#Siaran Pers Kemristekdikti
Nomor 37/SP/HM/BKKP/IV/2017

GRESIK, 28 APRIL 2017- Saat ini hampir 99% kebutuhan enzim (biokatalis) untuk industri Indonesia masih diimpor dari luar negeri seperti Cina, India Jepang dan sebagian dari Eropa. Kebutuhan enzim cenderung meningkat setiap tahun dan diperkirakan permintaan pasar global terhadap enzim meningkat sekitar 7.0% (2015 – 2020) per tahun. Konsumsi enzim industri di Indonesia sendiri diperkirakan mencapai 2500 ton dengan nilai impor sekitar 200 Milyar pada tahun 2017 dengan laju pertumbuhan volume rata-rata 5 – 7% per tahun. Suatu nilai yang cukup besar untuk mendorong upaya kemandirian dalam memproduksi enzim nasional.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir didampingi Direktur Utama PT. Petrosida Hery Widyatmoko, Kepala Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto dan Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe hari ini (Jumat, 28/4/2017) meresmikan Fasilitas Unit Produksi Enzim di Gresik, Jawa Timur. Fasilitas ini merupakan hasil kerjasama antara BPPT dan PT. Petrosida Gresik. “Enzim merupakan salah satu produk bioteknologi yang potensial , di masa mendatang akan dimanfaatkan untuk berbagai industri seperti pertanian, pangan, kertas, dan pulp pembersih, lingkungan, dan peningkatan daya guna limbah” ujar Menristekdikti dalam sambutannya.

Menristekdikti berharap dengan kehadiran Fasilitas Unit Produksi Enzim BPPT-PT.Petrosida Gresik ini dapat memenuhi kebutuhan enzim dalam negeri dan menekan impor enzim dari luar negeri. Dengan kapasitas 200 ton per tahun diharapkan unit enzim ini dapat memenuhi sekitar 10% kebutuhan enzim untuk industri dengan harga yang lebih terjangkau . Menristekdikti mendorong pembentukan konsorsium biokatalis yang mampu menghasilkan kegiatan riset dan pengembangan dalam skala industri. “ Targetnya tahun 2019 kita dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan enzim dalam negeri” pungkas Menristekdikti.

BPPT melalui Pusat Teknologi Bioindustri telah berhasil mengembangkan teknologi produksi enzim menggunakan sumberdaya hayati lokal. Pengembangan teknologi ini telah dilakukan mulai dari riset pada skala lab sampai dengan uji produksi pada skala pilot dengan kapasitas fermentor 150 dan 1500 L. Beberapa jenis enzim yang telah dikembangkan antara lain : protease dan xylanase yang telah diujiaplikasikan di industri penyamakan kulit (PT. Rajawali Tanjungsari) dan pulp & kertas (PT. Sadya Balawan). Saat ini telah dilakukan pengembangan pada skala komersial bekerjasama dengan PT. Petrosida Gresik.

Dalam rangka pembangunan unit produksi enzim, BPPT telah memberikan dukungan teknologi dalam bentuk konsultasi teknis, desain proses dan alih teknologi. Konsultasi teknis dilakukan untuk membantu PT. Petrosida Gresik dalam menyiapkan dokumen engineering design. Sedangkan transfer teknologi dilakukan dengan memberikan pelatihan mulai dari teknologi produksi hulu dan hilir enzim. Teknologi produksi hulu antara lain meliputi : persiapan starter, pekerjaan mikrobiologi sampai dengan proses fermentasi. Sedangkan proses hilir meliputi : pemisahan/separasi, pemekatan, pemurnian dan pengeringan sampai dengan pengemasan.

Untuk mendukung komersialisasi produk protease dan xilanase, PT. Petrosida Gresik telah menjalin kerjasama dengan mitra industri pengguna enzim seperti PT. Rajawali Tanjungsari untuk aplikasi protease di industri penyamakan kulit. Sedangkan enzim xilanase untuk aplikasi di industri pulp dan kertas telah dirintis kerjasamanya dengan PT. Sadya Balawan (xilanase deinking) dan PT. Green Water Chemical Technology (xilanase biobleaching). Enzim xilanase sebagai deinking dikembangkan oleh BPPT sedangkan yang berfungsi sebagai biobleaching dikembangkan oleh UNAIR. Diharapkan kerjasama ini dapat mendukung pemasaran dan pemasyarakatan produk enzim nasional. Hal ini tentunya sejalan dengan semangat PT. Petrosida Gresik yang gencar mengembangkan produk-produk berbasis bioteknologi (bio products) yang ramah lingkungan seperti bioinsektisida, probiotik ikan dan lain-lain untuk mendukung gerakan Go Green di Indonesia.

Suryo Boediono dan Nita Nurita, Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemristekdikdikti

dan Humas BPPT