(Serpong, 29/01/2017.  Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bekerja sama dengan Center for International Trade and Security – University of Georgia (CITS – UGA)menggelar International Workshop dengan mengambil tema “A Roadmap for Harmonizing and Integrating Nuclear Safety and Security Culture”, di Hotel Grand Zuri BSD City, Serpong (29/01). Budaya keamanan (security culture) dan budaya keselamatan (safety culture) menjadi 2 hal penting dalam mengelola fasilitas nuklir.

Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, membentuk suatu budaya agar dapat diresapi oleh setiap karyawan BATAN menyangkut 3 poin utama. “Yang pertama adalah komitmen pimpinan untuk menerapkan budaya itu, kedua regulasi yang bisa diimplementasikan segera, dan ketiga ada reward dan punishment,” katanya saat memberikan sambutan. Yang tak kalah pentingnya juga adalah menularkan budaya itu dari generasi tua ke generasi muda di BATAN melalui Nuclear Knowledge Management (NKM).

Ia menambahkan Indonesia melalui BATAN harus menunjukkan bahwa budaya keamanan dan keselamatan kita yang terbaik. Harmonisasi dan integrasi kedua budaya tersebut diperlukan dan tidak terbatas pada isu nuklir saja. “Yang terpenting adalah tindak lanjut setelah workshop ini, kita bisa melakukan penerapan kedua budaya ini secara mandiri. Sekali lagi, budaya itu sangat penting, komunitas nukir harus menunjukkan bahwa kita yang terbaik,” tuturnya.

Sementara Igor Khripunov dari CITS – UGA mengatakan, Indonesia termasuk terdepan dalam upaya menerapkan kedua budaya tersebut, dan memiliki semangat inovasi yang tinggi. Indonesia adalah negara pemilik reaktor riset pertama yang akan mengharmonisasikan dan mengintegrasikan kedua budaya tersebut.

“BATAN memiliki karyawan yang secara emosional dan profesional mempromosikan budaya keamanan dan keselamatan. Kini saatnya BATAN bertanggung jawab secara moral untuk lebih aktif mempromosikan tidak hanya di kawasannya, tapi juga internasional,” ucapnya.

Tujuan dari workshop ini adalah untuk mendapatkan suatu rekomendasi bagi Indonesia dalam membuat pedoman yang bisa diimplementasikan dalam mengharmonisasi dan integrasi kedua budaya tersebut. “Ada hal-hal yang bisa diintegrasikan atau diharmonisasikan dalam suatu kerangka agar tidak overlap. Jika ada hal-hal yang berbeda misalnya terkait informasi yang menyangkut budaya keamanan dan keselamatan nuklir, itulah yang perlu kita bahas bersama. Yang terpenting adalah bagaimana mindset kita tertanam bahwa kedua budaya tersebut adalah satu kesatuan yang utuh,” kata Deputi BATAN bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir, Hendig Winarno.

Senada dengan Hendig, perwakilan dari Center for Security Culture and Assesment (CSCA) BATAN, Khairul mengatakan, jika Indonesia dapat mengharmonisasi dan mengintegrasikan kedua budaya tersebut, maka dapat berdampak positif bagi Indonesia di mata internasional. “Karena Indonesia dipandang memiliki komitmen pimpinan yang kuat, disamping kita juga giat mempromosikan budaya keamanan dan keselamatan melalui sarasehan, penilaian mandiri, dan sebagainya,” jelasnya.

Integrasi ini menurutnya sangat baik karena penggiat budaya kemanan dapat belajar dari penggiat keselamatan yang telah muncul lebih dulu, serta adanya keinginan untuk menyatukan keduanya dalam suatu model atau pedoman.

Workshop ini dihadiri oleh perwakilan antara lain dari BATAN, BAPETEN, Angkasa Pura, Sekolah Tinggi Intelegen Negara (STIN), serta narasumber dari UGA/CITS, The World Association of Nuclear Operators (WANO), International Atomic Energy Agency ( IAEA)World Nuclear Association (WNA), dsb. Workshop akan berlangsung hingga 31 Januari 2018 (tnt).

sumber: http://www.batan.go.id/index.php/id/event-csca/4034-batan-akan-integrasikan-budaya-keamanan-dan-keselamatan-nuklir