DENPASAR – Gema tentang revolusi industri 4.0 yang merupakan salah satu ‘Roadmap’ dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, juga menjadi poin utama yang menjadi perhatian khusus dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk bisa dilaksanakan di lingkungan perguruan tinggi.

Seluruh perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta diharapkan mampu menciptakan inovasi-inovasi yang bermanfaat bukan hanya untuk kalangan perguruan tinggi semata, tetapi juga untuk lingkup lebih luas, yakni masyarakat.

Perguruan tinggi swasta yang ada dibawah koordinasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) atau dahulu dikenal dengan sebutan Kopertis yang ada di wilayah Bali, salah satunya adalah Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas).

Universitas yang memiliki dasar dan program unggulan pada bidang Ekonomi dan Akuntansi ini juga mencoba membuat penelitian khusus yang dilakukan di Fakultas Teknik, yakni dengan meneliti tentang Bambu.

Putu Ariawan yang merupakan bagian dari Tim Peneliti dari Undiknas menyampaikan, dipilihnya Bambu sebagai bahan Baku utama penelitian adalah karena ketersedian bambu sebagai bahan utama yang mudah di dapat, juga karena waktu yang diperlukan untuk penanaman sampai panen terbilang singkat hanya berkisar 7-8 tahun, dibandingkan dengan kayu pada umumnya, seperti kayu jati dan kayu mahoni yang baru bisa di panen pada kisaran usia 10-15 tahun.

Ketua Program Studi Teknik Sipil ini juga mengungkapkan harapannya agar bambu bisa digunakan oleh masyarakat umum dalam kehidupan sehari-hari, seperti misalnya sebagai penggannti beton dan kayu balok untuk bangunan rumah tinggal.

Kelebihan dari material kayu sendiri membuat tampilan lebih indah dalam design dan bentuk, selain itu juga dapat menahan panas dan dingin dari luar serta relative ringan dengan kekuatan lebih tinggi dibandingkan baja maupun beton. Hanya saja jika dibuat dinding memerlukan keahlian khusus dan harus teliti. (LH/WIB)