Jakarta, Humas LIPI.  Pada tahun ini  pemerintah menargetkan konsumsi listrik masyarakat akan meningkat menjadi 1.129 kwh/kapita. Indonesia sendiri memiliki berbagai sumber daya mineral yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kelistrikan, namun ketergantungan Indonesia masih banyak bergantung pada impor material maju

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Fisika dan Pusat Penelitian Melalurgi dan Material LIPI tengah mengembangkan Superkonduktor dan Baterai Lithium dari Tempurung Kelapa.

“Kami tengah  mengembangkan komponen baterai lithium berupa karbon yang didapat dari bahan lokal seperti tempurung kelapa, serbuk teh, dan biomassa,” jelas Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Ahmad Subchan. Menurut Ahmad, tempurung kelapa  dapat digunakan karena memiliki bahan karbon aktif yang digunakan sebagai aditif dalam proses pembuatan elektroda.

Ahmad menambahkan, bahan aditif karbon ini digunakan untuk meningkatkan nilai konduktivitas listrik, baik ionik maupun elektronik. Penggunaan karbon aktif yang optimum ini dapat meningkatkan kapasitas dan kemampuan daya baterai yang lebih tinggi. “Produksi listrik akan terus meningkat. Sehingga diperlukan penyimpanan energi sehingga tidak terbuang sia-sia. Bahan karbon dari baterai lithium ini pun ramah lingkungan karena berasal dari bahan alam,” jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaaan karbon aktif dari bahan lokal juga memiliki biaya yang lebih rendah namun bisa menghasilkan produk elektroda yang lebih tinggi performanya. “Kami berharap  dari prototipe yang ada saat ini, ada pihak  industri yang tertarik untuk bisa produksi secara massal sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat,” terangnya.

Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, Agung Imaduddin menjelaskan risetnya tentang kawat superkonduktor berbasis bahan lokal . “Superkonduktor dapat diaplikasikan terutama dilakukan pada bidang penghantar dan penyimpanan energi listrik, transformer dan motor listrik, serta alat kesehatan (MRI).”

Penerapan kawat superkonduktor pada bidang listrik menurut Agung dapat menghemat biaya hingga Rp 8,5 miliar per kilometer per tahun. Ia akan berkomunikasi dengan PLN untuk membuka kemungkinan penerapan superkonduktor secara massal.

“Berdasarkan referensi memang Rp 8,5 milisr per km per tahun. Kami juga belum menghitung untuk kapasitas listrik di Indonesia ya, karena kalau di Indonesia dengan kondisi sekarang itu sekitar 20-30 persen itu hilang di tengah jalan. Jadi sedangkan kalau pakai kawat superonduktor itu bisa hilangnya paling cuma 2-3 persen. Jadi penghematannya akan sangat bisa diperoleh,” jelas Agung. (lyr/ed: fza)