PIH UNAIR – Tidak seorang yang mengaku tidak bangga, lega, dan bersyukur atas dioperasikannya Rumah Sakit Terapung (RST) “Ksatria Airlangga”. Itulah gambaran ekspresif yang terpancar dari raut muka para pimpinan dan alumni Universitas Airlangga yang hadir ketika karya anak bangsa, Alumni UNAIR, itu di-launching di Pelabuhan Tanjung Perak, tepatnya di dermaga Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya, Sabtu petang (11/11).

Dekan Fakultas Kedokteran Prof. Soetojo; Sekjen PP IKA-UA Dr. Budi Widajanto; Ketua IKA-UA Wilayah Jawa Timur Dr. Hendy Hendarto, Sp.OG.; dan Ketua IKA FK UA Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG., menandai launching dengan bersama-sama memencet sirene (klakson) kapal. Ratusan alumni dan undangan yang hadir pun sontak bersorak-sorai.

Bersamaan dengan itu kapal pinisi selebar 7,5 meter dan panjang 27 meter bergerak pelan meninggalkan dermaga. Tidak ke mana-mana, hanya berlayar secara simbolis untuk berkeliling di sekitar Tanjung Perak hingga Pelabuhan Gresik.

Mudatsir, nahkoda RST, petang itu menjalankan kapal tersebut dengan kecepatan 12 knot. Lalu, kapal berisi puluhan alumni dan ABK bersama RST “Ksatria Airlangga” itu kembali merapat di dermaga Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya pukul 18.30 WIB.

”Puas sekali, bahwa akhirnya Rumah Sakit Terapung Universitas Airlangga ini benar-benar bisa dioperasionalkan guna bakti sosial pelayanan kesehatan untuk masyarakat di pulau-pulau terpencil dan terluar Indonesia,” kata Dekan FK Prof. Soetojo ketika diwawancarai pers.

Hal senada disampaikan Ketua Dr. Pudjo Hartono, Sp.OG., yang juga Ketua II PP IKA-UA, bahwa ide pembuatan RST yang berawal dari para alumni FK UNAIR itu benar-benar terwujud. Ide yang berawal dari realitas tugas yang dijalani seorang alumni FK yang berdinas di kawasan kepulauan di Provinsi Maluku, Dr. Agus Haryanto, Sp.B., tersebut akhirnya bisa diperluas dan diwujudkan IKA UNAIR.

”Jadi, kapal yang kami bikin di galangan pinisi di Galesong, Sulsel, ini diprakarsai Alumni UNAIR untuk pengabdian kesehatan bagi saudara kita yang sangat membutuhkan pelayanan di wilayah pulau terpencil. Wilayah Indonesia ini luas. Mudah-mudahan model ini nanti diikuti pihak lain untuk tujuan yang sama. Yakni, membantu pemerintah dalam pemerataan pelayanan kesehatan,” kata Pudjo Hartono, ketika diwawancarai di kamar operasi RST.

Pada Sabtu pagi hingga siang (11/11) sebelum peluncuran RST, juga diadakan “Festival Alumni” di Aula FK UNAIR di kampus A. Kegiatannya berupa diskusi bertema ”Peran Alumni, Apa yang Akan Kita Lakukan Sebagai Alumni?” yang dihadiri alumni dari berbagai fakultas di UNAIR.

Hadir dalam acara itu, antara lain, Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA.; Kakanwil Kesehatan Jatim Dr. dr. Kohar Hari Santoso, Sp.An. KIC.KAP.; Ketua PERDATIN (Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia) Dr. Andi Wahyuningsih Attas, Sp.An., KIC. MARS.; Dekan FK UNAIr Prof. Soetojo; Ketua Yayasan Ksatria Medika Airlangga (YMKA) Dr. dr. Christrijogo Sumartono, Sp.An.KAR.; dr M. Adib Kumaidi SpOT (Sekjen IDI Pusat); dan ratusan alumni UNAIR lainnya.

Pada diskusi itulah, Dr. Pudjo Hartono dan Dr. Christrijogo selaku YKMA mengharap adanya partisipasi para alumni UNAIR dalam proyek sosial kemanusiaan tersebut. Hal itu disampaikan dalam forum karena biaya operasional RST “Ksatria Airlangga” mencapai Rp 4 milyar per tahun. Akan sangat berat jika hanya mengandalkan uluran partisipasi dari para alumni.

Karena itu, dalam diskusi kemarin, banyak yang menyepakati bahwa selain peran alumni sangat diperlukan, para alumni UNAIR yang tersebar di berbagai instansi dan adanya perubahaan besar untuk ikut mengupayakan dana dari program corporate social responsibility (CSR) serta donatur lainnya. Misalnya, yang disampaikan Amang Rofi’i, SH. Yakni, akan berusaha menghubungkan UNAIR dengan PT PAL untuk mendapatkan bantuan parkir (sandar) bagi kapal RST tersebut. (PIH UNAIR)