Dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Silva Eliana (FKG) dan Arief Faqihudin (FT) terpilih sebagai pemenang dalam kompetisi Asia Social Innovation Award 2016 di tingkat nasional. Dengan keberhasilan tersebut keduanya berhak mewakili Indonesia dalam final kompetisi yang sama di tingkat Asia pada 16-19 Februari 2017 mendatang di West Kowloon, Hongkong.

Asia Social Innovation Award merupakan sebuah kompetisi ide bisnis start up sosial yang diselenggarakan oleh Social Ventures Hongkong. Ditujukan untuk memberikan solusi atas berbagai persoalan yang terjadi di Asia. Kompetisi ini diikuti ratusan peserta dari berbagai negara di kawasan Asia seperti Indoensia, Hongkong, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Thailand, Vietnam dan Asia lainnya.

“Nantinya kami akan berkompetisi dengan 10 pemenang lainnya perwakilan masing-masing regional,” kata Arief, senin (9/1) di Kampus UGM.

Kompetisi dimulai dengan seleksi ide bisnis sosial di tingkat regional di 11 wilayah Asia. Ide bisnis sosial terbaik dari masing-masing regional berkesempatan untuk maju ke babak final di Hongkong.

“Senang dan bangga kami bisa terpilih menerima penghargaan “Best Social Start-up Ide” di regional Indonesia dan mewakili ke tingkat internasional nantinya,” ujarnya.

Para pemenang regional nantinya akan diberikan kesempatan untuk mengasah ide dan pengembangan model bisnis melalui  pembinaan dalam lokakarya start up sosial serta pitching ide di Hongkong. Selanjutnya satu ide terbaik dari hasil pitching dipilih menjadi pemenang mendapatkan Grand Award Sosial Innovator 2017. Pemenang berhak memperoleh coaching dan masuk dalam keanggotaan di “House of Social Innovators” selama 1 tahun. Selain itu juga memperoleh uang pembinaan sebesar 9.020 USD.

“Mohon do’a dan dukungannya semoga kami bisa tampil secara maksimal dan mengharumkan nama Indonesia dan UGM di kancah global,”harapnya.

Usung Aplikasi COASS

Kedua mahasiswa UGM ini terpilih menjadi jawara regional Indoensia dengan mengusung ide bisnis sosial berupa pengembangan aplikasi bernama COASS. Aplikasi ini dapat menghubungkan mahasiswa profesi dokter gigi atau ko-asistensi (ko-ass) dengan pasien sesuai dengan kebutuhan dan jadwal perawatan keduanya.

“COASS merupakan platform yang mempertemukan kebutuhan perawatan dan jadwal yang sesuai antara pasien dan mahasiswa ko-ass,” jelas Silva.

Silva menyampaikan ide yang dikembangkan berawal dari keprihatinan mereka terhadap minimnya jumlah dokter gigi di Indonesia. Hingga kini jumlah dokter gigi belum mampu memenuhi kuota standar kesehatan yang ditetapkan oleh WHO. Menurut WHO rasio ideal  jumlah dokter gigi dengan penduduk yaitu 1:2.000. Sementara keberadaan dokter gigi dibandingkan dengan jumlah penduduk masih di bawah rasio ideal yakni 1:22.000.

“Jumlah dokter gigi di Indonesia jauh dari ideal. Bahkan diperparah persebarannya belum merata, 70 persen masih terpusat di Pulau Jawa ,” tutur Silva.

Sementara itu, setiap tahunnya hanya ada tambahan sekitar 600 dokter gigi yang berhasil  diluluskan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia.  Dengan kondisi ini diproyeksikan rasio ideal baru akan tercapai pada 2030 mendatang. Salah satu faktor yang mempengaruhi lambatnya menghasilkan lulusan dokter gigi adalah adanya keterlambatan dalam pendidikan profesi. Normalnya pendidikan profesi ditempuh dalam waktu 1,5-2 tahun. Namun kenyataannya hampir 50 persen mahasiswa menempuh pendidikan profesi lebih karena berbagai faktor.

Salah satunya dikarenakan mahasiswa ko-ass kesulitan mendapatkan profil pasien yang tepat sesuai kebutuhan atau persyaratan. Tidak hanya itu, persoalan jadwal juga turut berkontribusi dalam memperlambat pendidikan profesi ini. Kesulitan yang umum dialami adalah jadwal ko-ass yang tidak tepat dengan pemeriksaan pasien karena kegiatan pasien, sementara ko-ass dibatasi waktu. Masalah lain adalah pasien tidak memiliki cukup uang sehingga ko-ass harus membayar untuk menampung pengobatan.

“Harapannya dengan aplikasi COASS ini memberikan kemudahan bagi pasien dan mahasiswa ko-ass untuk bertemu bersama-sama. Dengan begitu mahasiswa ko-ass dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu sehingga mendukung terwujdunya rasio oideal antara dokter gigi dan penduduk di Indonesia,” paparnya.

Diihubungi secara terpisah, Kasubdit Kreativitas Mahasiswa Direktorat Kemahasiswaan UGM, Ahmad Agus Setiawan, Ph.D., mengaku bangga atas capaian yang diraih Silva dan Arief. Keduanya telah membuktikan bahwa ide inovatif yang diusung sangat bagus dan lolos di regional Indonesia untuk maju ke level internasional di Hongkong.

“Sebuah langkah maju bagi mahasiswa kita dan sekaligus pembuka jalan tahun 2017 yang kami tetapkan sebagai  tahun internasionalisasi kreativitas mahasiswa UGM ,” ungkapnya.

Agus berharap keduanya dapat mencapai kesuksesan di final kompetisi Asia Social Innovation award 2017 mendatang. Guna menyiapkan mereka, UGM melalui Direktorat Kemahasiswaan UGM memberikan pendampingan dan pelatihan serta dukungan pembiayaan.

“Semoga tim mahasiswa ini bisa berhasil dan membanggakan bangsa dan universitas,” tuturnya. (Humas UGM/Ika)