Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) menyimpan salah satu bunga nasional Indonesia yang indah yakni Padma (Rafflesia zollingeriana) raksasa. Bunga ini baru pertama kali ditemukan di Indonesia dan merupakan kebanggaan dari TNMB. Berbagai flora dan fauna juga hidup di sana dan memiliki keunikannya masing-masing, tapi masih belum terdata dengan baik.

Tree Grower Community (TGC), bekerjasama dengan Forester Act, mengirimkan tim ekspedisi ke TNMB untuk mendata keanekaragaman hayati di sana. Tim ini, yang disebut sebagai Ekspedisi Flora dan Studi Ilmiah (Eksflorasi) mengusung tema Menelaah Keunikan Keanekaragaman Hayati Ekosistem Dataran Rendah di Taman Nasional Meru Betiri. Hasil dari ekspedisi ini dipaparkan di Auditorium Andi Hakim Nasution (AHN), Kampus IPB Dramaga, Bogor (21/10) dalam Seminar Hasil Eksflorasi 2018.

Ketua Pelaksana Eksflorasi 2018, Fikri Sakti Firmansyah mengatakan bahwa ekspedisi ini merupakan wadah bagi mahasiswa Departemen Silvikultur Fahutan IPB untuk menerapkan ilmu yang mereka dapat. “Acara ini juga dapat menambah ilmu baru bagi para peserta,” ujarnya.

Dr. Ir. Lailan Syaufina, M.Sc, sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fahutan IPB, mengapresiasi ekspedisi ini. Dia mengatakan bahwa ekspedisi ini dapat melatih kesatuan, pengembangan jaringan dan penerapan ilmu komunikasi sosial. Ketiga hal ini, menurutnya, berguna untuk masa depan. “Karena di hadapan kalian, ada tantangan besar yang harus anda hadapi,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Ervizal A.M. Zuhud, MS, salah satu Guru Besar Fahutan IPB, mendeskripsikan Padma raksasa dengan tiga sifat. Yakni endemik, langka dan terancam punah.

“Untuk mekar seperti ini saja, perlu waktu kurang lebih 260 hari. Kecantikannya hanya dua sampai empat hari saja. Beberapa jenis yang endemik di Indonesia adalah Rafflesia patma blume, Rafflesia rochussenii, dan Rafflesia tuan-mudae,” ujarnya.

Rafflesia zollingeriana, walaupun sudah lama ditemukan, masih menyimpan berbagai misteri. Salah satunya, bagaimana mekanisme bunga terbesar di dunia itu bereproduksi. “Sampai saat ini, kita masih belum mengetahui regenerasi dari Rafflesia zollingeriana. Beberapa dugaan meliputi campur tangan serangga dan kaki babi yang sering dijumpai di sana,” ujar sang ahli yang akrab disapa sebagai Prof Amzu ini.

Ekspedisi ini telah melakukan perjalanannya pada tanggal 4-14 Juni 2018. Mereka mendata 64 jenis tumbuhan, termasuk inang dari Rafflesia zollingeriana, Tetrastigma lanceolarium dan Tetrastigma papillosum, 88 individu dari  Rafflesia zollingeriana dan penyerbuk alaminya. Lucilia cuprina adalah spesies yang paling sering ditemukan.

Nur Rohmah Syarif ,S.Si, MP, perwakilan dari TNMB, mengatakan bahwa Taman Nasional Meru Betiri memiliki beberapa keanekaragaman selain padma raksasa. Ia menuturkan bahwa TNMB memiliki 500 jenis flora yang tumbuh subur disana.

“Ada 77 jenis flora sudah dimanfaatkan masyarakat sekitar dalam produk jamu tradisional. TNMB juga memiliki 25 satwa yang terancam punah, salah satunya macan tutul (Panthera pardus melas) dan penyu hijau (Chelonia mydas),” ungkap Nur.

Koleksi yang berharga tersebut memerlukan upaya konservasi yang matang. TNMB mengusung 3 + 1 pilar pengolahan kawasan konservasi, yaitu perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, dan pemberdayaan. Upaya realisasi yang telah dilakukan terkait dengan keempat pilar itu berupa monitoring, inventarisasi, dan penelitian.

“Bagaimanapun juga, Taman Nasional ini bersebelahan dengan masyarakat. Ini memerlukan dukungan banyak pihak,” jelas Nur.

Turut hadir dalam seminar hasil ini adalah perwakilan dari Universitas Gadjahmada (UGM), Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, dan Universitas Pakuan Bogor, Dr. Erianto Indra Putra, S.Hut, M.Si selaku Sekretaris Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) juga ikut menghadiri acara ini. (RP/Zul)