JAKARTA – Menindaklanjuti kunjungan kerja Menristekdikti (i) ke Inggris, 22-24 Januari 2018, (ii) pertemuan antara Menristekdikti Mohamad Nasir dan Menteri Inggris untuk Perguruan Tinggi Sam Gyimah, 24 Januari 2018, serta berdasarkan beberapa perjanjian kerjasama internasional:

1. Memorandum of Understanding (MoU) on Research and Innovation Partnership on 27 July 2015.

2. MoU on Cooperation in the Field of Tertiary Education signed on 19 April 2016.

3. Operational Alliance Agreement (OAA) concerning UK-Indonesia Science and Technology Fund: Newton Institutional Links signed on 9 August 2016

4. Implementation Agreement (IA) on Industry Academia Partnership Programme between The Royal Academy of Engineering and Directorate General for Innovation, in 2016

5. IA on Leaders in Innovation Fellowship between The Royal Academy of Engineering and Directorate General for Innovation, in 2016,

Maka Indonesia dan Inggris bersepakat untuk membentuk Komite Kerja Bersama (KKB) dalam bidang Pendidikan Tinggi Riset dan Inovasi. Pembentukan Komite Kerja Indonesia Inggris bidang Dikti, Riset, dan Inovasi ini ditujukan untuk:

(i) lebih meningkatkan kerjasama bilateral yang telah terjalin;

(ii) berkolaborasi dalam penyusunan program kerjasama spesifik, ie Newton Fund;

(iii) pertukaran informasi mengenai program-program dikti, riset teknologi dan inovasi dari kedua belah Negara; dan

(iv) pemeliharaan dan evaluasi program berjalan, serta kemungkinan penciptaan kerjasama baru Indonesia dan Inggris.

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti – Patdono Suwignyo memimpin Delegasi Republik Indonesia (DelRI) sedangkan YM Ambassador Moazzam Malik – Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste, bersama Peter Drummond, Head of International Education, Department of Education – UK, memimpin Delegasi Inggris.

Topik yang didiskusikan meliputi (i) ‘Policy in Research and Higher Education’, (ii) Academic Collaboration, dan (iii) Research Collaboration and Innovation Collaboration.

Pertemuan pertama Komite Kerja Bersama (KKB) bidang Dikti, Riset, dan Inovasi ini ditutup oleh Menristekdikti Mohamad Nasir dan YM Ambassador Moazzam Malik, dengan menghasilkan beberapa butir kesepakatan sebagai berikut:

(i) KKB Indonesia Inggris akan mengembangkan “’A joint UK Indonesia Strategic Framework on Trans National Education (TNE)’’ sebagai basis dari kerjasama.

(ii) Indonesia dan Inggris akan berkolaborasi untuk merancang Newton Program’ dan diharapkan kerjasama aktif dari pihak yang terlibat.

(iii) On-line education atau distance learning. Inggris memang terkenal dengan Top Universities dalam penguasaan on-line education (distance learning) dan siap bekerjasama dengan Indonesia untuk program ini.

Dalam waktu dekat Indonesia akan menginformasikan PT yang tertarik untuk melakukan kerjasama on-line education (distance learning).

(iv) Dalam hal program World Class Professors (WCP), dimana jumlah dosen Inggris yang memanfaatkan program ini masih rendah, sehingga Inggris meminta kepada Indonesia untuk menginformasikan program WCP sejak jauh hari, sehingga diyakini akan banyak Professor dari Inggris yang siap bekerja sama dengan PT di Indonesia.

(v) Terkait dengan program World Class Universities (WCU) dimana Inggris telah mempunyai kerjasama dengan tiga top PT: UI, ITB, dan UGM; Inggris akan menjajaki juga kemungkinan kerjasama dengan IPB dan UNAIR.

(vi) Program Beasiswa Inggris akan tetap berjalan di Indonesia, tetapi kedepannya Pemerintah Inggris mengharapkan jumlah pelajar Inggris yang melakukan study di Indonesia juga meningkat.

(vii) Terkait dengan pengembangan Sains Tekno Park (STP), Indonesia dan Inggris akan menjajagi kerjasama dengan berbagai PT, terutama UI, ITB, UGM, IPB, dan UNAIR.

(viii) Indonesia dan Inggris sangat mengapresiasi kerjasama dalam kerangka Newton Fund programs, yang dianggap sangat berhasil, dan berkomitmen untuk melakukan kolaborasi dalam perancangan Newton Fund baru.

(ix) Kedua Negara juga mengidentifikasi bahwa ‘Énglish language barrier’, masih merupakan tantangan bagi kawasan Indonesia tertentu. Oleh sebab itu, program/pelatihan tentang penguasaan Bahasa Inggris perlu mendapat perhatian khusus bagi kedua Negara.

(x) Semua kesepakatan dan komitmen yang telah diusulkan akan dirangkum kembali menjadi suatu ‘guidance’ (joint note) untuk mendiskripsikan rencana aksi lebih lanjut.

(xi) Diusulkan pertemuan berikutnya akan dilakukan setiap enam bukan sekali.

Nada Marsudi
Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kementerian Ristekdikti.

Galeri