Wayang kulit adalah kesenian  Indonesia yang dapat disebutkan “unik” dan  disenangi oleh  masyarakat dewasa maupun anak-anak, yang kemudian  menjalar ke luar negeri dan kini  “popular” di masyarakat Amerika  Serikat,  terkenal dengan sebutan  The Shadow Puppet Play”.  Beberapa kali penulis  pernah menonton wayang kulit ini, mulai dari Delaware,  New York, Connecticut, sampai ke California, memperhatikan betapa seriusnya mereka   menonton dan mendengarkan inti cerita wayang tersebut, kagum terhadap   sang dalang yang  bertutur, bernyanyi, melucon dalam Bahasa Inggris. Ini konon mengingatkan penulis   sewaktu masa kecil di Medan, jika mendengar nanti akan  ada pertunjukkan wayang kulit, maka ramailah anak-anak di kampung  membicarakannya bahwa nanti mereka semalaman bersama  penonton dewasa  tidak akan tidur menonton wayang kulit. Apalagi  untuk  sang dalang, yang selalu dibicarakan dibelakang layar, yang memiliki kehebatan karena  semalaman tidak buang air kecil dan tidak mengantuk sama sekali, dan sang dalang dianggap memilki ilmu dalam yang tiada tandingnya. Begitulah anggapan pada waktu itu, benar atau tidaknya, walallahualam!

Apakah yang sebenarnya menjadi intisari dari menonton Wayang Kulit tersebut , maka disini Dalang pegang  peranan utama, dengan memiliki suara yang mantap, dan lincah menggerakkan wayang-wayang kulit tersebut. Disitu ia mengemukakan bahwa dalam cerita itu terkandung adanya kepercayaan kepada Tuhan, Pendidikan, Kebaikan, Kejahatan dan Hiburan. Dengan mementaskan Wayang Kulit, bisa disalurkan segala macam ragam kepentingan apa saja oleh yang menyelenggarakannya.

Dalam hal ini penulis angkat tangan kepada Kedutaan Besar R.I. di Washington, D.C. yang selalu  membantu semua kegiatan kesenian dan kebudayaan Indonesia yamg tidak terbatas hanya di East Coast saja, namun sampai  ke West Coast. Kegiatan memperkenalkan kesenian dan kebudayaan Indonesia di Luar Negeri, bagi penulis adalah  merupakan diplomasi Indonesia yang disalurkan melalui kesenian dan kebudayaan, dan pagelaran wayang kulit ini merupakan salah satu senjatanya.

Insya Allah sesuai dengan rencana pada tanggal 24 Maret 2017, Sanggar kesenian Indonesia yaitu,  Sanggar Santi Budaya di Washington, D.C. yang sudah berdiri  12 tahun lamanya, terkenal memperkenalkan kesenian Indonesia di Washington, D.C. dan sekitarnya, akan menggelarkan “Special Events”, tari-tarian Indonesia, pagelaran Wayang Kulit, dengan mendatangkan tamu Guru Besar University of California, Berkeley, CA., Dr. Medianto Martani Putro, yang mengajar kesenian Jawa di universitas tersebut.  KBRI Washington, D.C. membantu penuh, dengan memberikan pergelaran di gedung KBRI dan mengundang tamu-tamu asing sejumlah 200 orang. Tamu-tamu terdiri dari korps diplomatic, pejabat Pemerintah, kalangan akademisi, masyarakat A.S. yang cinta pada kesenian/kebudayaan Indonesia. Penulis percaya bahwa tamu-tamu akan penuh pada hari itu, berdiplomasi sambal  ber “sosialisasi” menonton Wayang Kulit.

Sampai dimana diplomasi melalui kebudayaan  di luar negeri akan terus  berlangsung,   sebagai  contoh  pada tahun lalu  penulis ingat betapa meriahnya  digelarnya  PERFORMING INDONESIA” ISLAMIC INTERSECTIONS  yang berlangsung selama tiga bulan di Washington, D.C. dari tanggal 10 September 2016 s.d. 19 Nopember 2016. Kesenian Indonesia ini diselenggarakan  atas kerjasama antara KBRI

Washington, D.C., Freer Gallery of Art and Arthur M. Sackler Gallery dan George Washington University.  Freer Gallery of Art and Arthur M Sackler Gallery, yang merupakan bagian dari Smithsonian National

Museum of Asian Art, berupaya memberikan “advance public knowledge” tentang kesenian dan kebudayaan Asia melalui “Exhibitions, publications, research, education and programs”. Dan Duta Besar R.I., menyatakan dalam kata sambutannya bahwa masyarakat A.S. bukan hanya menemui hubungan yang unik antara Islam dan kebudayaan Indonesia, tetapi bisa melihat bahwa Islam di Indonesia adalah agama yang damai dan toleransi.

Luar biasa menurut pendapat penulis  “Performing Indonesia” ini yang acara programnya  diatur dan dibagi dua, yaitu Bagian Pertama-September-Oktober Program terdiri dari  “Fashion Show: High Fashion for Muslim Wear: New Design From Java”, kemudian Performance: Strings Meet Gamelan: Chamber Music from Indonesia, kemudian Performance : Music from Sulawesi and West Java.

Untuk Bagian Kedua: November Programs : Lecture Demonstration : The Art of Qur’anic Recitation, oleh Hajjah Maria Ulfa. Kemudian Workshop” Martial Arts from Sumatra: Pencak Silat, lalu Lectures: Islam and The Performing Arts in Indonesia, kemudian Performance: Javanese Shadow Puppet Play” Bima’s Quest for Enlightment; Family Workshop: Javanese Puppet Painting for Families dan Performance: Hamsa: Five Tales for Balinese Gamelan, organ guitar, video and narrator.

Javanese Shadow Puppet Play, terutama gamelan sangat popular di A.S., dan ini dimanfaatkan oleh KBRI Washington, D.C.  dengan  memberikan pemakaian  “The Indonesian Embassy Javanese Gamelan Ensemble” dipimpin oleh Muryanto, Ahli Kesenian Jawa, staf Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Pelajaran  gamelan diberikan kepada group-group pelajar-pelajar Sekolah Menengah Atas di Washington, D.C., para mahasiswa, masyarakat Amerika dan universitas. Muryanto tanpa letih selalu memenuhi permintaan-permintaan dari universitas di luar Washington, D.C.  mengajarkan gamelan.

Melalui  kesenian Indonesia ini,  berarti tanpa kita sadari telah tersalur dengan baik, hubungan diplomasi kita dengan negara yang bersangkutan. Kiranya banyak jalur yang bisa dipergunakan untuk berdiiplomasi di Luar Negeri, dan banyak cara pula untuk melaksanakannya.

oleh: Isweni Ishak Bakri