PIH UNAIR – Dua peneliti Universitas Airlangga berhasil mendapatkan dana inovasi perguruan tinggi di industri dari Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dana untuk menghilirisasi riset itu berhasil didapat setelah melalui rangkaian seleksi proposal dan presentasi penelitian.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi Prof. Hery Purnobasuki, Ph.D, ketika diwawancarai, Selasa (21/3). “Dana dari Kemenristekdikti itu kan sumbernya bermacam-macam. Ada beberapa dana yang terkait dengan inovasi. Nah, dari Ditjen Penguatan Inovasi ini memang cukup besar karena mereka mengharapkan itu sudah mulai dekat dengan industri,” tutur Hery.

Hery mengatakan, pihaknya mengajukan sebelas proposal penelitian untuk mendapatkan alokasi dana tersebut. Namun, setelah diseleksi oleh tim Kemenristekdikti, dua di antaranya berhasil mendapatkannya.

Sedangkan di tingkat nasional, dari perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), jumlah penerima dana hilirisasi riset sebanyak 13 orang. Kedua peneliti yang berhasil meraih dana hilirisasi riset adalah pakar sel punca Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, dan Dr. Suryani Dyah Astuti.

Dalam penelitian yang mendapatkan dana sebesar Rp 2,93 miliar itu, Fedik mengusung judul penelitian “Akselerasi Produksi Stem Cell dan Metabolit Mesenchymal Stem Cell untuk Terapi Degeneratif”.

Sementara Dyah dengan judul riset “Inovasi Produksi Dentolaser Antimikroba dan Biomodulasi Sel untuk Akselerator Respon Penyembuhan Penyakit Gigi dan Mulut”, mendapatkan dana sebesar Rp 4 miliar.

Selain melalui seleksi administratif, syarat utama penelitian yang diajukan ke Kemenristekdikti harus mencapai minimal tingkat kesiapan teknologi atau technology readiness level ke-6. Tingkat kesiapan teknologi ke-6 berarti suatu penelitian sudah mencapai tahap demonstrasi teknologi.

Kedua penelitian tersebut memiliki capaian target yang berbeda. Penelitian sel punca milik Fedik akan dikembangkan menjadi sebuah klinik stem cell. Sedangkan, penelitian dentolaser antimikroba akan dikembangkan menjadi teaching industry (industri perguruan tinggi) yang akan dimanfaatkan untuk sarana ajar bagi mahasiswa.

“Artinya, kalau yang produk Dentolaser itu, kita akan membuat produk sekaligus untuk pembelajaran mahasiswa, terus barangnya juga tetap akan dihilirisasi ke industri. Kalau yang stem cell, pemerintah menuntut kita untuk sampai menjadi klinik stem cell,” tutur Hery.

Dyah, pengembang produk laser bernama Dentolaser, mengatakan bahwa ia tengah mengembangkan laser untuk digunakan sebagai terapi antimikroba penyakit gigi dan mulut, serta infeksi pada kulit seperti luka dan jerawat. Targetnya, tahun 2018, produk Dentolaser akan diproduksi massal dan dipromosikan kepada calon pengguna seperti Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, dan dokter akupunktur. (Humas UNAIR)