Surabaya, 23 Oktober 2018

Krisis bahan bakar yang melanda dunia juga berimbas pada Indonesia. Hal ini diakibatkan oleh menurunnya persediaan bahan bakar fosil dan harganya yang cenderung tidak stabil. Selain itu, dunia juga dihadapkan pada permasalahan pemanasan global yang timbul akibat penggunaan bahan bakar fosil.

Latar belakang inilah yang mendorong dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Siti Zullaikah ST MT PhD, untuk memanfaatkan ragi L. starkeyi sebagai jalan keluar dari permasalahan energi lewat biodiesel yang ramah lingkungan.

Dikatakan Zulle, sapaan akrabnya, ada banyak energi alternatif yang kemudian ditawarkan guna menghadapi situasi tersebut. Tenaga matahari, angin, air, reaksi kimia, dan lainnya tentu memiliki kelebihan masing-masing. Namun, tidak banyak energi alternatif yang mudah penerapannya pada alat transportasi.

Oleh karena itu, menurut perempuan berhijab ini, perlu dicari energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. “Salah satu energi alternatif yang sudah diproduksi secara komersial serta pemanfaatannya tidak perlu modifikasi mesin kendaraan adalah biodiesel,” ungkap dosen Teknik Kimia ITS ini.

Zulle juga menambahkan, setidaknya ada dua sumber yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan biodiesel, yakni bahan baku yang dapat dikonsumsi (edible) dan bahan baku yang tidak dapat dikonsumsi (inedible). Kebanyakan industri sebenarnya telah memproduksi biodiesel dari bahan baku yang dapat dikonsumsi.

“Seperti pemerintah Indonesia yang memproduksi biodiesel dari minyak kelapa sawit, namun biaya produksi yang dapat mencapai 70 persen dari total biaya produksi menjadi masalah utama komersialisasi biodiesel tersebut,” paparnya.

Maka, menurutnya, pemanfaatan bahan baku nonkonsumsi adalah pilihan utama dalam produksi biodiesel. Pilihan jatuh pada microbial oil (minyak yang dihasilkan oleh mikroba) yang dihasilkan ragi jenis oleaginous, secara spesifik menggunakan L.starkeyi sebagai objek penelitiannya sejak tahun 2004.

L.starkeyi mempunyai kandungan minyak yang tinggi hingga 60 persen. Ia juga memiliki komposisi asam lemak yang sesuai untuk bahan baku biodiesel. Selain itu, mikroba ini mempunyai siklus produksi yang pendek dan tidak bergantung pada musim dan cuaca, serta mudah untuk dikembangbiakkan. “Minyak yang dihasilkan pun lebih mudah diekstraksi dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan alga,” bebernya.

Dijelaskan Zulle, rata-rata ragi ini mengakumulasi minyak dalam proses metabolismenya hingga 40 persen dari biomassanya. Namun, dalam kondisi keterbatasan nutrisi, mereka dapat mengakumulasi minyak melebihi 70 persen dari biomassa. “Ragi oleaginous adalah mikroorganisme bersel satu (uniseluler), tanpa endotoksin, dan bisa direkayasa genetik serta cocok untuk fermentasi dalam skala besar,” jelas doktor lulusan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ini.

Dari penelitian ini, Zulle berharap, Indonesia memiliki sistem produksi biomassa dan produk berbasis bio yang terintegrasi menggunakan konsep biorefinery. Yakni proses eksplorasi biomassa menjadi berbagai produk yang dapat dipasarkan, seperti energi.

Penggerak utama untuk pendirian biorefinery adalah pada aspek keberlanjutan (ketersediaan bahan baku). “Konsep ini sangat sesuai dengan negara kita, Indonesia, yang kaya akan berbagai macam biomassa, makroalga, mikroalga dan mikroorganisme,” pungkasnya. (HUMAS ITS)