(Serpong, 6/8/2018). Presiden Republik Indonesia Ke-3, B.J. Habibie mengunjungi fasilitas Reaktor Serba Guna (RSG) G.A. Siwabessy serta fasilitas Iradiator Gama Merah Putih (IGMP)  di Kawasan Nuklir Serpong, Tangerang Selatan, Senin (6/8).

Dalam kesempatan tersebut Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto menjelaskan kepada BJ. Habibie terkait kemampuan BATAN dalam merawat dan mengelola RSG G.A. Siwabessy yang telah berusia 30 tahun serta mampu membangun IGMP sehingga dapat beroperasi dengan baik dan memberikan banyak manfaat. “Reaktor serba guna ini telah menghasilkan radioisotop untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit di Indonesia. BATAN bekerjasama dengan PT. INUKI (Industri Nuklir Indonesia, red.) dan PT. Kimia Farma dalam produksi dan pemasarannya ,” kata Djarot.

Selain tertarik dengan produksi radioisotop, B.J. Habibie juga tertarik mendiskusikan tentang pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang rencananya akan dibangun di Kawasan Puspiptek, Tangerang Selatan. Djarot menegaskan, RDE yang digagas  sejak tahun 2014, saat ini sudah memasuki tahapan baru, dimana BATAN mulai menyusun desain rinci atau Detail Engineering Design (DED).

Kunjungan B.J. Habibie ke BATAN kali ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungannya ke Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong bersama Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) dan diterima oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI, Mohamad Nasir bersama Dewan Riset Nasional (DRN). Menurut Nasir kunjungan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi yang lengkap, terutama kepada Wantannas dan undangan lainnya mengenai perkembangan Puspiptek beserta kegiatan di dalamnya yang dilakukan hingga saat ini. “Selama ini Wantannas belum tahu persis, apa yang ada di dalam Puspitek dan betapa pentingnya kawasan strategik ini untuk perkembangan riset ke depan,” demikian disampaikan Nasir dalam konferensi pers. “Kerjasama Kemenristekdikti dengan DRN dan Wantannas memiliki visi bersama untuk mensinergikan riset di Indonesia,” ujar Nasir.

Nasir menambahkan, Kemenristekdikti memiliki tugas untuk mengembangkan riset nasional. “Riset ini ke depannya akan menjadi tulang punggung kemajuan bangsa Indonesia,” katanya. “Bagaimana kita membuat riset sesuai kebutuhan industri, kebutuhan masyarakat, mulai dari yang high technology sampai yang teknologi tepat guna, ini harus kita kembangkan bersama-sama,” lanjutnya.

Menurutnya saat ini ekonomi di Indonesia adalah ekonomi yang berbasis pada sumber daya alam, itu tidak cukup. “Ekonomi akan baik dan memberikan nilai tambah yang tinggi kalau berbasis pada knowledge. Ekonomi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi,” kata Nasir

Saat ini Kemenristekdikti sedang mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang sistem inovasi nasional yang  di dalamnya akan diatur bagaimana sistem riset berjalan sampai menjadi industri. Sementara itu kita telah memiliki Peraturan Presiden nomor 38 tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017-2045 (RIRN) yang merupakan pedoman bagi Kementerian/ Lembaga/ pemerintah daerah dan Pemangku Kepentingan untuk menyusun rencana aksi dalam pelaksanaan Riset Nasional. “Kedua peraturan tersebut nantinya akan diblanded, menjadi kekuatan baru, suatu model masterplan research yang di dalam sejarah riset di Indonesia tidak pernah diwadahi,” tutup Nasir. (mirah)

sumber: http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/manajemen/hhk/4717-b-j-habibie-berkunjung-ke-batan-serpong