Pemerintah memandang perlu untuk mengatur kembali kegiatan penelitian di Indonesia yang lazim dilakukan oleh perguruan tinggi dengan harapan pengembangan dan transfer ilmu pengetahuan menjadi lebih baik. Hal itu karena Indonesia merupakan “laboratorium alam” yang memiliki potensi kekayaan dan letak geografis yang strategis sebagai lahan terbaik bagi peneliti asing. Untuk itu Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) akan terus berupaya memperbesar peluang kerja sama penelitian antara peneliti asing dengan peneliti Indonesia.

Diantara solusi tersebut dengan mengadakan Sosialisasi dan Monev (Monitoring dan evaluasi) Perizinan Peneliti Asing, seperti yang diselenggarakan Kamis (28/4) kemarin, bekerjasama dengan Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga. Hadir sebagai sumber antara lain Dr. Sri Wahyono, Kepala Seksi Administrasi Perizinan Penelitian Kemenristek Dikti, Prof. Maria Lucia Inge Lusida, dr., M.Kes., Ph.D, Ketua Lembaga Penyakit Tropis UNAIR, dan Dr. Takako Utsumi dari Kobe University. Hadir juga Wakil Rektor III UNAIR Prof. Moch Amin Alamsyah, Ir., M.Si., Ph.D., beberapa Rektor di Jatim,  para ketua badan/lembaga di lingkungan UNAIR, dekan, dan pejabat terkait dari Pemprov Jatim.

Dalam sambutannya, Prof. M Amin Alamsjah mengatakan, sosialisasi ini merupakan salah satu faktor yang turut serta dalam mendorong jumlah penelitian di lingkungan UNAIR. Banyaknya jumlah penelitian juga akan berpengaruh dalam mengantarkan perguruan tinggi menuju peringkat 500 dunia yang diharapkan pemerintah.

Academic excellence, research excellence, community service excellence, dan university holding excellence merupakan faktor-faktor yang mampu mengantarkan perguruan tinggi menuju 500 besar dunia. Beberapa unit dan lembaga memiliki program sesuai bidang dan kewenangannya, termasuk LPT UNAIR,” ujar Prof M Amin.

Dalam paparannya, Dr. Sri Wahyono mengatakan sejak tahun 2010 jumlah perizinan yang diterbitkan oleh Kemenristek Dikti rata-rata mencapai 500 lebih. Jumlah ini cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan sesuai mandat dari Direktur Jenderal Penguatan riset dan Pengembangan, jumlah tersebut diharapkan akan mampu mencapai jumlah 1000 perizinan setiap tahunnya.

“Ada rata-rata 780 proposal yang masuk setiap tahun. Lalu kami seleksi, jadi ada juga proposal yang kami tolak, ada yang ditunda untuk merevisi, harus melengkapi proposal, atau menambah dan mengganti mitra kerja,” ujar Sri Wahyono.

Ditambahkan, bahwa mekanisme perizinan ini diatur dalam Peraturan Pemerintah RI No. 41 Tahun 2006, tentang Perizinan Melakukan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga Penelitian Dan Pengembangan Asing, Badan Usaha Asing, dan Orang Asing. Yang pasti, penelitian di Indonesia perlu diatur, sebab Indonesia merupakan “laboratorium alam” karena memiliki potensi kekayaan serta letak geografis yang strategis untuk menjadi lahan bagi para peneliti asing.

Menurut Sri Wahyono, minat peneliti asing kebanyakan terletak pada bidang ilmu hayati. Keanekaragaman hayati di Indonesia sangat tinggi, dan yang sering menjadi bahan penelitian yaitu objek yang berada pada cagar alam, hutan lindung, dan taman nasional. Kendatipun Indonesia harus menggenjot jumlah perizinan bagi penelitian asing, namun dari kerjasama itu harus ada keseimbangan.

“Kontribusi peneliti asing cukup besar, khususnya untuk joint research dan join publikasi pada jurnal dan majalah internasional. Tetapi jangan sampai dari kerjasama tersebut kita jadi “pembantu”. Itu penting. Sehingga MoU sebagai dasar dari kerjasama juga harus ditinjau,” papar Dr. Sri Wahyono.

Pada kesempatan ini pula, Prof. Soetjipto, dr., MS, Ph.D., mantan Wakil Rektor III UNAIR mengomentari tentang pentingnya meningkatkan kerjasama dengan peleliti asing seperti pernah dilakukan LPT UNAIR. Berkat kerjasama dengan Kobe University, misalnya, LPT UNAIR pernah mendapatkan bantuan dana dan operasional system. Selain itu, di Indonesia untuk mendapatkan peralatan seperti yang diberikan oleh Kobe University, perizinan dari kementerian juga cukup sulit.

Berdasarkan penuturan Prof Inge, saat ini telah banyak kerja sama yang dijalin antara LPT UNAIR dengan peneliti asing. Kerja sama tersebut baik dengan universitas, maupun dengan perusahaan asing. Agar kerjasama dapat dilihat hasilnya, minimal kerjasama dilakukan hingga empat tahun.

“Kita harus berlaku sebagai partner yang selevel. Untuk junior mereka belajar. Tapi setelah itu kita harus tampil selevel,” pungkas Prof Inge. (UNAIR)