Kebutuhan masyarakat yang tinggi akan kedelai tidak sebanding dengan produksi kedelai nasional. Salah satu penyebab turunnya produksi kedelai adalah serangan penyakit karat daun kedelai yang dapat menurunkan produksi sampai 90 persen.

Dari permasalahan tersebut, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan formulasi bakteri endofit asal tanaman brotowali sebagai alternatif obat bagi penyakit karat daun kedelai. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Desy Eka Putri, Wahyuning Dwi Novitasari, dan Lisa Bela Fitriani dari Fakultas Pertanian IPB. Ide solutif tersebut lolos sebagai salah satu finalis Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang dibimbing oleh Dr. Ir. Abdul Munif M.Sc Agr.

Desy menceritakan bahwa bakteri endofit dari tanaman brotowali memiliki banyak keunggulan apabila dimanfaatkan sebagai pengendali hama tanaman.

“Saat ini kita butuh pengendalian tanaman yang ramah lingkungan dan ekonomis, sehingga kita coba gunakan organisme berupa bakteri endofit dari tanaman brotowali. Tanaman brotowali merupakan tanaman obat yang bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan penyakit karat daun kedelai. Selain itu, pengendalian hama ini juga tidak berbahaya apabila dimakan oleh manusia,” jelas Desy

Desy menerangkan bahwa keberhasilan bakteri endofit untuk menekan penyakit karat daun cukup efektif dan mudah diaplikasikan.

“Kita coba buat formulasi bakteri endofit berbentuk cair agar mudah diaplikasikan dengan campuran air kelapa, sukrosa, dan minyak kelapa sawit. Jadi benih yang akan ditanam direndam dulu ke dalam campuran formulasi baru disemai di tanah. Sejauh ini bakteri endofit yang sudah lolos uji adalah bakteri kode BBT 106 yang mampu menekan serangan penyakit karat daun kedelai dan meningkatkan produksi tanaman sekitar 59-60 persen lebih baik dari kondisi kontrol (tanpa bakteri endofit),” terang Desy

Desy dan tim berharap dampak dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi peningkatan produksi kedelai. “Harapannya produksi kedelai skala provinsi dapat meningkat sehingga tidak perlu lagi adanya impor kedelai. Selain itu, semoga bisa diaplikasikan dengan petani setelah dikembangkan dalam skala besar,” harap Desy. (UAM/Zul)