Jakarta, 31 Januari 2018. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menerima kunjungan kehormatan dari Dr. Darmansjah Djumala, Duta Besar Ri untuk Austria dan Slovenia/Wakil Tetap RI untuk PBB, Jazi Eko Istiyanto, Kepala BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir); Efrizon Umar, Deputi bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir, BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional); Johana, Indonesian Technical Cooperation National Liason Officer (TC NLO).

Kunjungan khusus ini dilakukan sehubungan dengan persiapan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), BATAN, dan BAPETEN yang akan menjadi tuan rumah bagi Dr. Yukiya Amano, Direktur Jenderal IAEA (International Atomic Energy Agency) – Badan Tenaga Atom Internasional, yang akan melakukan kunjungan kerja ke Indonesia tanggal 5-7 Februari 2018.

Dalam pertemuan, diulas mengenai topik yang selalu hangat sejak 30 (tiga puluh) tahun terakhir, akan pentingnya Indonesia untuk berani memutuskan akan ‘’Go Nuclear’’ dengan membangun PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) atau tidak? Keputusan ini tentu saja akan mempengaruhi pendapat masyarakat Indonesia yang sangat luas, yang kemungkinan belum mengenal pentingnya dan amannya berbagai teknologi nuklir untuk maksud damai tersebut.

Kemenristekdikti, bersama-sama dengan BATAN dan BAPETEN, terutama dalam tiga tahun terakhir, terus berupaya untuk mensosialisasikan pentingnya aplikasi teknologi nuklir untuk maksud damai ini, yang sudah terbukti dapat mendukung bidang-bidang pembangunan antara lain sepeti sektor kesehatan, pertanian, perikanan, lingkungan, dan energi.

Dalam kunjungannya ke Indonesia minggu depan, Direktur Jenderal IAEA Yukiya Amano akan melakukan pertemuan bilateral dengan Menristekdikti Mohamad Nasir, membuka kegiatan pertemuan ‘Stakeholders meeting of Tempe Project’’- salah satu program IAEA di Indonesia.

Selain itu, direncanakan akan dilakukan penanda-tanganan ‘Practical Arrangements on Enhancing Technical Cooperation amongst developing Countries (TCDC) and strengthening South-South Cooperation’, antara IAEA dan Kemristekdikti, yang pada implementasi programnya akan dilakukan oleh BATAN dan BAPETEN.

Kesepakatan yang akan ditanda-tangani antara lain terkait dengan

  1. Pendidikan jangka pendek dan panjang (S-1, S-2, S-3) dan pelatihan pada program-program aplikasi teknologi nuklir untuk maksud damai dalam bidang pangan dan pertanian (mutasi tanaman, manahemen pertanahan dan nutrisi tanah), teknologi kesehatan dan produksi hewan/ternak, aplikasi industry untuk ‘non-destructive testing’, keamanan radiasi dan nuklir, infrastruktur regulasi nuklir, ‘radiological and emergency preparedness’, proses radiasi, teknologi kesehatan menggunakan radiasi, pemantauan dan manajemen lingkungan kelautan dan terestial, manajemen pengelolaan limbah radiaktif, aplikasi reaktor riset melalui pelaksanaan program-program ‘fellowships’, kunjungan peneliti dan pelatihan.
  2. Penyediaan tenaga ahli dan dosen yang akan mendukung kegiatan-kegiatan dalam program yang telah ditetapkan pada point (1), termasuk kunjungan para penasehat IAEA ke Negara-negara ‘last developed countris (LDcs) dan small islands developing states (SIDSS).
  3. Penggunaan laboratorium analitikal di Indonesia untuk menjalankan program-program kolaborasi bersama IAEA.

Selain itu, dalam kurun waktu 5-7 Februari 2018, Dirjen IAEA Yukiya Amano akan melaksanakan kunjungan ke Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kelautan dan Perikanan; menjadi pembicara kunci pada Seminar di Institut Pertanian Bogor (IPB); melaksanakan kunjungan kerja ke BATAN (Pasar Jumát dan Puspiptek, Serpong), dan ke BAPETEN.

Menristekdikti Mohamad Nasir dan segenap jajarannya, yang saat itu antara lain didampingi oleh Sekretaris Jenderal Ainun Naím, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati, menyambut baik kedatangan Direktur Jenderal IAEA Yukiya Amano, dan meyakini bahwa kedatangan beliau ke Indonesia akan meningkatkan kinerja BATAN, BAPETEN, serta para peneliti lainnya yang berasal dari Kementerian/Lembaga (K/L) dan Perguruan Tinggi yang terkait. (NM)

Foto oleh: Kedutaan Besar/Perutusan Tetap Republik Indonesia Wina dan Humas BAPETEN