Yogyakarta, Humas LIPI. Pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memungkinkan negara-negara ASEAN dapat menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara. “Indonesia menjadi pasar terbesar kawasan ASEAN yang diperebutkan bukan hanya oleh sesama negara ASEAN tetapi juga negara-negara non-ASEAN,” ujar Deputi Bidang Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mego Pinandito di Yogyakarta pada Kamis (25/10) lalu.

Menurut Mego, muncul beberapa tantangan yang harus dihadapi bangsa Indonesia dalam keikutsertaan dalam MEA.” Industri Indonesia perlu meningkatkan standar kalibrasi dan pengukuran kualitas produk dan jasa agar bisa bersaing di pasar ASEAN,” jelasnya. Menurut Mego, tantangan yang dihadapi Indonesia bukan hanya persaingan dengan negara sesama ASEAN tetapi negara lain diluar ASEAN seperti Tiongkok dan India.

LIPI melalui Pusat Penelitian Metrologi dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan The 5Th EGM Meeting Internasional Symposium and Metrology Socialization and Calibration Workshop bertempat di Alana Hotel and Convention, Yogyakarta tanggal 25 Oktober 2018. Kegiatan ini dihadiri oleh 150 peserta dari kalangan industri, perdagangan, perguruan tinggi, dan laboratorium kalibrasi negara-negara ASEAN. “Para pembicara memaparkan sejauh mana kesiapan infrastruktur metrologi yang ada di Indonesia dan ASEAN untuk berperan dalam daya saing perekonomian,” jelasnya.

Menurut Mego, kegiatan ini merupakan sarana untuk berbagi pengetahuan, pengalaman dan forum untuk para pemegang kebijakan terkait infrastruktur metrologi dalam memberikan pemahaman dan informasi terkait pelaksanaan infrastruktur. “Selain diskusi kegiatan ini juga meliputi workshop kalibrasi bagi para praktisi kalibrasi di laboratorium kalibrasi, pengujian maupun industri untuk memperkaya pengetahuan dari sisi teknis,” tutup Mego. (rdn)