Bandung – Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ismunandar didaulat sebagai pembicara dalam acara talk show IRAMA (Inspirasi Ramadhan), menggantikan Menristekdikti Mohamad Nasir yang berhalangan hadir. Acara yang diselenggarakan di Ruang Utama Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Minggu (12/5) ini merupakan acara rutin tahunan yang digagas oleh Yayasan Pembina Masjid Salman ITB dengan menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif berskala nasional, dan pada kesempatan kali ini mengangkat tema ‘Riset dan Teknologi: Nyata atau Maya?’.

“Ini adalah tantangan kita bersama, karena kita hidup di revolusi industri 4.0. Tantangan di zaman ini penuh dengan knowledge atau internet of things, yang intinya membuat kita semakin dituntut untuk menjadi manusia yang lebih kreatif lagi. Jadi kalau tadi judulnya ‘Riset dan Teknologi itu nyata atau maya?’ sudah lelas jawabannya, tidak usah dijawab lagi karena kepentingannya semakin ke depan semakin sangat penting,” tuturnya.

Ismunandar juga mengatakan bahwa dunia riset Indonesia itu merupakan ladang amal yang sangat besar. Menurutnya hal ini dikarenakan peta dunia riset kita masih samar-samar. Maka dari itu tugas dari para mahasiswa sebagai generasi yang akan datang adalah untuk membuat peta riset di tanah air menjadi semakin besar, semakin nyata, dan semakin dilihat oleh orang.

“Setiap riset yang di publish, lalu disitasi oleh orang lain, itu merupakan ilmu yang tidak akan pernah putus,” lanjutnya.

Meskipun masih samar-samar, bagi Ismunandar Indonesia sebetulnya memiliki potensi yang sangat besar. “Kita itu negara dengan penduduk terbanyak nomor 4 di dunia. Dari sisi ekonomi pun kita sekarang sudah mulai maju dengan masuk ke dalam 16 besar, dan berpotensi untuk menjadi negara terbesar ke-4 di tahun 2050. Bisa atau tidaknya, semua tergantung bagaimana kita menyiapkan generasi yang pada tahun 2050 kelak akan memimpin dan akan banyak berkontribusi, dan semuanya harus dipersiapkan dari sekarang,” tegasnya.

Pada kesempatan ini, Ismunandar juga memaparkan beberapa tantangan riset di Indonesia, yang beberapa diantaranya adalah:

  • Sumber Daya Manusia. Sumber daya riset di Indonesia terbilang masih kecil (jika dihitung dari jumlah peneliti per-juta penduduk). Riilnya peneliti aktif kita angkanya masih ratusan kurang bila bandingkan dengan negara-negara maju yang angkanya memang sudah puluhan ribu, bahkan ada yang sudah mendekati hampir ratusan ribu.
  • Dana. Anggaran riset Indonesia terbilang kecil per-GDP (Gross Domestic Product) yang masih di angka 0,25 persen. Sebagian besar angka tersebut berasal dari dana pemerintah, sementara dari pihak swasta masih kurang. Dana yang kecil ini yang benar-benar untuk riset juga kecil, karena total anggaran riset itu banyak terdapat di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) di berbagai Departemen, tidak semuanya dana riset itu berkumpul di Kemenristekdikti. Namun, riset yang mereka lakukan belum tentu sesuai dengan rencana strategis pemerintah. Akan tetapi, yang kini sudah mulai dibenahi adalah mulai sekarang masing-masing Balitbang boleh menganggarkan riset, tapi strategi nasionalnya ditetapkan dan kita (Kemenrisetdikti-Red) ditugasi untuk menyeleksi proposalnya, dan semuanya harus sesuai dengan agenda dari riset nasional.
  • Kelembagaan Riset. Balitbang yang ada di semua Departemen sistem kerja risetnya belum bisa bersinergi.
  • Relevansi. Menentukan apakah riset-riset kita sudah sesuai dengan kebutuhan industri, dan kebutuhan pembangunan.

Oleh karena itu, fokus Kemenristekdikti sejak tahun 2017 adalah dengan menetapkan 10 Prioritas Riset Nasional (pangan, energi, kesehatan, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, pertahanan dan keamanan, material maju, kemaritiman, kebencanaan, dan sosial humaniora), dan semua Balitbang di berbagai Kementerian diminta untuk mengarahkan risetnya seperti itu.

Kemenristekdikti juga mendorong universitas-universitas, dan para penelitinya untuk mematenkan dan memelihara hasil penelitiannya.

“Kalau ada sesuatu yang bisa dipatenkan, patenkan! Ini sekarang jumlah patennya juga naik. Namun, kadang komentarnya ada yang membeli tidak? Ada yang menjadikan produk tidak? Karena kadang-kadang paten hanya sekedar paten, tidak menjadi produk. Sebetulnya paten juga harus dipelihara, setiap tahun harus bayar, dan sebagainya. Ini juga menjadi PR berikutnya, bagaimana kita meningkatkan itu, riil menjadi produk yang kemudian bisa dijual,” bebernya.

Ismunandar kemudian mempresentasikan beberapa penelitian terkini yang berada di bawah naungan Kemenristekdikti, seperti pesawat N219 (LAPAN dan PT. DI), motor listrik Gesits (mulai dari baterai dan semua komponennnya merupakan kontribusi dari riset-riset yang ada di Indonesia), bioteknologi sapi potong (mulai dari bibit, makanan, dan inseminasinya diteliti oleh para peneliti dari LIPI dan IPB), juga Katalis Merah Putih (hasil riset tim peneliti ITB yang merubah minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar nonfosil berkualitas tinggi).

Di akhir paparannya, Ismunandar mengatakan tentang pentingnya riset dan pendidikan tinggi untuk merealisasikan potensi Indonesia. “Banyak yang menyebut Indonesia kaya akan sumber daya alam, namun jika hanya mengandalkan itu kita akan jauh ketinggalan. Jadi sekarang itu zamannya knowledge economy, yaitu ekonomi yang berdasarkan pengetahuan, ekonomi yang berdasarkan basis riset. Pasti riset sangat penting di sana untuk merealisasikan potensi Indonesia. Itulah pentingnya pendidikan tinggi dan pentingnya riset. Semoga kita semuanya bias berkontribusi untuk melakukan itu semua, merealisasaikan potensi Indonesia yang sesungguhnya,” pungkasnya.