LAPAN kembali berpartisipasi dalam Festival Kulminasi Pontianak yang digelar di Tugu Khatulistiwa, Kalimantan Barat pada 21-23 maret 2019. LAPAN memberikan edukasi keantariksaan bagi masyarakat dan wisawatan yang hadir dalam festival ini. Kulminasi merupakan fenomena alam dimana matahari tepat berada pada posisi kepala sehingga mengakibatkan tidak adanya bayangan atau nirbayangan dan terjadi selama 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September.
Kulminasi matahari di kota Pontianak terjadi pada pukul 11.50 WIB dan acara ini dibuka oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi yang berharap dengan adanya Festival Pesona Kulminasi ini tidak hanya dimanfaatkan untuk potensi wisata dan ekonomi kreatif namun juga adanya edukasi kepada masyarakat tentang fenomena alam ini.
Mengapa ini terjadi di Kota Pontianak? Kota yang juga dikenal dengan kota khatulistiwa ini merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang menjadi titik kulminasi matahari dan tugu khatulistiwa sebagai penanda letak titik kulminasi matahari yang ada di kota Pontianak.
Dalam festival ini LAPAN ikut serta mendirikan stand pameran bertajuk edukasi keantariksaan dimana berbagai informasi seperti fenomena kulminasi matahari, sains antariksa, capaian hasil litbangyasa LAPAN ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Tidak hanya itu, para pengunjung yang sebagai besar generasi muda ini juga sangat antusias ketika menyaksikan demo peluncuran roket air yang dilakukan oleh BPAA Pontianak dan pengamatan teropong matahari.
Sementara itu, Kepala BPAA Pontianak, Muzirman dalam presentasinya di aula tugu khatulistiwa menyampaikan mengenai profile LAPAN dan keberadaan Balai Pengamatan Penerbangan dan Antariksa LAPAN di Pontianak. Selanjutnya para generasi muda ini juga diberikan materi tentang matahari dan kuliminasi oleh peneliti LAPAN, Nata Miharja. Tim LAPAN pontianak juga mengajak para pelajar maupun mahasiswa untuk belajar langsung untuk memahami teknologi penerbangan dan antariksa di BPAA Pontianak.
Kulminasi yang terjadi di pontianak sendiri tidak ada pengaruh terhadap perubahan percepatan ataupun gaya gravitasi bumi dan matahari. Bumi mengitari matahari pada lintasan berbentuk elips dengan tingkat kelonjongan 1.7%. Lintasan tersebut berada pada bidang khayal yang disebut ekliptika. Sembari mengitari matahari, bumi berputar pada porosnya sehingga matahari tampak terbit dan tenggelam dengan periode rata-rata 24 jam. Poros rotasi bumi ternyata miring sebesar 66.5 derajat dari bidang ekliptika. Dampaknya, Matahari terkadang berada diatas kota-kota lintang utara (hingga 23,5 derajat lintang utara) dan kadang berada diatas kota-kota lintang selatan(hingga 23,5 derajat lintang selatan).

Please follow and like us:
0