Presiden Republik Indonesia Ke-3 Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie melakukan kunjungan kerja ke Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK), Tangerang Selatan, bersama Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Letjen TNI Doni Monardo untuk memetakan kesiapan sumber daya manusia dan fasilitas teknologi dalam menghadapi tantangan besar industri 4.0 yang digaungkan oleh Presiden RI Joko Widodo.

Dalam kunjungan kerjanya, B.J. Habibie dan rombongan juga didampingi oleh Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Soni S. Wirawan dalam meninjau fasilitas uji BPPT yang didirikan kala BJ Habibie mengemban amanah sebagai Menteri Riset dan Teknologi – Kepala BPPT.

B.J. Habibie saat meninjau fasilitas BPPT di kawasan PUSPIPTEK, Senin (06/08), menegaskan bahwa kawasan ini didirikan untuk mendukung industri strategis yang dipersiapkan untuk membawa Indonesia tinggal landas dari status negara berkembang.

“Saya sengaja membangun laboratorium uji ketahanan struktur, untuk mempercepat proses persiapan pembangunan infrastruktur. Kemudian, fasilitas terowong angin berkecepatan rendah yang hanya ada dua di Asia, untuk mendukung PT Dirgantara Indonesia dalam membangun industri pesawat komersial. Indonesia itu merupakan negara kepulauan. Jadi! Kita harus memiliki transportasi udara sendiri untuk menghubungkan pulau-pulau, baik itu sebagai transportasi penumpang ataupun kebutuhan logistik,” kenang Habibie.

Fasilitas terowongan angin yang dimaksud Presiden RI ketiga itu merupakan laboratorium uji milik BPPT yang sekarang telah berganti nama menjadi Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika, dan Aeroakustika (BBTA3). Sebelumnya bernama LAGG, Laboratorium Aero Gas Dinamika dan Getaran.

“BBTA3 BPPT merupakan state of the art-nya kedirgantaraan Indonesia, jadi harus terus mengikuti perkembangan teknologi dunia,” ujar Pak Habibie saat meninjau pengujian terkait aerodinamika roket.

Menanggapi pernyataan tersebut, Deputi TAB BPPT menuturkan dengan anggaran BPPT saat ini, dapat dikatakan sulit untuk meng-upgrade fasilitas sebesar BBTA3.

“Memang fasilitas disini masih banyak peninggalan zaman Pak Habibie. Anggaran BPPT saat ini pun tidak akan mampu untuk membangun lab sebesar ini. Tapi, Kita (BPPT) tetap harus mampu dan siap memberikan layanan teknologi untuk kebutuhan negeri,” jelas Soni.

Lebih lanjut Soni menambahkan BBTA3 memiliki fasilitas terowongan angin berkecepatan rendah untuk menguji aspek aerodinamika dari pesawat terbang. Fasilitas ini juga memberikan layanan pengujian terkait aerodinamika, aeroelastika dan getaran pada konstruksi bangunan, seperti gedung tinggi dan jembatan bentang panjang.

“Ditengah keterbatasan yang ada, B.J. Habibie tetap mengapresiasi BPPT yang telah merawat laboratorium pengujian, bahkan mampu memaksimalkan layanan teknologi yang disediakan dengan penambahan fasilitas aeroakustika untuk uji kebisingan,” tutur Soni.

Soni menambahkan, Pak Habibie ingin bernostalgia dengan lab-lab yang dibangunnya waktu dulu. “Tadi, Pak Habibie banyak menghabiskan waktu di BBTA3 BPPT, sempat juga mengunjungi ruang kerja beliau di B2TKS BPPT walau tidak terlalu lama,” tutupnya. (Humas/HMP)