Serpong, (02/05/2019). Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah mengelola limbah radioaktif se – Indonesia sejak tahun 1988. Di dalam pengelolaannya, PTLR BATAN mengutamakan prinsip 3 S, yakni safety, security dan safeguard. “Sudah menjadi komitmen  Indonesia bahwa pengelolaan limbah radioaktif itu harus selamat (safety) dan aman (security), jangan sampai limbah radioaktif ini hilang atau dalam pengelolaanya dilakukan dengan tidak benar atau disalahgunakan, serta safeguard, artinya terdata dengan sangat baik dan diawasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dan International Atomic Energy Agency(IAEA),” ungkap Kepala PTLR BATAN, Husen Zamroni, saat Media Briefing di Telaga Seafood BSD, Serpong, Kamis (02/05).

Ia menjelaskan, tugas PTLR BATAN adalah melakukan pengelolaan reduksi volume sehingga volume limbah radioaktif menjadi sekecil mungkin. Beberapa jenis pengelolaan limbah radioatif bisa digunakan kembali. Artinya, bisa di – reuse ataupun di recycle.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 61 Tahun  2013 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif dan Peraturan Kepala BATAN No. 7 Tahun 2017, bahwa zat radioaktif terbungkus yang tidak digunakan lagi yang disimpan di PTLR BATAN bisa di – reuse ataupun di recycle. “Di – reuseartinya digunakan kembali dan di – recyle artinya diolah atau didaur ulang sesuai permintaan pengguna”, jelas Husen.

Misalnya, kegiatan radioterapi untuk pengobatan kanker di rumah sakit menggunakan sumber radioaktif cobalt – 60 yang memancarkan sinar gamma, menghasilkan limbah radioaktif, kemudian setelah diolah di PTLR BATAN bisa digunakan kembali untuk kegiatan kalibrasi di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) BATAN. Dengan memanfaatkan limbah radioaktif, PTKMR BATAN bisa memangkas biaya pembelian sumber radioatif.

“Misalnya PTKMR BATAN, memanfaatkan zat radiaoktif terbungkus dari Rumah Sakin Ulin, Banjarmasin. Aktivitas radioaktifnya besar, yakni 2.500 curie. Kemudian ketika menjadi limbah, terjadi peluruhan, namun bisa dipakai lagi untuk kalibrasi.  Kalau harus beli baru harganya 7 miliar rupiah. Dengan proses reuse, hanya 40 juta rupiah bisa digunakan lagi. Artinya efisiensi secara ekonomis sangat besar sekali,” tutur Husen.

Limbah radioaktif juga bisa digunakan kembali untuk kegiatan pendidikan. “Misalnya Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdkilat) BATAN, kalau harus beli sumber radioaktif terbungkus 5 mili currie harganya bisa 200 juta rupiah, tapi kalau menggunakan limbah radioaktif itu hanya 20 juta rupiah, itu untuk biaya perizinan, dsb”, terang Husen.

Selain sangat efisien dari sisi ekonomis, reuse dan recycle limbah radioaktif juga sebagai upaya dalam meminimalkan jumlah limbah radioaktif di Indonesia. “Kalau beli sumber radioaktif baru dari luar negeri kan artinya nanti jadi limbah lagi, tapi kalau dengan memanfaatkan limbah yang ada, artinya mengurangi volume limbah menjadi sekecil mungkin,” katanya.

Husen menyebut, limbah radioaktif yang diterima berasal dari kegiatan riset di internal BATAN, industri, dan rumah sakit. Limbah-limbah tersebut diolah menjadi sekecil mungkin dengan 4 perlakuan, yakni evaporasi, insenerasi, kompaksi, dan imobilisasi.

Mekanisme layanan pengelolaan limbah radioaktif dapat dilakukan melalui aplikasi berbasis online bernama E –LIRA. Pengangkutan limbah radioaktif pun tidak bisa sembarangan, harus melalui mekanisme perizinan dari BAPETEN.

“Jadi tidak bisa penghasil limbah radioaktif tiba-tiba mengangkut limbah lalu dibawa ke BATAN, ada mekanisme perizinan yang harus dipenuhi penghasil limbah, diatur dalam PP Nomor 58 Tahun 2015”, tambahnya.

Ia mengaku, kemampuan BATAN membuat banyak negara menjadikan Indonesia sebagai acuan untuk belajar pengelolaan limbah radioaktif, antara lain Myammar, Kamboja, Palestina, Mongolia, dan Lybia.

Deputi Kepala BATAN bidang Teknologi Energi Nuklir (TEN), Suryantoro menambahkan, walaupun pengelolaan limbah radioaktif bisa digunakan kembali, BATAN berkomitmen untuk selalu memperhatikan prinsip 3 S sehingga tidak membahayakan pekerja, pengguna, maupun masyarakat. Sejak tahun 1988, BATAN telah menampung limbah radioaktif yang tersimpan di dalam sekitar seribu drum.

“Walaupun limbah radioaktif bisa di reuse dan recycle, tetapi tetap harus diyakinkan kajian keselamatannya, sehingga tidak membahayakan penggunanya. Orang itu kalau mendengar kata nuklir sudah takut duluan, padahal zat radioaktif itu dari skala 1 hingga 9, dengan skala 1 yang paling berbahaya, zat radioaktif itu termasuk di kategori bahaya level 7, karena radioaktif itu sangat diperhatikan keselamatannya, harus terbungkus dengan kotak atau timbal dan sebagainya dan harus diukur sehingga paparan radioaktifnya sekecil mungkin,” tuturnya (tnt).

sumber :
http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/teknologi-energi-nuklir/teknologi-limbah-radioaktif/5489-limbah-radioatif-bisa-digunakan-kembali