Pemerintah, swasta, lembaga litbang tengah membangun sinergi pengembangan mega proyek Science Techno Park (STP) sejak pencanangannya setahun yang lalu. Program pembangunan 100 Techno Park dan 34 Science Park merupakan bentuk keseriusan pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bappenas mengungkapkan, untuk membangun 100 kawasan ini dibutuhkan dana Rp 1,5 triliun. Pelaksanaan program besar pemerintah ini dilakukan oleh kementerian dan lembaga, salah satunya Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

Besarnya peran STP dalam menunjang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat membuat negara-negara maju juga berlomba-lomba menguatkan STP di negaranya. Dalam 7th APEC PPSTI Meeting yang berlangsung di Peru pada tanggal 10-12 Mei 2016 lalu, tema STP muncul dalam dua presentasi pertemuan dua tahunan tersebut. Presentasi pertama tentang STP dibawakan oleh International Association of Science Parks and Areas of Innovation (IASP).

IASP adalah jaringan STP yang menghubungkan para profesional dalam mengelola dan menumbuhkan STP. Organisasi ini merupakan organisasi non profit yang sudah aktif sejak tahun 1984 dan memiliki 395 anggota yang tersebar di seluruh benua.  Paul Krutko, Presiden sekaligus CEO IASP dalam presentasinya mengatakan pembangunan STP di lembaga yang dipimpinnya tersebut difokuskan di daerah  tertentu yang dikelola oleh pakar profesional dengan tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan daya saing masyarakat,  melalui promosi budaya inovasi berbasis komersialisasi dan ilmu pengetahuan. Menurutnya untuk mencapai tujuan tersebut, STP harus menjadi kawasan dengan iklim yang merangsang tumbuhnya inovasi dan mengelola aliran pengetahuan dan teknologi antara universitas, lembaga litbang, perusahaan dan pasar. Krutko menambahkan IASP memfasilitasi penciptaan dan pertumbuhan perusahaan berbasis inovasi melalui proses inkubasi dan spin off, serta penyediaan layanan untuk meningkatkan daya saing lainnya.

Presentasi tentang STP lainnya dibawakan oleh Herbert Chen dari Cina, dengan judul Encouraging Entrepreneurship by University Science Parks” pada hari kedua PPSTI Meeting. Chen menceritakan keberhasilan Tsinghua University mengelola STP.

“Kunci sukses keberhasilan STP tersebut berasal dari empat pilar yaitu lokasi, sumber daya, pelayanan, dan tenant”, ujarnya di depan para peserta.

Menurutnya ke empat pilar tersebut berperan penting dalam mendukung keberhasilan Tsinghua University Science Techno Park hingga memiliki banyak tenant.

Selain itu, peran pemerintah dalam mengintervensi melalui instrumen regulasi dan kebijakan yang berpihak terhadap pengembangan start up dan industri berbasis inovasi dalam negeri merupakan dukungan nyata membentuk iklim perkembangan STP. Ministry of Research and Technology (MOST) menjadi pemeran utama dalam perencanaan dan pengembangan STP yang kemudian didukung penuh oleh aspek-aspek yang lain. Sinergi antar pihak yang terkait merupakan kunci sukses lainnya.

Dalam presentasinya, terungkap bahwa pemerintah memainkan kunci yang sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan STP di Cina. Reformasi Iptek hingga STP, kini Cina memiliki 114 STP dengan level zona teknologi tingkat tinggi.

Menanggapi kedua presentasi tersebut, Tri Sundari, Kepala Bagian Kerjasama Kementerian Ristekdikti yang mewakili Indonesia menyatakan keinginan untuk bekerjasama untuk mengembangkan STP. Seperti halnya Cina, pembangunan STP di Indonesia diyakini akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan STP tersebut menjadi salah satu bagian dari program Nawa Cita Presiden RI Joko Widodo, yaitu melakukan pembangunan ekonomi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). STP merupakan sebuah terobosan untuk mengatasi kelemahan iptek dan inovasi di Indonesia. Pembangunan STP diarahkan agar bisa berfungsi sebagai pusat pengembangan sains dan teknologi maju, pusat penumbuhan wirausaha baru di bidang teknologi maju, dan pusat layanan teknologi maju ke masyarakat.(ww/bkkp)