DENPASAR – Inovasi dari suatu Perguruan Tinggi amat penting. Menurutnya Dosen dan mahasiswa menjadi pemeran penting untuk pertumbuhan inovasi tersebut.

“Nah, saya minta PTS di sekitar Bali ini memberikan fasilitas yang baik kepada dosen dan mahasiswa, jangan satu PTS itu berikan fasilitas yang baik, PTS satunya lagi menjual ijazah atau abal-abal, ini yang justru menurunkan tingkat daya saing bangsa, jangan seperti itu,” ucap Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir di depan peserta diskusi Perguruan Tinggi Swasta sekitar Bali, Minggu (9/4) malam bertempat di Hotel Golden Tulip Denpasar.

Menurut Nasir, dilihat dari peringkat daya saing tenaga kerjanya sehingga produktivitas dan gaji/upah (pay and productivity) itu berjalan beriringan, Indonesia masih berada di peringkat ke-29 dari 138 Negara.

“Untuk level ASEAN saja Kita jauh sekali dari peringkat Singapura yang berada di peringkat ke-2 dan Malaysia di peringkat ke-6. Artinya tingkat daya saing Kita harus terus ditingkatkan, agar secara linier meningkatkan pendapatannya,” papar Nasir.

Yang menarik menurut Nasir adalah Angka Partisipasi Kasar (APK) Indonesia yang sangat aneh. Dengan jumlah Perguruan Tinggi pada angka 4.529, APK Indonesia berada pada angka 31,5% yang sudah digabung antara Kemristekdikti dengan Kementerian Agama, jauh tertinggal dari Thailand 51,2%, Singapura 82,7% bahkan Korea dengan APK 98,4%, padahal jumlah Perguruan Tingginya mungkin lebih sedikit dibanding Indonesia.

“Saya minta PTS ikut membantu APK ini. Nah mindset zaman dahulu, PTS yang salah langsung berikan hukuman, pemberi kebijakan langsung instruksikan sanksi. Memang harus tegas, tapi kali ini Kami ubah paradigmanya, sekarang diubah menjadi pendampingan. Contoh PTS akreditasi C meningkat ke akreditasi B, Kopertis harus lakukan pendampingan, sementara dari B ke A, tanggung jawab pendampingan di Ditjen Kelembagaan, tahun lalu sudah mulai berhasil, tahun ini harus meningkat,” terang Menteri yang juga Dosen Undip itu.

Nasir berpesan, untuk PTS kalau ada masalah silakan lapor kepada Kopertis masing-masing Wilayah. “Bila mentok laporannya, silakan laporkan kepada Kami di pusat lewat prosedur yang benar,” tegasnya.

Pada diskusi hangat yang di moderatori oleh Koordinator Kopertis Wilayah VIII I Nengah Dasi tersebut, turut hadir pula Dirjen Kelembagaan Iptekdikti Patdono Suwignjo dan Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe. (DZI)