Selasa (23/10), bertempat di Studio @America lantai 4 Pasific Place, Jakarta berlangsung pemutaran film semi dokumenter karya Michael Barnett dengan tema The Mars Generation. Acara tersebut dilanjutkan dengan diskusi untuk mengupas pesan yang disampaikan film itu tadi. Diskusi yang dipandu Firly Esthianty Savitri, anggota komunitas Ilmuan Muda Indonesia ini menghadirkan narasumber Peneliti Astronomi dan Astrofisika, Pusat Sains Antariksa LAPAN, Muhamad Zamzam Nurzaman.

Diskusi membahas tentang bagaimana simulasi hidup di Planet Mars dan di tempat lainnya di antariksa. Pemaparannya dengan menggambarkan bagaimana astronot mendaur ulang urine, menanam dengan sedikit oksigen, melakukan aktivitas dengan sistem rendah gravitasi, serta merespons pemahaman kehidupan di planet tersebut di masa mendatang.

Dalam pemaparannya, Zamzam menjelaskan, salah satu planet yang dianggap sangat memungkinkan dengan kehidupan manusia adalah Mars. Alternatif ini merupakan kajian yang dianggap masuk akal dan akan dibuat grand design sebagai roadmap terwujudnya cita cita yang masih di alam mimpi.

Sebab, semua berawal dari mimpi! Sebagaimana contoh pendaratan Neil Armstrong di Bulan tahun 1969, yang beberapa dekade sebelumnya hal itu adalah mimpinya. Jadi, “manusia tidak boleh berhenti bermimpi!” jelasnya. Contohnya, mimpi itu kini bisa direalisasikan dengan adanya kemajuan teknologi. Ia memberikan contoh, harga transportasi astronot untuk ke antariksa membutuhkan biaya sekira 70 juta USD perorang. Dengan teknologi yang dibangun oleh Elon Musk dengan misi space X, menjadi salah satu solusi untuk memangkas biaya shuttle secara signifikan.

Diskusi ini juga dilakukan dengan media telekonferens dengan si pembuat fim dokumenter yang juga praktisi antariksa di Los Angeles, Amerika Serikat, Michael Barnett. Peserta bebas bertanya langsung ke Michael.

Dalam diskusi, Zamzam menjelaskan bahwa LAPAN memiliki kompetensi untuk membangun teknologi yang akan memberangkatkan manusia ke Planet Mars. Selain itu, LAPAN adalah lembaga yang memang khusus meneliti dan mengembangkan ilmu sains antariksa, cuaca antariksa, pengamatan benda langit, serta infrastruktur roket dan satelit.

Diharapkan, acara yang dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa ini dapat membuka wawasan, bagaimana membuat gagasan alternatif dalam mempertahanlan kelestarian keberlangsungan kehidupan manusia.

Perlunya membuka pikiran dengan melakukan simulasi kehidupan dalam ekosistem yang berbeda, sangat memungkinkan untuk mengatasi peristiwa yang tidak memungkinkan bisa terjadi. Seperti halnya bencana alam, perubahan iklim, perang, wabah penyakit, dan polusi zat zat kimia. Hal tersebut bisa menyebabkan Bumi sebagai tempat tinggal manusia dan ekosistemnya sudah tidak layak dan tidak aman lagi dihuni. Sehingga hal tersebut menjadi ancaman bagi kehidupan generasi berikutnya.