Delegasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada menorehkan prestasi membanggakan dari ajang Thammasat University Model United Nation (TU-MUN) yang digelar pada 13-15 Januari lalu di Thailand. Dalam simulasi sidang PBB tersebut, delegasi UGM berhasil meraih tiga penghargaan.
Dua penghargaan sebagai best delegate sukses diraih oleh Chitito Audito dan Lentera Bintang Renjana. Lalu, Muhammad Adrian Gifariadi meraih penghargaan sebagai honorable mention. Ketiganya merupakan delegasi UGM MUN Community yang berasal dari Departemen HI FISIPOL.
Dalam simulasi sidang PBB tersebut anggota UGM MUN Community lainnya juga turut terlibat dalam komite TU-MUN. Mereka adalah Dio Hediawan Tobing, Aldi Abidin, serta Karina Larasati. Ketiganya didaulat menjadi ketua sidang dalam ajang TU-MUN.
TU-MUN merupakan salah satu model sidang PBB yang diselenggarakan di kawasan Asia. Dalam forum ini diikuti tidak kurang dari 100 peserta dari berbagai negara di dunia. Seleuruh peserta melakukan simulasi layaknya sidang PBB melakukan diplomasi, negosiasi serta mencari resolusi berbagai permasalahan bangsa-bangsa.
“Seperti Model United Nation lainnya, dalam kegiatan ini peserta melakukan simulasi sidang seperti pelaksanaan sidang di PBB. Mendiskusikan dan menyusun resolusi berbagai persoalan antar bangsa,” katanya, Rabu (28/2) di UGM.
Dalam simulasi sidang ini, dikatakan Chitito, UGM mengirimkan satu delegasi yang terdiri dari tiga orang mahasiswa.  Masing-masing masuk dalam komite berbeda yaitu United Nation Development Program (UNDP), United Nations Office On Drugs and Crime (UNODC), dan Special Commite: The United Nations Human Right Council (UHNCR).
“Setiap peserta membahas isu internasional sesuai dengan komite/dewan PBB yang diikuti. Masing-masing peserta merepresentasikan negara yang diwakilinya,”jelasnya.
Saat itu Chitito masuk dalam komite UNODC mendiskusikan dua isu yaitu perdagangan manusia dan penyelundupan migran dan terorisme transnasional mewakili negara Austria. Sementara Lentera merepresentasikan negara Yaman dan masuk di komite UNDP yang membahas pencegahan perubahan iklim dan kesetaraan gender. Sedangkan Muhammad Adrian masuk komite UNHCR membahas isu pelanggaran HAM terhadap etnis minoritas Mongtangrad di Vietnam.
Dijelaskan Chitito, dalam simulasi sidang PBB itu, peserta  berdiskusi dan bernegosiasi dengan peserta lain menyampikan gagasan dan solusi terkait isu yang  tengah dibahas. Sementara penghargaan diberikan kepada peserta dengan ide yang implementatif dan dapat berdiplomasi dengan baik dalam menyusun resolusi.
“Senang sekaligus bangga tentunya, bisa mendapat penghargaan dalam ajang bergengsi ini,”ujarnya.
Keberhasilan delegasi UGM merupakan buah dari usaha dan kerja keras dalam berlatih. Selain itu juga tidak lepas dari dukungan fakultas serta universitas.
“Prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi dan memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus mengharumkan nama UGM dan Indonesia di kancah global,”harapnya. (Humas UGM/Ika)