Surabaya, 13 September 2018

Untuk membantu pergerakan anak dengan kebutuhan khusus, mahasiswi Departemen Desain Produk Industri (Despro) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan sebuah sepeda terapi. Sepeda yang merupakan karya Tugas Akhir (TA) ini ditujukan bagi anak usia enam hingga 12 tahun pengidap Cerebral Palsy (CP).
Ide karya TA ini didasari oleh adanya angka penderita CP di Surabaya yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan khusus yang lain. Produk sepeda ini pun didesain sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan pasien, yang dilengkapi juga oleh komponen-komponen penunjang.

Ialah Elly Fitriana Soedjito, mahasiswi yang akan diwisuda pada 16 September ini menciptakan sepeda terapi tersebut. Sepeda yang ia konsep ini dilengkapi dengan komponen-komponen penunjang, di antaranya adalah komponen yang dapat disesuaikan ukurannya terhadap pertumbuhan anak. Ia sengaja mendesain seperti itu untuk memudahkan penggunanya, yaitu anak-anak yang sedang dalam proses pertumbuhan.

Ia pun mengatakan bahwa sepeda ini juga menyediakan komponen untuk mempermudah interaksi dengan orang tua. Jadi, sepeda ini juga dilengkapi dengan handle di belakang sepeda. “Dengan begitu, orang tua dapat mengendalikan sepeda dari belakang dengan cara mendorong,” tutur Asisten Laboratorium Human Centered Design Departemen Despro ini.

Pada dasarnya, sepeda ini ia desain sebagai alat terapi yang menyenangkan bagi anak-anak penderita CP. Menurut Elly, anak-anak butuh alat terapi yang menyenangkan bagi dunia mereka sekaligus sebagai sarana pembelajaran. Dengan sepeda ini, anak-anak penderita CP dapat melakukan terapi pergerakan pada kakinya. “Selain itu juga dapat belajar terkait lingkungan sosial, dengan cara interaksi mengemudikan sepeda bersama dengan orang tua,” jelasnya.

Alat terapi penunjang ini pun ia tuangkan dalam TA untuk mendapatkan gelar sarjana di departemennya. Elly mengaku terinspirasi dari TA seniornya yang pernah membuat kursi roda dan orthosis untuk anak-anak pengidap CP. Selain itu, ia juga merasa prihatin terhadap anak-anak penderita CP sejak lahir dan perlu terapi lebih dini.

Gadis berkacamata ini pun menceritakan kisahnya selama melakukan survey. Ia mendapati jumlah penderita CP yang relatif tinggi dibanding kebutuhan khusus lainnya di Surabaya. Terbukti dengan adanya yayasan khusus penderita CP di Surabaya, yaitu Yayasan Peduli Cerebral Palsy (YPCP).

Pengerjaan sepeda terapi ini ia mulai pada bulan September tahun lalu, hingga Juni tahun ini. “Lamanya pengerjaan sepeda ini karena butuh konsep yang matang. Selain itu, waktu pengerjaan dihabiskan untuk kegiatan pengembangan bentuk dan produksi,” ujar mahasiswi berjilbab ini.

Beruntung, hasil TA Elly mendapatkan nilai yang sempurna yaitu A. Elly pun merasa puas terhadap hasilnya, meskipun menurutnya, sepeda terapi ini masih perlu dikembangkan lagi. Tantangan terbesarnya dalam merampungkan sepeda tersebut ialah mencari dan berinteraksi dengan anak penyandang CP beserta orang tuanya.

“Kesulitan ini selalu membuat saya sering maju mundur. Namun saya yakin meskipun prosesnya menyakitkan, pasti akhirnya akan menyenangkan dan terbayar semua kerja keras itu,” katanya dengan semangat.

Ke depannya, ia berharap agar sepeda karyanya ini dapat diproduksi dan digunakan dengan tepat sasaran untuk anak anak CP. Karena beberapa terapis yang ia temui bercerita bahwa sejauh ini belum ada yang benar-benar memproduksi sepeda untuk CP di Indonesia. Di luar negeri sudah ada, tapi harganya mahal dan harus mengimpor. “Mereka pun berharap sepeda ini bisa terus dikembangkan agar bisa benar-benar dipakai untuk yang membutuhkan,” pungkasnya penuh harap. (HUMAS ITS)