keberlangsungan pasokan air irigasi.

“TMC ini dapat dimanfaatkan untuk menambah pasokan air irigasi pada beberapa waduk strategis di 10 Provinsi sentra penghasil beras di Indonesia sehingga TMC  dapat menjadi salah satu solusi teknologi yang bisa dikedepankan untuk dapat diterapkan di 10 provinsi penghasil beras tertinggi di Indonesia guna mendukung program kedaulatan pangan,” gagasnya.

 

Hasil Operasi TMC Sumsel

 

Sebagaimana kita ketahui bersama setiap tahun TMC ini selalu diupayakan dalam hal mitigasi bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah lahan gambut di Indonesia khususnya di Sumatera Selatan. TMC telah memberi dampak positif yang dirasakan seperti jarak pandang/ visibilty yang baik sehingga kegiatan penerbangan tidak terganggu dan kondisi udara yang sehat karena tidak adanya asap yang dapat mengganggu pernapasan.

Dipaparkan oleh Kepala Bidang Pelayanan Teknologi BBTMC BPPT, Sutrisno, kegiatan TMC di Sumatera Selatan pada tahun 2018 ini telah dilakukan sejak 16 Mei 2018 hingga sekarang.

“Operasi TMC di Sumsel ini sudah menghasilkan air hujan sekitar 745,83 juta m3 yang telah memadamkan titik api dan membasahi lahan gambut untuk mencegah timbulnya titik api yang dapat menimbulkan bencana kebakaran hutan dan lahan,” terangnya.

Selain di Sumatera Selatan, BPPT juga sebelumnya membuka Posko yang sama di Pontianak Kalimantan Barat. Kegiatan di Kalimantan Barat berlangsung dari tanggal 19 Agustus – 8 Oktober 2018 dan sudah menghasilkan air hujan sebanyak 472,68 juta m3. Kegiatan di Kalimantan Barat selanjutnya dihentikan karena kondisi curah hujan yang sudah cukup tinggi di daerah tersebut dan dirasa sudah aman dari gangguan asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Dalam upaya untuk mendukung kegiatan acara kenegaraan dalam waktu dekat ini, TMC akan dilakukan pada tanggal 28 Oktober di wilayah Bogor dan sekitarnya guna mengamankan peringatan Hari Sumpah Pemuda dari gangguan cuaca ekstrem. Dalam kegiatan tersebut, BPPT bekerjasama dengan TNI Angkatan Udara dengan didukung oleh 2 armada pesawat jenis casa 212-200 dari skadron 4 Malang dan pesawat jenis CN-295 dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma. (Humas/HMP)