Ketersediaan pangan selalu menjadi hal utama yang senantiasa menuntut mahasiswa pertanian untuk melakukan perubahan. Sebagai pembuktian mahasiswa sebagai agent of change, tiga mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia (Fema) Institut Pertanian Bogor (IPB) telah menggagas teknologi distribusi pangan yang dituangkan dalam artikel  Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Mechanomorphosa Competition 2018 yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Mesin Universitas Bangka Belitung (UBB), (3-4/10). Kegiatan ini mengambil tema “Teknologi dan Inovasi dalam Membangun Peradaban Bangsa”.

Intan Permata Sari dan Ilfia Shahirah (Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen) serta Winda Oktaviona (Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) menggagas penerapan teknologi monorel. Fokus utama dari penerapan monorel ini adalah wilayah Indonesia Timur dan juga wilayah-wilayah Bangka Belitung sendiri.

“Kami sebagai mahasiswa ekologi manusia mengambil tema distribusi pangan dan berhubung tempatnya di Universias Bangka Belitung, dengan geografis yang kepulauan, kita mencoba untuk menghubungkan dengan ide-ide teknologi yang berbasis kepulauan. Kita buat monorel antar pulau yang kami adopsi dari Dubai yang gunanya untuk distribusi pangan demi meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pangan yang memadai,” kata Intan Permata Sari.

Menurut Intan, teknologi monorel ini sangat cocok diterapkan di wilayah kepulauan Indonesia. Di daerah kepulauan seperti Bangka Belitung distribusi pangan dapat dikategorikan lambat. Sebagai contoh sayuran yang di jual di Bangka Belitung sangatlah mahal.

“Teknologi monorel ini sangat diperlukan dan cocok untuk daerah kepulauan di Indonesia, contohnya Bangka Belitung. Sayuran di sana  sangat jarang dan distribusinya lambat dan mereka kebanyakan hanya makan ikan. Selain itu contoh lain adalah harga jus buah di Bangka Belitung tiga kali lipat dari yang dijual di Bogor,” tambah Intan.

Banyak keunggulan monorel dibanding roadbase dan waterbase transportation. Keunggulan dari monorel adalah perawatan yang lebih mudah, bertahan hingga puluhan tahun, dan memakai sistem komputerisasi sehingga rendah human error. Kelemahan roadbase dengan contoh bus yaitu perlu penggantian ban dan komponen lain, sedangkan waterbase memerlukan biaya tinggi untuk bahan bakar.

“Karena kita basisnya studi literatur, kami juga telah melakukan komparasi dengan berbagai jurnal dan telah membandingkan monorel dengan alat transportasi roadbase maupun waterbase. Ternyata monorel lebih mudah dalam perawatan, bertahan hingga puluhan tahun, kemudian memakai sistem komputerisasi sehingga rendah human error. Sedangkan untuk roadbase perlu perawatan intensif seperti mengganti ban. Selain itu juga butuh bahan bakar yang relatif banyak untuk waterbase”, tutur Intan.

Gagasan penerapan monorel ini juga mempertimbangkan siapa saja tokoh-tokoh yang berperan dan alur penerapannya sehingga dapat tereksekusi. Selain itu, tiga mahasiswa IPB ini juga melakukan analisis ancaman apa saja yang terjadi, sehingga diperlukan akademisi-akademisi untuk mengembangkan teknologi monorel ini. (Ath/Zul)