UNAIR NEWS – Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr. R. Herlambang Perdana Wiratraman, S.H., M.A., kembali menorehkan prestasi di kancah Internasonal. Berkecimpung dalam bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) selama 14 tahun, dosen asal Jember ini terus mengaplikasikan ilmu baik dalam bidang akademisi maupun pengabdian masyarakat.

Rabu, (22/12) Herlambang mendapat kabar membanggakan dari Equitas, Lembaga Pendidikan HAM berbasis di Montreal, Kanada, bahwa ia terpilih sebagai salah satu dari lima puluh pemimpin inspiratif bidang HAM. Sebelumnya, Herlambang pernah mendapat penghargaan Ashoka saat usianya masih 25 tahun.

Alhamdulillah, saya bersyukur. Saya merasakan bahwa ini hasil dari banyak sinergi kolega akademisi yang tentunya melibatkan banyak pihak. Penghargaan dan pengakuan Equitas ini merupakan penyemangat iklim akademik yang terus bermakna di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ketua Human Rights Law Studies (HRLS) FH UNAIR ini mengaku, penghargaan dari Equitas ia dapat lantaran perannya dalam menjalankan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pusat studi. Ia dan tim terkait mengembangkan kurikulum, bahan bacaan yang berkualitas, dan pengembangan metode mengajar. Di Kawasan Asia Tenggara, ia dan tim sudah membuat buku induk pendidikan HAM bagi mahasiswa se-Asia Tenggara. Bahan-bahan tersebut bisa diakses secara gratis melalui website SEAHRN.

Selain itu, salah satu pendiri Serikat Pengajar HAM Indonesia juga mengembangkan riset kolaboratif, visiting lecture, dan lokakarya pengembangan metode belajar melalui konferensi, seminar, dan program serupa lainnya.

Setelah mendapatkan penghargaan, Herlambang tidak berpuas diri begitu saja. Baru-baru ini UNAIR telah membuat sejarah baru dengan membuat kebijakan agar Surabaya memiliki kebebasan akademik.

Herlambang bersama jaringan akademisi lain memiliki mimpi membangun kekuatan intelektual untuk mengawal perubahan Surabaya ke arah lebih baik. Seperti, semakin lugas berhadapan dengan praktik korupsi, berani untuk tidak takluk dihadapan korporasi maupun pendisiplinan yang mengancam kebebasan akademik.

“Tentu ini kerja panjang dan bersama. Saya bersyukur, UNAIR memberi ruang dan kesempatan kami untuk berinovasi, mengembangkan riset dengan metode lebih imajinatif bagi perubahan. Semoga jalan ini bisa terus menguatkan mimpi-mimpi perubahan, bukan untuk saya, kami, tetapi bagi bangsa Indonesia. Insya Allah,” tegasnya. (PIH UNAIR)