SEMARANG – Umur 52 tahun bagi sebagian orang mungkin saatnya memikirkan waktu pensiun. Namun berbeda dengan analogi tersebut, Universitas Negeri Semarang (UNNES) pada usianya yang memasuki umur 52 tahun malah berpikir untuk mengembangkan statusnya sebagai Kampus Konservasi, jauh dari kata pensiun.

Pada puncak Dies Natalis UNNES ke-52 yang diselenggarakan di Auditorium UNNES, Kamis (30/3), UNNES yang terkenal dengan 3 pilarnya, yaitu konservasi budaya, konservasi nilai dan karakter, serta konservasi lingkungan hidup memberikan penghargaan Anugerah Konservasi kepada nama-nama yang akrab terdengar di telinga kita, antara lain mantan atlet dan pelatih bulutangkis senior Indonesia Christian Hadinata, Dalang dan Bupati Tegal Ki Enthus Susmono, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Prof. Emil Salim, dan Menteri Keuangan Kabinet Kerja RI saat ini Sri Mulyani Indrawati.

Rektor UNNES Fathur Rohkman dalam laporannya mengatakan bahwa dilihat dari aktivitas konservasi, UNNES berada pada peringkat 7 Indonesia dan 95 peringkat dunia. Reputasi lain yang bisa dibanggakan UNNES berupa peringkat ke-7 PTN Favorit dengan jumlah terdaftar 30.419. Reputasi lain juga diperoleh dari teknologi informasi (TIK) berupa integrasi sistem perencanaan, keuangan, dan akuntansi, penerapan DSS melalui layanan satu jari. Bahkan, TIK telah mampu mendiseminasikan sistem ke berbagai lembaga pemerintah maupun swasta.

Reputasi UNNES dalam publikasi, jurnal dan HKI tidak kalah mentereng dari prestasi lainnya. Melalui jumlah jurnal nasional terakreditasi, UNNES, berada di peringkat ke-4 tingkat nasional. Jumlah jurnal terbitan UNNES yang terakreditasi DOAJ sebanyak 65 buah dan yang terakreditasi Kemenristekdikti sebanyak 10 dengan sitasi yang didapat UNNES adalah 24.700 kali.

Dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, UNNES sudah bisa disejajarkan dengan peguruan tinggi besar lainnya. Karena UNNES sudah masuk dalam klaster mandiri dengan luaran HKI sebanyak 37 hak cipta dan 4 hak paten serta publikasi di Scopus sebanyak 222 karya. Dibandingkan tahun sebelumnya, persentase kenaikan publikasi di Scopus mencapai 100% lebih.

“Berdasarkan prestasi yang telah dicapai, geliat sumber daya UNNES untuk membangun reputasi menunjukkan trend yang positif. Banyak berbagai unit, baik individu maupun kelompok telah memiliki budaya berkompetisi dalam rangka memberikan layanan terbaik demi kemajuan UNNES. Oleh sebab itu, tekad dan komitmen dalam tradisi berprestasi yang sudah dibangun perlu dijaga dan ditingkatkan sehingga UNNES memiliki modal kekuatan yang cukup untuk menatap hari esok dengan optimis,” ujarnya.

Selain itu UNNES juga akan memberikan nama gedung di UNNES dengan nama pasangan suami istri yang merupakan Orang Tua dari Menkeu RI Sri Mulyani Indrawati, yaitu Prof. Satmoko dan Prof. Retno Sriningsih. Fathur Rokhman berpendapat bahwa kedua tokoh itu memiliki sumbangsih besar dalam mengembangan UNNES sehingga menjadi Universitas besar seperti saat ini.

“Prof. Satmoko dinilai berjasa mengembangkan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) yang menjadi landasan perkembangan UNNES menjadi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Prof. Retno Sri Ningsih juga dinilai berjasa dalam gagasan yang berharga dalam membesarkan UNNES. Ia juga berjasa membesarkan Program Studi Doktor Manajemen Pascasarjana UNNES. Karenanya, nama Prof. Satmoko akan digunakan sebagai nama gedung Laboratorium LPTK Terpadu. Adapun nama Prof. Retno Sriningsih akan diabadikan sebagai nama gedung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), dan Kami sudah sahkan itu dengan Surat Keputusan Rektor,” jelasnya.

Kedepan menurut Fathur,
Untuk mewujudkan visi dan misi sebagaimana dicita-citakan oleh para leluhur UNNES, arah pengembangan ke depan perlu dipersiapkan dan dirancang dengan mengacu pada dokumen rencana induk pengembangan UNNES dan perkembangan global. Ke depan, UNNES memiliki target untuk mencanangkan tahun internasionalisasi dan mandiri pada tahun 2018 dan 2019.

“Karena itu, kebijakan-kebijakan yang diambil diprioritaskan pada kebijakan yang dapat mendukung target yang telah ditetapkan. Di antara kebijakan ke depan yang harus dilakukan UNNES untuk menjadi Perguruan Tinggi bereputasi internasional dan mandiri adalah akselerasi publikasi internasional, penyiapan PTN Badan Hukum, masuk +701 dalam Asia University Ranking, akreditasi program studi internasional, akselerasi jumlah Doktor dan Profesor, pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) berbasis konservasi, pengembangan Rumah Sakit Pendidikan, dan pengembangan kelembagaan berbasis laboratorium terpadu,” katanya.

Staf Ahli Menteri Bidang Relevansi dan Produktivitas Agus Puji Prasetyono yang mewakili Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan juga merupakan Ketua Dewan Pengawas UNNES katakan sudah begitu jauh UNNES memiliki prestasi yang signifikan.

Namun menurutnya ada beberapa hal juga yang harus ditingkatkan tidak hanya oleh UNNES, tetapi juga Perguruan Tinggi lain, yaitu Paten.

“Paten tidak hanya paten saja, tapi paten yang memang bermanfaat untuk orang banyak dan langsung dapat dipergunakan orang banyak, dengan demikian daya saing Indonesia pun di mata dunia akan naik,” paparnya.

Jadi wajah baru UNNES, tutur Agus Puji, yang tiap tahun berhasil meningkatkan jumlah publikasinya, patennya, akreditasinya, dosen S3nya dan Guru Besarnya, sudah bagus serta maksimal.

“Tinggal bagaimana UNNES mengembangkan inclusive innovation, sehingga antara Perguruan Tinggi dan industri ikut berkolaborasi dalam mengembangkan riset dan inovasi, bagaimana industri ikut menyerap sumber daya dan hasil inovasi dari Perguruan Tinggi dan sebaliknya,” ujarnya.

UNNES menurutnya juga sudah mengubah paradigmanya tidak hanya menganggap hasil penelitian menjadi jurnal saja, tetapi juga sudah mulai melakukan hilirisasi riset.

Dalam acara yang sangat khidmat itu hadir pula Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang didaulat untuk memberikan orasi ilmiah. UNNES juga memberikan penghargaan kepada beberapa Alumni Berprestasinya. (DZI)