(Jakarta/17/08/2018). Belum banyak dikenal di dalam Negeri, ternyata Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) unjuk gigi di tingkat regional. BATAN merupakan satu-satunya institusi di dunia yang ditunjuk oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menjadi pusat kolaborasi atau collaborating center untuk 2 lingkup kegiatan, yakni uji tak rusak dan pemuliaan tanaman. ”Berarti salah satu visi kita, unggul di tingkat regional tercapai.  Tantangannya adalah, tahun ini untuk lingkup uji tak rusak merupakan tahun terakhir, menjadi harapan kita bersama untuk bisa diperpanjang,” ungkap Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto saat memberikan sambutan upacara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke – 73, di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta.

Dari sisi penelitian dan pengembangan, dikatakan Djarot banyak hal yang sudah BATAN capai. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan tinggi menunjuk Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) untuk bidang baterai dan magnet, setelah sebelumnya predikat PUI telah didapat oleh 2 unit kerja teknis lainnya, yakni Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) dan Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR).

Diakui Djarot, ia merasa bangga dengan utilisasi 3 reaktor riset di Indonesia yang saat ini berada dibawah tanggung jawabnya. Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy, Serpong, reaktor riset terbesar se – Asia Tenggara ini sudah dimanfaatkan hingga 90%, sedangkan Reaktor Triga 2000, Bandung kembali menghasilkan radioisotop yang berguna untuk bidang kesehatan. Reaktor Kartini yang berlokasi bersebelahan dengan Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) BATAN, Yogyakarta kini menjadi Internet Reactor Laboratory, yang berfungsi sebagai sarana pembelajaran reaktor melalui internet.  “Bahkan dalam proyek Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA) terkait utilisasi reaktor riset, BATAN mendapat penghargaan “The 2018 FNCA Excellent Research Team,” pungkasnya.

BATAN juga telah menerima sertifikasi varietas Mustajab dari Kementerian Pertanian. Mustajab merupakan singkatan dari Mutasi Radiasi Varietas Jawa Barat, varietas padi nuklir yang merupakan pemuliaan tanaman padi lokal bernama Jembar. Selain itu, BATAN saat ini sedang menggodok proyek tempe bersama-sama dengan organisasi internasional dan Kementerian terkait untuk menekan impor kedelai. “Kita juga harus mampu membuat target realistis untuk Proyek Tempe yang melibatkan IAEA-FAO-UNIDO serta Kementan, Kemenperin, Kemenkes dan BATAN,” jelasnya (tnt).