RadarBali.com – Pengambilan gambar kawah Gunung Agung dari jarak dekat menggunakan drone atau pesawat tanpa awak kembali dilanjutkan.

Kegagalan tiga unit drone milik tim Koax Flyer Jakarta mendekati puncak digantikan tim dari Fakultas Teknik Geodesi Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta.

Ruli Andaru, 35, ketua tim drone Fakultas Teknik Geodesi UGM, mengaku terlecut dan penasaran “menaklukkan” puncak Gunung Agung menggunakan drone.

Kedatangan tim dari UGM ini atas permintaan langsung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ruli didampingi dua orang kawannya, Wahyu Widianto (profesional aeromodeling), Budi Wahyono (asisten), melakukan percobaan terbang pertama Kamis (19/10) pagi pukul 07.00.

Ruli mengambil tempat take off di Jalan Raya Desa Kubu, berjarak 11 kilometer dari puncak.

Dibandingkan drone milik tim Koax Flayer, drone milik tim UGM ini terbang lebih tinggi, mencapai 2.900 meter dari total ketinggian gunung 3.142 meter di atas permukaan laut (Mdpel).

Sementara percobaan pertama milik tim Koax Flayer hanya mampu mencapai ketinggian 1.400 meter.

“Kami sudah sampai 2.900 meter, sebenarnya kalau dipaksakan 200 meter lagi sudah sampai puncak. Tapi, karena angin sangat kencang, drone mengalami turbulensi. Pesawat kami tarik lagi,” ujar Ruli kepada Jawa Pos Radar Bali, usai menerbangkan drone.

Kabar baiknya, drone yang diberi nama Buffalo FX-79 itu sudah bisa memetakan 1.000 hektare daerah lereng Gunung Agung.

Pemetaan daerah lereng mulai dilakukan pada ketinggian 700 meter. Pemetaan daerah lereng ini diperlukan untuk membantu model pemetaan aliran lahar jika terjadi erupsi.

“Kami sudah potret dan download daerah lereng model aliran lahar,” imbuh pria yang kesehariannya berprofesi sebagai dosen Fakultas Teknik Geodesi UGM itu.

(rb/mus/san/mus/JPR)