(Jakarta, 15/03/2018) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebagai satu-satunya lembaga pemerintah yang mempunyai tugas melakukan penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan teknologi nuklir, mulai tahun 2017 telah menyatakan diri sebagai lembaga Clearing House Teknologi Nuklir (CHTN) di Indonesia. “CHTN ini merupakan salah satu bentuk upaya BATAN sebagai lembaga pemerintah untuk melindungi masyakat dalam pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia,” demikian disampaikan oleh Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto dalam sambutan pembukaan Workshop Audit Teknologi bagi pejabat eselon I dan Eselon II BATAN di Gedung Pusdiklat BATAN, Pasar Jum’at, Jakarta Selatan, Kamis (15/03).

“Tugas BATAN lah untuk melakukan pengkajian, pengujian dan memberikan rekomendasi maupun klarifikasi, layak atau tidaknya, bisa diterima atau belum suatu teknologi nuklir untuk masyarakat Indonesia,” kata Djarot.

Selain itu Djarot juga mengatakan bahwa sebagai CHTN, BATAN harus memperkuat infrastruktur yang telah ada untuk menunjukkan bahwa kita unggul dan diakui oleh pihak lain tentang kemampuan BATAN dalam teknologi nuklir. “Penting bagi BATAN untuk memperoleh pengakuan dari pihak lain bahwa kita memang punya kompetensi di bidang teknologi nuklir,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Standardisasi Mutu Nuklir (PSMN), Budi Santoso sebagai peneyelenggara workshop mengatakan bahwa audit teknologi merupakan salah satu bagian penting yang harus dilakukan BATAN sebagai CHTN. “Sebagai CHTN banyak hal yang harus dikerjakan, salah satunya adalah melakukan audit teknologi,” kata Budi Santoso. “Pemahaman dan persepsi yang sama diantara para pejabat di BATAN tentang audit teknologi, khususnya teknologi nuklir merupakan salah satu infrastruktur penting sebagai CHTN,” lanjutnya.

Dalam kesempatan ini, Ketua Harian Ikatan Auditor Teknologi Indonesia (IATI)  Yanto Sugiharto, sebagai nara sumber menyampaikan materi tentang Pentingnya Audit Teknologi serta materi tentang Audit Teknologi dan Lembaga Verifikasi Teknologi. “Kenapa perlu dilakukan audit teknologi, antara lain bagi industri adalah untuk menemukan efisiensi dan cara baru di setiap value chain dari produk, sedangkan bagi masyarakat akan dengan mudah untuk mendapatkan informasi dan membandingkan berbagai produk,” katanya.

Secara definisi, disampaikan oleh Yanto Sugiharto bahwa audit teknologi adalah evaluasi secara sistematis dan obyektif yang dilakukan oleh auditor teknologi terhadap aset teknologi untuk mencapai tujuan audit teknologi, sehingga memberikan nilai tambah dan meningkatkan kinerja pihak yang diaudit atau pemilik kepentingan.

Workshop Audit Teknologi yang dihadiri oleh seluruh pejabat Eselon I dan Eselon II BATAN ini akan dilanjutkan dengan pelatihan yang sama bagi para pelaksana dan pegawai senior di BATAN yang akan dilaksanakan pada tanggal 20-21 Maret 2018, dengan materi yang lebih mendetail. (mirah)

sumber: http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/manajemen/112-biro-kerja-sama-hukum-dan-hubungan-masyarakat/4184-batan-gelar-workshop-audit-teknologi-untuk-perkuat-infrastruktur-sebagai-chtn-di-indonesia