Bogor – Masyarakat Riset Material Indonesia (Material Research Society Indonesia/MRS – INA) dan Perhimpunan Masyarakat Riset Material Internasional (International Union of Materials Research Societies/ IUMRS) menggelar konferensi internasional yang menggabungkan antara disiplin ilmu teknologi dan material maju dengan berbagai disiplin ilmu.

Dalam acara ini, Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), sekaligus Ketua MRS – INA, Evvy Kartini, mengajak seluruh kalangan baik Pemerintah, Industri, maupun perguruan tinggi untuk bersama-sama mengembangkan dan memanfaatkan baterai litium karya anak bangsa.

“Baterai itu tidak terlepas dari kehidupan kita, jantungnya berbagai peralatan elektronik apapun butuh baterai, karena itu Indonesia harus mandiri dalam energi,” ucap Evvy saat konferensi pers di Hotel Aston, Sentul, Bogor, Selasa (08/10).

Terlebih lagi, setelah dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, tutur Evvy, baterai menjadi isu utama dalam penyediaan energi transportasi di masa mendatang.

“Pengembangan baterai litium dengan berbagai kelebihannya memiliki peranan penting dalam pengembangan kendaraan listrik,” ujar Evvy.

BATAN telah mengembangkan baterai litium yang bahan penyusunnya dikarakterisasi dengan memanfaatkan hamburan neutron yang berasal dari Reaktor Serba Guna G.A Siwabessy di Serpong. Suatu kandungan material baterai dapat dikarakterisasi hingga ukuran terkecil atau atomic scale, yang tidak dapat dilakukan dengan teknologi lain.

“Dengan tahu kandungan material pada baterai, kita bisa mempelajari, mengapa baterai tersebut cepat habis atau cepat rusak, sehingga kita bisa membuat baterai yang lebih baik, misalnya lebih cepat atau lebih tahan lama,” jelas Evvy.

Baterai litium yang dikembangkan BATAN berkonsonsium dengan berbagai institusi, lanjut Evvy, telah diaplikasikan sebagai baterai untuk penyimpanan energi matahari pada Penerangan Jalan Umum (PJU).

Saat ini menurutnya, banyak pihak luar negeri yang mengincar nikel dan mangan milik Indonesia sebagai bahan material dalam baterai litium.  “80 persen material dari baterai litium adalah nikel, dan Indonesia punya potensi nikel terbaik. Kalau dibawa keluar negeri dan diolah disana, berarti sama saja kita beli impor,” lanjutnya.

Karena itu melalui konferensi ini, pihaknya mengajak kalangan Pemerintah, industri dan akademisi bersama mengangkat potensi sumber daya alam Indonesia untuk material baterai litium agar dapat dimanfaatkan oleh bangsa sendiri.

“Hari ini kami juga meluncurkan National Battery Research Institute (N – BRI), yang menggabungkan komunitas dari Pemerintah, industri dan akademisi, bahu – membahu bahwa Indonesia itu negara besar. Kami mendorong pemerintah agar industri baterai Indonesia itu harus ada, kita punya bahan bakunya, penelitinya, jadi kita harus independen dalam energi,” tuturnya.

Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan mengatakan, Ilmu nuklir itu tidak hanya melulu soal teknologi, tetapi bagaimana menyampaikan dan mengaplikasikannya kepada masyarakat. “Karena itu konferensi ini mengundang berbagai masyarakat dari berbagai disiplin ilmu, karena ilmu nuklir tidak hanya hard skill tapi juga soft skill, seperti bagaimana bekomunikasi mengenai teknologi nuklir kepada masyarakat,” ucapnya.

Senada dengan Anhar, Ketua Penyelenggara dari Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Rudy Haryanto mengatakan, pihaknya mendukung baterai litium melalui kolaborasi antara ilmu sains dan ilmu sosial untuk kepentingan masyarakat.

”Riset itu penting, salah satunya baterai misalnya, tapi bagaimana pemanfaatan baterai litium ini ditangkap agar tidak hanya sekedar karya, tapi bagaimana agar riset itu tampil dan mudah digunakan masyarakat, disinilah peran ilmu sosial. Kita berada di era 4.0, semua tergantung alat, tapi bagaimana teknologi itu memberikan manfaat untuk masyarakat itu juga penting” tambahnya.

Konferensi ini menurut Evvy, mayoritas berasal dari kalangan industri, yang ingin mengetahui riset material maju, terutama baterai litium, serta akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan terkait dari nasional maupun internasional.

sumber : http://www.batan.go.id/index.php/id/aneka-berita-pstbm/5952-batan-gandeng-komunitas-sosial-kembangkan-baterai-litium-buatan-dalam-negeri