Surabaya, 4 Oktober 2018

Indonesia memang sedang berduka, terhitung dalam waktu kurang dari tiga bulan sudah ada dua musibah besar terjadi di dua wilayah Indonesia yang berbeda. Gempa bumi dengan kekuatan 7 skala richter pada 29 Juli lalu berhasil menelan paling banyak korban di Lombok Utara serta menghancurkan rumah warga yang ada di sana. Disusul pada 28 September lalu, gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter disertai tsunami menerjang Kabupaten Donggala dan Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Terhitung hingga detik ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sudah 1.407 orang yang menjadi korban jiwa bencana alam yang terjadi di Palu dan Donggala tersebut.

Sontak musibah lebih masif yang terjadi di Palu – Donggala ini memang banyak menarik perhatian masyarakat maupun pemerintah. Namun, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melalui Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) yang dari awal sudah bertekad membantu di Lombok serasa tidak ingin teralihkan perhatiannya.

Hari ini, Kamis (4/10), Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD bersama sejumlah pimpinan ITS dan tim PSKBPI mengunjungi para korban yang ada di Desa Rempek Darussalam, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Di desa tersebut lah posko bantuan bencana alam ITS didirikan.

Sebelum menuju posko, Rektor ITS beserta rombongan disambut di kediaman Bupati Lombok Utara, Dr H Najmul Akhyar SH MH. Pada kesempatan itu, Prof Joni Hermana dan rombongan menyampaikan progres bantuan ITS yang berkomitmen membangun 914 Hunian Sementara (Huntara) di desa Rempek Darussalam ini.

Hal tersebut disambut positif oleh Bupati Lombok Utara. Ia mengatakan, program Huntara ITS ini sangat membantu dan bermanfaat sekali bagi warganya. Pasalnya, Najmul juga telah mencanangkan program ‘Kembali ke Rumah’ untuk warganya. Sehingga diharapkan tidak ada lagi warga yang menempati tenda-tenda pengungsian. Karena hal itu dapat menurunkan psikologis korban gempa jika tidak secepatnya kembali ke rumah dan lingkungan mereka.

“Adanya peran perguruan tinggi dalam bantuan di Lombok ini sangat membantu, karena bantuan bisa terlaksana secara langsung,” ujarnya.

Sementara itu, Prof Joni Hermana menegaskan bahwa ITS tidak akan meninggalkan Lombok dan langsung beralih ke Palu. ITS tetap berkomitmen untuk membantu keduanya, dengan tetap melaksanakan tanggungjawabnya untuk membantu proses pemulihan kondisi kesejahteraan masyarakat dan infrastruktur di Lombok Utara pascabencana.

“Saya sangat terkesan dengan apa yang sudah dilakukan oleh segenap tim ITS dalam jangka waktu yang singkat, berhasil memotivasi dan memfasilitasi masyarakat setempat agar mereka kembali pulih dan membangun wilayahnya secara mandiri,” ungkapnya.

Menurutnya, hal itu merupakan sebuah pembelajaran yang baik bagi segenap sivitas akademika ITS bahwa sebagai perguran tinggi, ITS mampu melakukan upaya untuk memberdayakan masyarakat dan memulihkan kembali kondisi mereka tanpa harus bergantung pada bantuan dari pemerintah yang dirasa sulit.

Senada dengan Rektor ITS, Lalu Muhammad Jaelani ST MSc PhD selaku Kepala PSKBPI ITS mengatakan, ITS ikut perihatin dengan apa yang terjadi di Sulawesi Tengah dan ITS sudah menyiapkan untuk bantuan di sana. Namun, ITS juga tak ingin begitu saja mengesampingkan kondisi yang ada di Lombok saat ini, yang memang masih butuh perhatian penuh.

Dirinya membandingkan dengan keadaan gempa yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006 silam. Saat itu gempa dengan 5,9 skala richter dengan perhatian penuh pemerintah, proses rehabilitasinya memakan waktu hingga tiga tahun. Maka, kondisi lombok dengan kekuatan gempa yang lebih tinggi dan perhatian pemerintah belum sepenuhnya menangani tentu akan memakan waktu lebih lama untuk proses pemulihan kondisi seperti semula.

“Di desa Rempek Darussalam dampingan ITS ini saja total ada 3.300 orang yang kehilangan rumah, belum di daerah lain. Tentu saja Lombok masih sangat membutuhkan perhatian kita (warga Indonesia dan pemerintah, red),” tutur pria lulusan University of Tsukuba, Jepang itu.

Pria yang juga asli Lombok ini menjelaskan, saat ini di desa Rempek Darussalam dampingan ITS sudah bisa menikmati air bersih walau masih belum maksimal. Ada beberapa rumah yang sudah bisa mengambil air bersih dari sumbernya dengan pipa-pipa yang dibangun secara swadaya ITS bersama masyarakat, dan ada juga rumah yang masih mengandalkan tandon air untuk mencukupi kebutuhan air bersihnya. Sementara, untuk listrik sudah dapat dinikmati kembali oleh masyarakat sana.

Ia juga menekankan, masyarakat Lombok saat ini lebih butuh perhatian pada pembangunan infrastruktur. “Kalau logistik mereka sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, yang lebih perlu dibantu adalah hunian dan air bersih, fasilitas umum, sekolah, masjid, serta puskesmas,” tandasnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap mencurahkan perhatiannya juga kepada masyarakat Lombok. Dengan tetap pula membantu untuk korban bencana alam yang terjadi di Palu dan Donggala. Ia juga mengimbau, untuk semua stakeholder baik perusahaan swasta, BUMN, atau masyarakat yang ingin membantu, agar memberi perhatian 70 persen untuk Palu dan 30 persen untuk Lombok itu sudah cukup. “Jangan langsung tinggalkan Lombok dan alihkan semua ke Palu, karena saudara kita di Lombok masih butuh kita,” ujar pria berkacama tersebut.

Ia juga menambahkan, kini dari total 100 Huntara ITS 1.0, yang sudah dihuni oleh warga berjumlah 23 rumah, sisanya masih dalam proses pembangunan dan sudah jadi semua rangkanya. “Kami terus akan menyelesaikan pembangunan 914 Huntara ini, dan mereka yang sudah membantu dana untuk membangun Huntara bisa melihat rumah hasil sumbangan mereka di website sites.its.ac.id/rempekd,” ujarnya.

Pria yang kerap disapa Lalu ini juga menambahkan, kesuksesan ITS dalam mendampingi Desa Rempek Darussalam ini juga tak lepas dari bantuan para relawan ITS yang berasal dari Lombok asli dan para mahasiswa ITS yang menjadi relawan sejak awal musibah terjadi. Hingga saat ini, sudah ada lima kloter mahasiswa yang secara bergantian diberangkatkan ke Lombok, tugas mereka selain mendata kebutuhan masyarakat di sana, juga memberikan terapi trauma healing kepada anak-anak di sana. (HUMAS ITS)