(Pekanbaru, 09/08/2018), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memromosikan pemanfaatan fasilitas nuklir, Iradiator Gamma Merah Putih (IGMP) sebagai fasilitas yang bermanfaat untuk melakukan pengawetan bahan makanan, kosmetik, obat-obatan, dan sterilisasi alat kesehatan di ajang peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke 23 yang digelar di Pekanbaru, Riau. Hal ini disampaikan Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto usai mengisi acara talkshow pada stasiun televisi lokal di area pameran Ritech Expo, yang merupakan salah satu rangkaian peringatan Hakteknas ke 23 di Pekanbaru, Riau, Kamis (09/08).

Djarot mengatakan, dalam pastisipasinya memperingati Hakteknas kali ini, pihaknya memamerkan berbagai produk teknologi nuklir, salah satunya adalah IGMP. “Kali ini kita menampilkan di pameran berbagai teknologi nuklir diantaranya IGMP. Tetapi kita menonjolkan IGMP karena Riau ingin menghidupkan daerah Bagansiapiapi sebagai salah satu sentra hasil laut,” kata Djarot, usai mengisi acara talkshow yang bertema Iradiator Gamma, Solusi Peningkatan Daya Saing Industri Pangan Nasional.

Ia menjelaskan pentingnya memanfaatkan fasilitas IGMP sebagai salah satu upaya meningkatkan daya saing produk olahan paska panen di Indonesia. Sebagai Negara agraris, Indonesia memiliki potensi pertanian yang sangat baik, terutama pertanian tropika dalam bentuk buah-buahan, sayuran dan rempah-rempah.

Selain itu, Djarot menambahkan, fakta fisik bahwa 2/3 wilayah Indonesia berupa laut, menjadikan Indonesia sebagai Negara yang memiliki sumber daya laut yang melimpah, seperti ikan yang berpotensi mencapai hasil 6,4 juta ton/tahun. Potensi ini apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik, termasuk teknologi pengawetannya, maka akan menurunkan daya saing ekspor produk laut Indonesia.

“Dalam hal inilah, teknologi nuklir dapat mengambil peran untuk mendukung peningkatan daya saing komoditas pangan nasional serta memberikan solusi bagi industri nasional. Teknologi iradiasi gamma dengan memanfaatkan fasilitas Iradiator Gamma memiliki potensi menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh industri pangan nasional,” tambahnya.

Dijelaskannya, manfaat penyinaran atau iradiasi gamma  dapat memperpanjang masa simpan produk pangan dan menjamin  higienitasnya sehingga akan menambah nilai jual pada komoditas pangan dalam kemasan. Selain itu, iradiasi gamma juga bermanfaat untuk menghambat proses pertunasan bagi produk umbi-umbian, menunda proses pematangan, memusnahkan hama serangga bagi komoditas buah-buahan, memusnahkan parasit, bakteri pathogen dan bakteri pembusuk yang bermanfaat untuk menjamin kualitas produk laut beku, rempah-rempah dan herbal hingga memperpanjang masa simpan produk pangan siap saji.

Meskipun demikian, Djarot mengakui, pemanfaatan iradiasi gamma di masyarakat masih banyak tantangan, khususnya pemahaman para produsen terhadap keamanan produk yang diiradiasi.  “Di masyarakat masih terdapat ketakutan perihal keamanan produk yang diawetkan dengan menggunakan iradiasi. Padahal sebenarnya proses iradiasi lebih aman dan menguntungkan,” tambahnya.

Selain itu juga, pemanfaatan iradiasi gamma terkendala masih terbatasnya jumlah fasilitas iradiasi makanan komersial untuk melayani produksi pangan dan pertanian potensial dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Seluruh tantangan ini menurut Djarot, hendaknya menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah, sektor industri dan masyarakat untuk mencari solusi terbaik dalam mendorong pemanfaatan teknologi iradiasi sebagai salah satu solusi terbaik mendorong daya saing produk pangan nasional. (Pur)

 sumber: http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/pendayagunaan-teknologi-nuklir/diseminasi-dan-kemitraan/4737-batan-promosikan-igmp-di-ritech-expo-2018